Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Teori & Kritik>Telanjang : Porno Atau Gila ?

Telanjang : Porno Atau Gila ?

oleh: waspbook     Pengarang : http://www.waspbook.co.cc
ª
 
Dalam dunia internet, salah satu kata yang paling sering digunakan untuk melakukan pencarian / browsing adalah kata ‘ telanjang ‘.
Tidak mengherankan memang, karena konon topik berita yang paling diminati, disamping topik ‘ skandal ‘, ‘ misteri ‘ juga adalah topik tentang ‘ seks ‘ yang dalam konotasi paling ringan adalah’ ketelanjangan ‘.

Coba saja lakukan survey atau sedikitnya tengok pada warnet-warnet yang mayoritas pengunjung dan pemakai adalah para ABG atau remaja tanggung.
Memang sih kebanyakan dari mereka adalah gamer, tapi mencari dan mem-browsing tentang ketelanjangan menjadi selingan yang menarik perhatian, mengasyikkan dan menggugah semangat mereka.
Sehingga kata pencarian ‘ telanjang’ menduduki salah satu top rangking untuk browsing.
Bahkan karena saking semangatnya browsing tentang telanjang, setiap situs yang menyediakan kata telanjang mereka masuki, sehingga terkadang kecele karena begitu dimasuki dan dibuka yang telanjang ternyata ….sapi.
( Sebenarnya bukan hanya ABG atau remaja tanggung saja yang asyik dan bersemangat melakukan browsing tentang ketelanjangan. Para pemuda tidak tanggung dan dewasa pun juga. Hanya saja mereka lebih rapi dan tersembunyi’ ).

Konon, ketelanjangan memang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia.
Coba saja tengok ke belakang , dalam khasanah sejarah kerajaan Jawa, khususnya pada era kerajaan Demak, ada sosok wanita yang sangat terkenal dan popular, bahkan hingga saat ini.
Bukan karena perjuangannya seperti Cut Nya’ Dien, bukan karena ketokohan dan ke-suri tauladanan seperti RA. Kartini. Tapi justru ‘lebih terkenal’ dikarenakan ketelajangannya dalam melakukan tapa brata untuk menuntut balas.
Sehingga dalam geguritan Jawa sering disenandungkan dan diceritakan ‘ Nimas Ratu Kalinyamat topo wudo sinjang rambut……..’
( Terjemahan bebasnya : Ratu Kalinyamat bertapa telanjang hanya berlilitkan rambutnya…..)

Dan coba tengok kebelakang lagi, sekitar 1 – 2 tahun lalu, dunia pemberitaan di Indonesia pernah di-gojang-ganjingkan dengan salah satu model wanita Indonesia, yang pada waktu itu namanya mungkin baru dikenal di kalangan terbatas.
Tapi begitu mau dan berani tampil dalam salah satu majalah dewasa, sontak namanya melejit popularitasnya bahkan sampai mendunia. Dan lagi-lagi karena ketelanjangannya.
Sehingga dalam dunia hiburan dan pesohor, ada ungkapan :
‘ para pendatang baru yang ingin cepat terkenal harus berani telanjang ‘

Jadi masalah dan pertanyaannya adalah : mengapa ketelanjangan begitu menarik perhatian, begitu mengasyikkan, menggugah semangat bahkan sampai meng-gunjang-ganjingkan ?
Bukankan dalam keseharian, kita sudah sangat akrab dengan ketelanjangan itu sendiri ( coba kalau sedang mandi…) ?
Bahkan kalau dalam hidup keseharian jika ada orang yang telanjang pasti dikatakan orang gila!

Apa yang beda ? Apa karena faktor seni dan keindahannya ? Apa karena faktor dapat merusakkan moral ? Apa karena rasa penasaran dan keingintahuan ? Apa karena fitrah suci manusia ? Atau justru karena faktor keberanian dan kegilaannya ?
Semuanya bisa !

Hanya saja, coba bandingkan dengan suatu kata seandainya.
Seandainya saja, semua orang, semua manusia dalam hidup keseharian selalu bertelanjang.
Tentu sudah tidak lagi menarik perhatian, begitu mengasyikkan, menggugah semangat bahkan sampai meng-gunjang-ganjingkan.
( Paling-paling pada awal-awalnya saja,lirik-lirik dikit ! )
Soalnya setiap orang justru sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk menutup dan menyembunyikan kekurangan yang ada pada tubuhnya. Takut dikatakan jelek atau justru takut dikatakan lucu.
( Tapi kalau dibayangkan memang pasti lucu ya, seandainya melihat orang yang misalnya, sedang naik sepeda, sedang menenteng belanja, atau sedang marah-marah sambil telanjang ! Pasti yang ada Cuma lucu, ndak ada lagi namanya menarik perhatian atau mengggugah semangat ! Lucu ! ).
Tapi itu seandainya saja, lho. Masalahnya, mana ada orang yang mau ? Orang gila apa ?

Kalau begitu apanya yang beda ???
Sederhana saja :
Emas berharga karena terbatas jumlahnya .

Untuk artikel sejenis dapat anda lihat pada : http://www.waspbook.co.cc

Diterbitkan di: 15 Juli, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.