Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya selama ini, yang mengakibatkan nilai anak tidak
maksimal. Kemungkinan-kemungkinan
itu adalah:
1. Anak memang kurang cerdas karena ada masalah mental.
2. Anak malas atau tidak suka belajar atau suasana di rumah tidak kondusif.
3. Pengharapan orangtua, terhadap anak mereka, terlalu tinggi.
4. Guru tidak bisa mengajar dengan baik karena tidak menguasai teknik mengajar yang efektif dan efisien.
5. Anak unggul di aspek kecerdasan lain, selain linguistik dan logika matematika (teori Multiple Intelligence).
6. Anak punya trauma dalam proses pembelajaran sebelumnya sehingga menghambat proses belajarnya saat ini.
7. Cara pengujian/tes yang kurang tepat sehingga tidak berpihak pada anak.
Saya lalu menggali lebih lanjut mengenai Aji. Kebetulan saat itu Aji ikut bersama orangtuanya sehingga saya bisa melakukan pengamatan langsung. Dari hasil pengamatan saya dapat menyimpulkan bahwa Aji adalah anak yang sangat cerdas. Mengapa? Karena Aji, meskipun baru kelas 2 SD, telah mengetahui sangat banyak hal. Misalnya, Aji tahu tentang molekul, susunan tata surya, jarak antar planet, milimeter dan nano meter, dan masih banyak lagi.
Saya sempat kaget setelah mengetahui bahwa Aji tahu sangat banyak hal. Menurut orangtuanya, Aji sangat gemar membaca dan belajar. Buku-buku pelajaran anak SMP dan SMA sebagian sudah ia lahap. Guru di sekolah Aji sampai kewalahan dan menyarankan agar Aji jangan diberi buku-buku baru lagi. Khawatir nanti jadi terlalu pintar. Bahkan ada psikolog yang juga menyarankan hal yang sama. Saya tidak sependapat dengan saran ini. Saya malah menyarankan agar Aji diberi kesempatan belajar seluas-luasnya.
Nah, kembali pada topik
bahasan kita kali ini. Mengapa nilai Aji tidak
maksimal? Setelah saya gali lebih lanjut, persoalan utamanya ternyata Aji sering kali, dalam memberikan jawaban pada soal ujian, menjawab tidak sesuai dengan buku panduan guru.
Contohnya? Salah satu soal pada ujian bidang studi Sains berbunyi, ”Tubuh kucing ditutupi oleh...........”. Aji menjawab, ”Bulu”. Hal ini disalahkan oleh gurunya. Ternyata menurut guru jawaban yang benar adalah ”rambut”. Guru ini menyalahkan jawaban Aji tanpa memberikan alasan yang masuk akal dan juga tidak memberikan penjelasan kepada Aji mengapa jawabannya ”salah”.
Para pembaca, bila anda sebagai guru Aji, apakah anda akan membenarkan atau menyalahkan jawaban Aji? Bila saya adalah guru Aji maka saya akan membenarkan jawaban Aji karena memang jawabannya benar sekali. Saya tidak habis pikir apa alasan si guru menyalahkan jawaban ini.
Mendengar cerita ini saya langsung teringat pada beberapa contoh kasus lainnya yang diceritakan seorang kawan saya, saat ia di kelas 1 SD. Ada guru memberikan instruksi pada lembar soal sebagai berikut, ”Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jawaban singkat dan jelas”. Apa yang terjadi? Ternyata ada murid yang menjawab semua pertanyaan dengan menuliskan ”Singkat dan jelas”. Akibatnya? Guru marah besar dan murid diberi angka nol. Selanjutnya orangtua murid dipanggil ke sekolah karena anaknya ”bermasalah”.
Bill Gold menyatakan
Sekolah tidak mengajarkan bagaimana kita berfikir tetapi mengajarkan apa yang kita fikirkan....