www.kompas.co.id
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
66
kata:
900
Diterbitkan di: Februari 19, 2008
Akhir-akhir ini ada dua mobil terjun dari tempat
parkir bertingkat, kebetulan kedua mobil itu berpersneling otomatik. Tidak
heran jika kemudian muncul pertanyaan, apakah mengendarai mobil dengan
persneling otomatik lebih berbahaya daripada mengemudikan mobil dengan
persneling manual ? Pada mobil dengan persneling otomatik,
dalam keadaan idle (pedal gas tidak diinjak) gas sudah cukup besar
sehingga apabila tangkai persneling diletakkan di D (drive), mobil
sudah akan melaju. Itu sebabnya, sebagai pengaman, mesin tidak dapat dihidupkan
jika pedal rem tidak diinjak. Pedal rem harus tetap diinjak setelah mesin
hidup. Sebab, jika tidak, tangkai persneling tidak dapat dipindahkan dari huruf
P (parking) ke huruf D. Setelah mobil melaju, konsentrasi pengendara
terpusat pada setir dan rem. Ia sama sekali tidak perlu menginjak pedal kopling
dan melepaskan injakannya saat menaikkan atau menurunkan gigi persneling
seperti orang yang mengendarai mobil dengan persneling manual. Sedangkan
pengendara yang sudah mahir mengemudikan mobil dengan persneling manual, ketika
mengendarai mobil dengan persneling otomatik mungkin sedikit lebih repot. Ia
harus membiasakan diri untuk tidak menggunakan atau mengistirahatkan kaki
kirinya. Mengingat pada mobil dengan persneling manual, pengendara menggunakan
kaki kanan untuk menginjak pedal gas atau pedal rem, sedangkan kaki kiri
digunakan untuk menginjak dan melepaskan pedal kopling. Akibatnya, pada tahap
awal, tidak jarang pengendara akan menginjak rem dengan kaki kiri.
Fungsi huruf dan angka
Pada mobil dengan persneling otomatik, untuk
maju, pengendara tinggal memindahkan tangkai persneling ke huruf D, mundur
huruf R (reverse), netral (N), dan untuk parking (P). Di luar
keempat huruf itu ada pula angka 3, 2, 1 atau L, atau hanya 2, 1 atau L
(tergantung merek mobilnya). Atau huruf S (Sport) apabila pengendara
menginginkan performa sport, di mana putaran mesin per menit menjadi lebih
tinggi. Angka-angka itu diperlukan pada saat ingin mengurangi kecepatan dengan
mesin (engine brake) saat melaju di turunan. Pada saat dirasakan mobil
melaju terlalu cepat di turunan, maka tangkai persneling tinggal dipindahkan ke
angka 2 (sama dengan gigi persneling 2 pada mobil dengan persneling manual).
Bahkan kalau perlu pindahkan ke angka 1 jika turunan itu sangat curam. Angka 2
dan 1 juga digunakan pada saat mobil memerlukan tenaga besar, tetapi tetap
melaju perlahan di jalan tanah atau kondisinya agak berlumpur.
Sebaiknya, pengendara tahu torsi maksimum mesin
mobilnya dicapai pada putaran mesin berapa? Umumnya, torsi maksimum mesin mobil
dicapai pada 4.000 rpm. Karena itu, menjaga putaran mesin pada 4.000 rpm adalah
cara terbaik saat menanjak. Ini juga berlaku bagi mobil dengan persneling
manual. Namun, jika tidak mau repot, bisa juga tuas persneling dipindahkan dari
D ke angka 3 atau 2. Dan, setelah kecepatan bertambah tinggi, tangkai
persneling dikembalikan ke huruf D. Pada mobil dengan persneling otomatik yang
dilengkapi tiptronic, termasuk Honda Jazz dan Honda City, segalanya
lebih mudah. Mengingat pengendara dimungkinkan untuk menaikkan atau menurunkan
gigi persneling secara manual tanpa kehadiran pedal kopling. Bahkan, pada kedua
mobil tersebut gigi, persneling juga dapat dinaikkan dan diturunkan melalui
tombol-tombol yang terdapat di setir. Pada mobil yang dilengkapi tiptronic,
tidak ada angka 3, 2, 1 atau L di dekat tangkai persneling, atau di setir (pada
merek tertentu), yang ada hanya tanda plus (+) dan minus (-).
Bisa dinetralkan
Di Indonesia, pada saat areal parkir sudah penuh,
sering kali petugas parkir akan meminta mobil diparkir sejajar di belakang
mobil-mobil yang diparkir vertikal. Dengan demikian, petugas parkir akan
meminta agar persneling mobil dinetralkan (N) dan minta rem tangan tidak
ditarik sehingga mobil dapat didorong ke depan atau ke belakang apabila ada
mobil yang diparkir vertikal akan keluar. Namun, masalah itu kini telah
diata