KEMISKINAN yang menyebabkan
tekanan hidup serta keimanan
seseorang tidak berkorelasi mutlak yang memicu
seseorang melakukan
bunuh diri. Begitu pendapat psikolog Sartono Mukadis
menanggapi
kasus-kasus bunuh diri di Jakarta, yang antara lain dilakukan oleh
Agus Riyanto (30), kurir yang melakukan gantung diri karena diduga stres
terjerat utang Rp 3 juta,
dan terancam
Di-PHK. Sartono mengatakan, penyebab
kasus bunuh diri pada setiap orang tidak serta-merta berdiri sendiri.
Menurutnya, faktor kemiskinan atau tekanan hidup serta keimanan seseorang tidak
berkorelasi mutlak yang memicu seseorang melakukan bunuh diri. "Kesulitan
hidup beserta tekanannya hanya memicu stres dan depresi pada orang tersebut.
Stres dan depresi pada setiap orang akan selalu ada dan hal yang biasa selama
dalam taraf yang wajar dan sehat," tutur psikolog senior itu, " yang
menjadi masalah adalah berkepanjangannya stres dan depresi itu."
Pada kasus Agus, Sartono melihat kemiskinan orang
tersebut bukanlah faktor utama pemicu stres yang menyebabkan bunuh diri. Ia
menjelaskan, kesenjangan ekonomi dan perbedaan kelas yang dijadikan pembanding
oleh seseorang itulah yang sangat mungkin menjadi penyebab utama untuk bunuh
diri. "Kalau dia merasa miskin, tapi semua orang juga miskin, ia tak akan
bunuh diri. Tapi karena perbedaan yang sangat jelas dan menyakitkan itulah yang
menjadi penyebabnya," kata Sartono, Selasa. Budaya ngerumpi atau sekadar
nongkrong untuk ngobrol ngalor-ngidul di perkampungan padat di pelosok Jakarta,
lanjutnya, dapat meminimalkan seseorang untuk melakukan bunuh diri. "Memang
kelihatannya norak. Tapi ngobrol di pojok-pojok jalan atau ujung-ujung gang
atau kedai tertentu di perkampungan, sebenarnya sangat ampuh menjadi obat
penghilang depresi berat yang mengarah ke bunuh diri," ujarnya.
Sartono menjelaskan, ciri-ciri orang yang
mengalami tekanan hebat atau stres berkepanjangan dapat dilihat dari sikap
orang tersebut secara mendalam oleh keluarga atau orang sekitar. "Orang
yang stres berat itu otomatis akan menjadi introvert atau tertutup serta tak
memedulikan keadaan dirinya serta lingkungan dan orang sekitar. Kalau ini
dibiarkan, memang fatal dan bisa mengarah ke bunuh diri," katanya. Menurut
Sartono, cara ampuh lainnya menghindarkan orang yang mengalami stres berat agar
tidak bunuh diri adalah mengajaknya bicara. "Walaupun diajak bicara orang
itu diam saja, jangan berhenti. Ajak terus ia bicara sambil menawarkan sesuatu
atau mengajak melakukan aktivitas tertentu. Ini bisa dilakukan oleh orang
terdekat atau keluarga," katanya. Untuk menanggulangi kasus-kasus
bunuh diri seperti ini, keluarga dan orang sekitar sebenarnya mesti tanggap
melihat gelagat dan sikap yang berbeda dari orang tersebut. "Sebab pada
beberapa orang perbedaan sikap dan keanehan sikap orang tersebut hanya dapat
dirasakan dan dilihat oleh orang terdekat atau keluarga," katanya
Ringkasan lain tentang Biang Bunuh Diri: Miskin Harta, Miskin Iman ?