Isu pemanasan global (global
warming) yang kini gencar didengungkan membuat para produsen fesyen putar otak
untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan.
Seperti yang dilakukan oleh
Nurul Sadina, 20, dari Industri Teknologi Bandung (ITB) yang tertarik untuk
mempopulerkan kembali tenun dari
serat alam. Adapun serat nabati seperti serat
jagung, nanas, enceng gondok, daun kelapa, lidah mertua, rami, dicoba untuk
diaplikasikan di atas bahan semisal sutera
dan nilon. Pembentukan dari material
mentah menjadi
benang siap pakai memerlukan suatu
proses yang dinamakan
pembusukan atau bisa juga dengan dekortifikasi. Caranya memang terbilang cukup
mudah, daun atau batang direndam di dalam air. Daun dan batang tadi akan
membusuk dengan sendirinya dan luruh serta terbuka sehingga terlihat
serat-seratnya untuk kemudian diambil helai demi helai.
Pilihan lainnya yaitu dengan proses dekortifikasi. Dalam proses ini mesin
digunakan untuk mendapatkan serat benang yang diinginkan. Waktu yang dibutuhkan
pun terbilang cepat. Dari dua macam proses ini bisa didapatkan benang yang
sangat halus ataupun kasar, semua ini tergantung dari hasil akhir yang ingin
dicapai. Cara menenunnya pun sama saja dengan menenun biasa dengan benang pada
umumnya. Dengan alat seperti gedok, tabelum ataupun inkelum, serat
alam dapat
diproses menjadi barang jadi siap pakai.
Ringkasan lain tentang Serat Alam Ramah Lingkungan