Tahun Baru Imlek Dengan Mitos dan Ritual di Dalamnya
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
31
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 08, 2008
Tahun Baru Imlek 2559 tahun ini tiba di tanggal 7
Februari 2008. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari
sistem kalender yang dipakai oleh orang Tionghoa. Imlek merupakan sistem kalender
lunisolar yaitu gabungan dari sistem kalender bulan dan kalender matahari.
Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Tahun Baru China
dan Festival Musim Semi (Chun jie). Perayaan tahun baru ini tentunya
tidak bisa lepas dari segala mitos dan ritual yang melekat kuat di dalamnya.
Segala rangkaian prosesi perayaan Tahun Baru
Imlek ini dimulai dengan suatu ritual yang dinamakan Cap Ji Gwee Jie Shie
(tanggal 24 bulan ke-12 Imlek), yang jatuh pada hari Rabu 30 Januari 2008.
Ditandai dengan penyalaan puluhan hio (dupa bergagang) berketinggian
tiga meter di klenteng-klenteng. Bagi yang tidak mampu membeli itu, pelaksanaan
sembahyang cukup dengan hio biasa, lilin kecil, minyak nabati, serta sesaji
buah-buahan, kue serba manis, dan pembakaran hu (kertas merang bergambar
kuda terbang). Ritual ini juga sering disebut dengan Shang Sheng. Shang
Sheng merupakan salah satu dari rangkaian ritual keagamaan pemeluk agama
Khong Hu Cu, meski kemeriahannya tak semencolok pada Malam Tahun Baru Imlek,
dan Cap Go Mee atau hari ke-15 Tahun Baru Imlek.
Rangkaian kegiatan menyambut tahun baru Imlek
dimulai dengan sembahyang syukuran tutup tahun imlek 2558 atau Sam Sip Pu
mulai 6 Februari mulai pagi hingga malam. Acara persembahyangan Tahun Baru
sendiri, dimulai menjelang tengah malam hingga besok paginya. Biasanya pada
malam sebelum tahun baru atau Chu Si Ye, seluruh anggota keluarga harus
kumpul bersama dan makan Thuan Yen Fan (makan malam sekeluarga). Jika
ada keluarga yang tidak sempat atau berhalangan untuk pulang ke rumah, di meja
akan disiapkan mangkok dan sepasang sumpit yang mewakili yang tidak sempat
datang tadi.
Pada hari pertama Sin Nien atau tahun
baru, pertama yang akan dilakukan adalah sembahyang pada leluhur bagi yang ada
altar di rumah. Bagi yang tidak punya altar, akan ke klenteng terdekat untuk
sembahyang mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan)
sepanjang tahun. Setelah itu memberikan hormat kepada kedua orang tuanya,
saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat. Pada hari kedua tahun baru
adalah saatnya hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Hari ini bagi
wanita yang sudah menikah akan pulang ke rumah ibunya dengan membawa Teng Lu
yang merupakan bingkisan atau angpao (kantong merah kecil yang berisi uang)
untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi Angpao atau Hung pau juga
diberikan kepada anak-anak dan orang tua. Pada hari ketiga, mereka lebih banyak
tinggal di rumah, tidak banyak melakukan perjalanan dan aktivitas. Pada hari
keempat adalah hari menyambut para dewa untuk kembali ke bumi. Konon menurut
kepercayaan Dewa Dapur (Co Kun Kong) dan para dewa dari langit akan
kembali ke Bumi. Pada hari kedatangan kembali para dewa-dewi itu, khususnya
Dewa Dapur, akan disambut bunyi-bunyian antara lain dengan kentongan. Warga
Tionghoa biasanya ke klenteng untuk Hi Fuk atau memohon kepada dewa
untuk mendapatkan perlindungan dan rejeki. Sesaji yang dibawa biasanya berupa
buah-buahan juga ciu cha (arak) dan teh.
Dihitung dari Shang Sheng, rangkaian
persembahyangan menjelang dan sesudah Tahun Baru Imlek meliputi 21 hari. Bagi
orang yang masih kental merayakannya secara lengkap, tiga pekan itu adalah
saat-saat penuh makna bagi perawatan batin. Mereka berdoa, mawas diri,
bersedekah, mohon pengampunan, berterima kasih kepada Thien (Tuhan),
leluhur, orang tua dan orang-orang yang dituakan, dan mohon pertolongan kepada
Tuhan dan para dewa agar sehat, selamat dan sejahtera di tahun yang baru.
Kebiasaan merayakan Imlek memang tidak harus dilakukan dalam pesta atau
perayaan yang berlebihan. Yang paling penting adalah pergi ke Vihara, berdoa
menghaturkan kasih dan persembahan ke Tuhan dan leluhur. Juga tidak lupa
bersedekah. Prinsip di sini yaitu adat dijalankan, soal pesta nomor dua.