Suami Tak Akur Dengan Keluarga
Harus Memihak Siapa?
Keterikatan hubungan yang erat dalam keluarga kerap membuat orang merasa bingung untuk memilih pihak mana yang harus dibela. Dalam kasus Tuti misalnya, ia kelihatan lebih berpihak kepada abangnya. Status Gatot sebagai kakak satu-satunya membuat Tuti sebagai adik rikuh untuk menolak. Kondisi serupa ini umum terjadi pada mereka yang dilahirkan dalam keluarga dengan ikatan kekeluargaan yang sangat dekat. Setelah menikah, si istri masih belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari keluarga besarnya. Ia tidak menyadari bahwa setelah menikah dirinya telah menjadi bagian dari keluarga lain yang dibinanya bersama suami.
Konflik antara suami dengan keluarga istri bisa diawali dari intervensi anggota keluarga besar. Ambil contoh konflik yang terjadi karena keluarga besar istri terlalu banyak menuntut bantuan materi. Dalam kondisi seperti ini seorang istri sebaiknya bersikap bijaksana. Bila suami merasa keberatan dan alasannya bisa dipahami dan masuk di akal, maka istri harus bisa menolak dengan tegas kepada keluarga besarnya. Tentu saja dengan cara-cara yang santun. “Jelaskan batasan-batasan yang harus dipatuhi bersama. Mungkin bisa diusulkan untuk membagi tugas dan bantuan materi dengan anggota keluarga lain. ”
Karena berbagai faktor, tak semua istri sanggup menyatakan “tidak” kepada keluarga besarnya. Misalnya si istri mungkin terlalu tunduk pada aturan keluarga besarnya, atau sejak dulu ia tergolong anggota keluarga yang tidak punya suara. Keengganan menolak mungkin pula diakibatkan oleh sifat si istri yang terlalu sensitif. Misalnya ia tidak tahan menghadapi komentar negatif dari keluarga besarnya.
Pepatah yang mengatakan “Darah lebih kental daripada air” membuat ada sebagian istri merasa lebih aman membela keluarga besar, daripada suaminya. Biasanya mereka beranggapan apa pun yang terjadi, keluarga besar tidak akan pernah meninggalkannya, Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada pasangan suami istri yang ikatan hubungannya kurang kokoh, atau pada istri yang keterikatan hubungannya dengan keluarga terlalu dekat.
Bagaimana Bersikap?
Solusi yang harus diambil tentu bergantung pada permasalahannya. Dalam kasus yang dialami Ratna, kemarahan Dedi sangat bisa dipahami. Tindak pidana yang dilakukan Anto sudah sewajarnya diselesaikan lewat jalur hukum. Ratna sebetulnya bisa memanfaatkan pengalamannya sebagai anggota keluarga untuk menjadi penengah dalam perselisihan ini. Misalnya jika ibunya lebih mudah diajak bicara, Ratna dapat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dan meminta ibunya menjelaskan kepada anggota keluarga yang lain. Jika emosi sudah mereda, Ratna bisa berinisiatif mengatur pertemuan antara suami dan anggota keluarga besarnya, agar perdamaian dapat tercapai.
Dalam kasus Tuti, sikapnya yang lebih memihak abangnya justru memicu konflik. “Suami istri sebaiknya terbuka dalam segala hal. Berikan informasi mengenai siapa dan bagaimana keluarga besarnya. Jadi begitu timbul masalah, tidak akan ditanggapi secara emosional.”
Lebih Baik Dicegah !
Belajar dari kasus yang dialami oleh Ratih, Lies Karyadi menganjurkan pada para istri untuk bersikap hati-hati dan bijaksana. Perselisihan antara suami dan keluarga besar istri sebenarnya bisa dicegah sejak awal. “Jika sudah tahu kalau sifat salah satu anggota keluarga tidak jujur, jangan meminta suami mempekerjakan atau berbisnis dengannya. Biasanya hal-hal semacam ini justru menimbulkan konflik dan kerugian secara materi, ” katanya menyarankan.
Sikap yang tak kalah penting adalah dewasa dalam menanggapi perselisihan. Cari akar permasalahannya. Bila mungkin ajak suami untuk bersama-sama mencari solusi yang dapat memperbaiki hubungan. “Kekompakan dan sikap dewasa memegang peranan yang sangat penting bagi seorang istri dalam menyikapi perselisihan antara suami dengan keluarga besarnya. Ia harus aktif dan sabar dalam mengupayakan solusi. Memang diperlukan kesabaran, karena adakalanya diperlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan win win solution!”.
Ringkasan lain tentang Konflik Suami Dan Keluarga Istri