• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Teknologi & Internet>Hawa PENCARI CINTA HAKIKI

.

Hawa PENCARI CINTA HAKIKI

oleh : soerrich     

Pengarang : Hamba Allah
MENCARI CINTA HAQIQI
Semasa SD aku sudah mengenal cinta. Entah bagaimana perasaan kenal itu? Tapi yang aku tau dari
teman-teman kecilku, cinta itu adalah milik orang-orang yang berpacaran. Karenanyalah mereka menjodoh-jodohkan aku dengan teman lelaki yang sebaya dan dianggap serasi. Termasuk aku yang akhirnya dipasangkan dengan seorang anak bernama “Hen”. Sepertinya itu yang dikatakan masa-masa cinta monyet.
Untung saja Alloh menolongku. Aku tidak sampai mengalami “Pacaran SD” hingga aku lulus dan masuk SMP. Apalagi aku hanya murid satu-satuanya yang masuk ke SMP kota, menjadikanku jarang kembali bergaul dengan teman-teman SD-ku. Lalu bertemulah aku dengan teman-teman baru yang ternyata tidak lebih baik dari teman-teman SD-ku. Jadilah masa SMP menjadi masa nakal-nakalnya aku.Aku dan teman-teman dekatku yang perempuan punya hobi baru yang kami sebut “Ngecengi cowok”. Aturannya kita harus punya satu sasaran teman laki-laki yang jadi target dan dijadikan pacar kita, atau paling tidak jadi teman dekat.
Saat itu standar pilihan dalam memilih cowok bagiku yang wajib dipenuhi adalah fisiknya yang oke.Untung Alloh menolongku sekali lagi. Karena aku bukan termasuk anak yang terlalu agresif, bukannya pujaan hati yang didapat malah kejatuhan sakit hati melihat dia pacaran dengan orang lain. Kasihan deh aku…Tapi sekarang kupikir, alangkah baiknya Alloh padaku yang memberi sedikit kepahitan tapi menghindarkan dari marabahaya yang lebih besar.
Tak hanya itu, di awal SMA rasa penasaranku terhadap cinta semakin menjadi-jadi dan mulai berani. Aku seperti gadis dengan mata liar yang siap menerkam mangsa. Sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan cinta yang haqiqi.Dimanakah aku bisa mendapatkannya? Aku ingin diperhatikan, bukan perhatian seperti perhatian Bapak. Aku ingin disayangi, bukan kasih sayang seperti yang diberikan Ibu. Aku ingin dimanja, bukan seperti kakakku yang sering memanjakanku.Lebih dari itu semua. Hingga aku temukan jawaban konyol tanpa berpikir ke depan dan kebelakang. Aku harus mencari pacar! Siapapun itu asal aku tertarik.
Berikutnya, jadilah kakak kelasku di SMA jadi sasaran berikutnya. Saat aku mengenalnya, dia adalah laki-laki yang baik, dan satu lagi yang penting, dia tampan! Kami mengikuti satu organisasi ekstrakulikuler yang sama. Tapi anehnya ditengah kebaikannya dia seolah menghindar saat kudekati. Aku semakin penasaran dan mulai menggantungkan hati padanya. Padahal kini kupahami bahwa Alloh tidak berhak disekutukan sebagai tempat bergantungnya hati.Kebaikan dan ketampanannya itu ternyata bukanlah cermin kepribadiannya. Kusadari kebodohanku setelah mendengar bahwa dia menyukai gadis lain yang ternyata temanku sendiri dan kulihat dia berpacaran dengangadis pujaanya itu.
Hari-hariku setelah itu bagai badai di hujan deras, guntur di siang hari.Aku merasa tertekan, dunia terasa sesak. Aku mulai lelah dengan petualanganku mencari cinta. Bahkan aku sempat sangat membenci kakak kelasku yang kuanggap menghianatiku itu. Padahal akau tau kami sama sekali tidak pernah berhubungan dekat.
Ditengah keadaanku yang seperti itu, ada seorang teman perempuan yang mulai dekat denganku. Dia adalah teman satu SMA tapi lain kelas.Kami mulai dekat saat shalat tarawih bersama di bulan Ramadhan kala itu. Aku tertarik bergaul dengannya karena dia begitu lembut, baik, santun dan dia juga humoris. Seringkali aku tersenyum jika bersamanya. Dia juga memakai jilbab lebar tidak seperti jilbab yang dipakai oleh teman-temanku lainnya yang masih menonjolkan lekuk tubuhnya. Suatu saat dia mengajakku ke kajian kemuslimahan yang diadakan tiap hari Jum,at pulang sekolah. Awalnya aku malu-malu karena saat itu aku masih belum menutup kepala, tangan dan kakiku dengan pakaian sepertinya. Namun kupikir lagi, barangkali sakit hatiku akan hilang dan setidaknya perlahan berkurang dengan datang ke kajian itu. Akhirnya kuputuskan melangkahkan kakiku ke masjid sekolah untuk mengikuti kajian sebagai tempat pelarian sedihku.
Baru beberapa kali aku mengikuti kajian, aku telah merasakan suatu kebahagiaan, kepuasan batin yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku seperti seorang pengembara di padang pasir yang kehausan dan telah menemukan telaga dengan berlimpah air. Ditambah lagi kehangatan, senyuman dari ustadzah yang sabar membimbing adik-adiknya.Begitu juga dengan Islam. Agama yang selama ini kupeluk sejak lahir, yang aku tidak paham maknanya, yang selama ini kukira hanya sebagai alat untuk masuk surga, yang tidak perlu dicari ilmunya, yang cukup dari pembelajaran di sekolah saja.
Aku mulai belajar Islam seolah dari nol. Aku juga mulai mengenal manhaj Salaf, belajar aqidah, tauhid, sunnah, akhlak, dan lainnya dengan dibantu oleh teman akhwatku yang telah mengenal lebih dahulu.
Hingga kini aku berada di bangku kuliah, Alloh menguji keimananku.Tapi sekarang meskipun aku telah berjilbab lebar, dan berusaha untuk godhul bashor, ada saja laki-laki yang iseng atau entah apa berusaha menarik perhatianku.Laki-laki tersebut secara fisik masuk kriteria seperti yang aku idam-idamkan dulu. Dia tampan! Tapi hati kecilku kini berkata “tidak”. Aku tidak ingin terjerumus lagi ke jurang yang sama.
Di tengah ikhtilat yang berlaku di kampusku aku sadar sangat sulit untuk menghindari maksiatnya mata. Tapi aku harus tetap menjaga diri dan hati. Karena aku sadar cinta yang haqiqi adalah cinta untuk Alloh dan karena Alloh.
Kelak aku ingin mencintai lawan jenis yang bukan mahrom hanya untuk suamiku.Bukan hanya karena ketampanannya semata. Kini aku hanya bisa mempersiapkan diri menyongsongnya sekaligus berharap-harap cemas, bertawakal kepada Alloh agar bisa mendapatkan yang terbaik untuk agamaku, diriku, keluargaku, dunia dan akhiratku. Semoga Alloh memudahkan.
Diterbitkan di: Juni 24, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.