Struktur eksistensi manusia dan gambaran dinamikanya dijelaskan Heidegger dalam model temporalitas dengan tiga dimensinya:
masa lalu-yang sudah terjadi, masa kini-yang sedang berlangsung, dan masa depan-yang belum terjadi. Tiga dimensi ini sesuai dengan tiga dimensi:sorge (kemungkinan, potensialitas atau posibilitas, proyeksi ke masa depan), faktisitas (penerimaan apa yang telah terjadi), dan verfallenheit (kepedulian dengan yang ada sekarang). Atas dasar inilah Heidegger menolak untuk mendefinisikan manusia dalam kategori “substansi” atau “hakekat”.
Dasein (ada-di-sana, istilah Heidegger untuk menunjukkan struktur ontologis manusia secara harafiah) berbeda dengan benda-benda atau makhluk hidup lainnya. Benda berlangsungdalam waktu, bergerak dari satu ‘kini’ ke ‘kini’ yang lainnya. Dengandemikian, ‘masa lalu” tidak ada lagi dan ‘masa depan” belum ada. Di sini, hubungan benda dengan waktu bersifat eksternal, sementara Dasein—dengan temporalitasnya—memiliki dan menguasai waktu: “dengan mengambil tanggungjawab atas faktisitasnya, ia telah menyatakan dalam dirinya apa yang telah terjadi dan dengan menyatukan “apa yang menudahuluinya” dan “apa yang telah terjadi”, ia menjadi bebas untuk mengambil keputusan yang otentik dalam situasi masa kini.”
“Die dergestalt als gewesend-gegenwartigende zukunft einheitliche Phanomen nennen wir die Zeitlichkeit”—“Fenomen kesatuan masa depan yang hadir dalam proses kesudahan kami namakan temporalitas.” Mengakui ciri eksistensi yang secara fundamental temporal berarti pula mengakui bahwa Dasein adalah historis. Dalam kaitan dengan itu, Heidegger membedakan antara Geschchte—proses historis, dan historie—studi tentang proses tersebut. Kita dapat menjalankan kajian sejarah karena kita histori, kita berpartisipasi dalam objek studi kita.
Dengan pendasaran itulah Heidegger menyatakan bahwa adalah keliru jika sejarah hanya dianggap sebagai kajian masa lampau. Eksistensi selalu bersifat historis dan menuju ke masa depan. Dalam mempelajari sejarah, kita mempelajari manusia, dan kita mempelajari manusia supaya mempelajari kemungkinan-kemungkinan eksistensinya. Di sini terjadi lingkaran hermeneutik; karena kita historis dalam diri kita, kita dapat mempelajari sejarah, tetapi sejauh studi sejarah membuka kemungkinan bagi eksistensi, melalui studi itu kita dapat memperluas pengertian kita.
Bila sejarah bersangkut paut dengan fakta masa lampau, masa kini, dan masa depan, maka sejarah haruslah dikaji secara eksistensial. Ahli sejarah mempelajari dokumen, monumen, dan benda-benda lain, semuanya historis tetapi bersifat sekunder. Itu menjadi historis karena berkaitan dengan manusia. Manusia sendirilah yang bersifat historis dan manusia harus dipelajari secara eksistensial, bukan dikaji dengan kategori-kategori yang cocok diamati bagi objek yang dapat diamati secara empirik. Dengan lain perkataan, bahan-bahan yang dipelajari sejarah lebih-lebih adalah kemungkinan-kemungkinan eksistensi, dan bukan hanya fakta.
“Weder das nur einmalig Geschehene noch ein daruber schwebendes Allgemeinees ist ihr thema, sondern die faktish existent Moglichkeit”—“tema sejarah bukan apa yang telah terjadi sekali untuk selamanya dan bukan pula sesuatu yang universal yang mengambang di atasnya, tetapi kemungkinan faktis eksistent.” Sejarah mempelajari kemungkinan otentik yang “dapat terulang “ (wiederholbar, repeatable, retrievable) pengulangan bukan reproduksi mekanik tetapi menjangkau masa lampau sedemikian rupa, sehingga kita dapat menangkap kembali kemungkinan yang terkandung di dalamnya dan menghadirkan kemungkinan itu di dalam eksistensi kita di masa kini. Masa lalu kemudian terintegrasi dengan masa depan dalam visi dan keputusan kita.
Lebih lanjut, dalam kaitan dengan pengertian (understanding), Heidegger mengatakan bahwa bentuk konkret di mana pengertian menggarap kemungkinan disebut Auslegung (Interpretasi). Tetapi, jelas Heidegger, tindakan Auslegung tentang sesuatu sebagai sesuatu selalu berdasarkan kepentingan (vorhabe), pra-insight (vorcicht), dan pra-pengertian (vorgriff). Maka, Auslegung tidak pernah bebas dari pra-pengandaian. Jika Dithey mengatakan bahwa interpretasi bagian selalu mengandaian pemahaman kita mengenai keseluruhan dan sebaliknya, Heidegger menyatakan bahwa setiap interpretasi mengandaikan pra-pengertian.
Pengertian (understanding), adalah suatu “eksistensial” memanifestasikan kemungkinan-kemungkinan Dasein sendiri dan realitas di sekelilingnya. Dalam pengertian, Dasein menemukan dimensi ‘penggunaan” dari benda-benda. Dengan demikian, benda-benda disatukan ke dalam dunia makna (Sinn), dengan totalitas pengertian. Memberi makna pada benda berarti mengaitkan benda-benda pada totalitas pengertian kita. Dengan demikian makna tidak dapat diketemukan di luar konteks manusiawi. Hanya Dasein yang dapat bermakna (sinvoll) atau tanpa makna (sinlos).