Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > Harga Kedelai Naik, Pedagang Gorengan Bunuh Diri

.

Harga Kedelai Naik, Pedagang Gorengan Bunuh Diri

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Teguh Vedder
Summary by : tedifa
Kunjungan : 128  kata: 600   Diterbitkan di: Januari 24, 2008
Hakim memasukan kedelai ke dalam
mesin penggiling di rumah industri tahu milik H Nurhamid di Jalan Manggis,
Kecamatan landasan Ulin, Banjarbaru, Kalsel. Dia masih menggunakan bahan baku
kedelai dari Amerika, yang kini harganya berangsur naik hingga mencapai Rp
8.000 per kilogram. Tragis. Gara-gara didera krisis harga kedelai yang
terus membubung, seorang pedagang gorengan memilih mengakhiri hidupnya dengan
jalan bunuh diri. Harga mendera, nyawa bayarannya, demikian kredo
yang, boleh jadi, dianut Slamet (45), pedagang gorengan yang bunuh diri itu.

Ia sehari-hari bekerja sebagai pedagang gorengan
di Pasar Badak, tepatnya di tepi Jalan Raya A Yani, di Kampung Cidemang,
Kelurahan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Sebagai seorang "persona", Slamet bunuh
diri karena kebijakan soal kedelai yang dianggap absurd. Sedemikian absurd,
sampai-sampai ia mengakhiri hidup. Sebaliknya, seorang ibu pembuat tahu di
Gunung Sulah, Bandar Lampung tampak terus menggoreng tahu sayur. Dengan
mengenakan pakaian yang biasa digunakan sehari-hari, daster dan rambut yang
diikat ke belakang, ia memegang alat penggorengan sambil terus membalik puluhan
tahu dalam wajan yang berisi minyak goreng panas. Ibu itu tampil mewakili
puluhan perajin tahu di sentra tahu Gunung Sulah atau Kampung Sawah Brebes,
Bandar Lampung, yang kini dilanda kekhawatiran bahwa tahu yang mereka hasilkan
tidak laku.

Tapi, mereka jelas terus melafalkan kata-kata
bermakna; memberontak untuk mempertahankan hidup, dengan cinta. Dia melakukan
hal-hal yang terbilang "kecil" di mata warga perkotaan, untuk
menyebut pekerjaan menggoreng tahu, namun jelas terekam dalam kamera. Meski
begitu, dia melakukan pekerjaan dengan penuh cinta.

Ketika seorang ekonom  di Jakarta berkata
bahwa kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor kedelai menjadi 0 persen
merupakan kebijakan absurd karena tidak mempunyai efek apa pun terhadap harga
dan kelangkaan kedelai saat ini, justru seorang pekerja di industri kecil tempe
Arema, Jalan Jakarta, Bandung, terus mengaduk kedelai yang dicampur ragi untuk
terus memproduksi tempe. Bagi pekerja di industri tempe itu, meski absurd, dia
terus berusaha, dan dia ada karena Pencipta adalah oase cinta yang tidak
terkira bagi mereka yang dahaga di tengah ziarah kehidupan yang
melelahkan. 

Ringkasan lain tentang Harga Kedelai Naik, Pedagang Gorengan Bunuh Diri
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------