Tanah Longsor di Cikangkareng, duka daerah terpencil Gempa Bumi yang melanda Pulau Jawa pada Rabu 2
September 2009 lalu menyisakan penderitaan yang mendalam. Selain banyak korban jiwa, tak sedikit orang yang kehilangan tempat tinggalnya. Sudah sepatutnya kita membantu meringankan beban dan penderitaan para korban yang tertimpa musibah.
Akibat gempa Tasikmalaya, 2 September 2009, desa yang dikelilingi oleh tebing terjal itu ikut terkena dampaknya. Sebuah dusun bernama Babakan Caringin, tertimpa reruntuhan tebing batu akibat getaran gempa. Tanah longsor yang terjadi pada pukul 15.10 itu langsung mengubur 72 jiwa yang saat itu sedang ramai beraktifitas menunggu waktu berbuka puasa. Pencarian korban selama seminggu telah dihentikan. Tiga puluh jenazah telah ditemukan dan sisanya direlakan kepergiannya.
Saya bersama teman – teman yang tergabung dalam Perhmipunan Pecinta Alam Trupala Jakarta mengirimkan dua tim untuk membantu para korban tanah longsor di desa Cikangkareng. Setelah Tim pertama datang ke tempat kejadian pada tanggal 4 – 6 September, giliran saya bersama 6 rekan saya untuk menyalurkan bantuan logistik dan uang yang telah terkumpul di Jakarta.
Sabtu, 12 September 2009, Pukul 01.00 kami berangkat menggunakan 2 mobil, dari Jakarta menuju desa Cikangkareng Kecamatan Cibinong Kabupaten Cianjur. Menggunakan 2 mobil, Butuh waktu 4 jam untuk mencapainya dari arah kota Cianjur. Jalan menuju desa ini selain berliku – liku, juga melewati turunan curam dipinggiran tebing batu yang juga rawan longsor. Akhirnya setelah menyusuri jalan berbukit – bukit, pukul 08.00 kami sampai di lokasi kejadian. Desa Cikangkanreng memang terpencil. Desa ini berada dilembah yang dalam.
Saat menyusuri jalan Desa pagi itu, suasana sungguh tenang. Di beberapa titik banyak sekumpulan tenda – tenda, baik sebagai posko bantuan maupun posko pengungsi. Suasana posko pengusian tidak terlalu ramai. Di sana sini, terpasang spanduk dan bendera baik dari partai politik, LSM maupun stasiun TV. Di salah satu tenda, barang – barang bantuan bertumpuk- tumpuk diawasi beberapa petugas. Di berbagai sudut, tenda toilet darurat didirikan.
Saya mencari keluarga Samsudin yang rumahnya telah menjadi tempat menginap untuk tim pertama. Di salah satu tenda pengungsi kami bertemu dengan istri Bapak Samsudin yang kebetulan juga akan pulang ke rumah. Saya mengikuti beliau sambil melelewati pematang sawah yang kering. Bapak Samsudin tingal di Dusun Joglo. Di dusun banyak rumah rusak berat akibat gempa dan tanah longsor. Sedikit ke arah utara, Dusun Babakan Caringin telah terkubur akibat longsoran bebatuan. Yang kini terlihat hanya tumpukan batu – batu besar yang mengubur puluhan orang, terutama orang tua, wanita dan anak – anak.
Rumah Samsudin tergolong rumah yang bagus dan luas. Temboknya hanya retak – retak di beberapa sisi. Tetangga Pak Samsudin ada yang temboknya hancur di satu sisi. Tampaknya jenis batu temboknya yang membuatnya gampang rapuh sehingga hancur. Selain rumah, Langgar Al Barokah yang merupakan bagian dari Pesantren Asya’adah juga rusak berat akibat gempa.
Di rumah Pak Samsudin inilah, saya berkoordinasi dengan ketua RT setempat, Bapak Oyim. Saya dan teman – teman mempercayakan mereka untuk membagikan barang – barang bantuan yang kami bawa. Kami juga memberikan sumbangan uang untuk membantu pembangunan gedung pesantren yang hancur akibat gempa.
Beban kedukaan dan trauma juga masih menyisakan bagi para penduduk yang kehilangan anggota kelaurga dan saudaranya. Dari penduduk dusun Babakan Caringin, empat kepala keluarga yang masih hidup kehilangan anak dan istrinya. Sebuah musibah yang sulit untuk dilalui apalagi dilupakan. Pak Munajat, Lurah Cikangkareng, , menyarankan agar bantuan lebih ditujukan kepada warga yang kehilangan harta dan nyawa anggota keluarganya. Pak Munajat kebetulan hadir dan menjadi saksi pemberian bantuan.
Melihat keadaan rumah penduduk serta posko pengungsian, rasanya mereka telah mendapat bantuan logistik yang cukup. Yang menjadi persoalan sekarang adalah rehabilitasi pasca gempa. Dusun Joglo yang hanya mengalami rusak rumah tidak menyebabkan penduduknya merasa aman. Mereka takut akan longsoran susulan dan minta direlokasi di daerah perbukitan. Rasanya posko pengungsian masih lama akan ditempati setelah Lebaran nanti.
Melihat akses masuk yang harus melewati jalanan curam dengan tebing – tebing terjal, rasanya pekerjaan rumah untuk penduduk dan pemerintah setempat masih banyak. Relokasi penduduk dan resiko tanah longsor susulan akibat musim hujan yang akan datang, masih akan menjadi persoalan dan ancaman. ( Ignatius Ferry)