Pemandangan yang selama ini kita bayangkan tergambarkan dengan jelas. Kereta
jadul, kotor, bau, berisik, dan yang
paling mencolok penumpang yang amat
sangat berjubel hingga di atap. Ketika kereta berhenti saya merasa kereta ini sudah
overload , janganpun di dalam gerbong, di pintu saja berjubel buaaanyaakk banget orang. Saya berpikir bagaimana caranya masuk ke dalam gerbong?? Tapi Yovan (temanku) segera mengambil peran, karena badannya yang tinggi
gede nan seksi kami tugaskan dia untuk membuka jalan. Alhasil kita berhasil merangsek masuk hingga ke dalam gerbong. Kondisi gerbong yang sumpek, panas, gerah, bau rokok, bau kencing, bau keringat lengkap sudah penderitaan kita. Oh ya sebelum naik saya menyarankan dompet, HP, dan barang-barang penting lainnya kecuali yang di bawah itu agar diamankan di talam tas sendiri *
jangan tas orang lain*, dan tas di taruh di depan. Kenapa?? Karena bukan rahasia lagi kalau KRD adalah sarang
pencopet dan penodong. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkan kepuyengan dan berdesakan di KRD untuk melakukan hal yang tidak-tidak, yaitu mencopet akronim dari mencomot dompet. Teman saya Noris pernah mengalami kejadian dicopeti tapi ga sampai berhasil karena dia memiliki aji-aji segoro geni yang manjur. Modus operandinya bermacam-macam. Kalau saya pribadi tenang-tenang aja selama ada abang Yovan mantan
preman dari Medan dilibaslah semua copet-copet itu maka amanlah dunia persilatan, hehe..
Setelah lima menit berhenti dan kita menunggu dalam ketidakpastian apakah kereta ini mogok atau tidak, akhirnya KRD ini berjalan juga. Yah bentuk di dalam gerbong nyaris sama dengan yang saya bayangkan di dalam
gerbong maut, pengap karena oksigen berebut dan pastinya berbau tidak sedap. Yang membedakan dalam gerbong maut adalah di KRD ini banyak sekali pencopet yang berkeliaran mencari mangsa sedangkan dalam gerbong maut tidak ada. 10 menit pertama kita masih baik-baik saja saya dan Yovan masih sempat bersenda gurau sedangkan Noris mulai
geli-geli basah alias gelisah. Hal yang paling membuat kita takjub adalah di dalam kereta yang
sumpeg lagi pengap ini masih ada juga abang-abang yang berjualan, mulai dari mangga, rokok, permen, tisu, handuk kecil, dan sebagainya. “Gila kuat kali abang2 ini jualan disini”, Yovan bergumam dengan logat bataknya. Tapi dari kejadian itu yang membuat kami kaget dan terheran-heran adalah abang asongan ini masih juga sempet mendesah berkeluh kesah. Dia bilang,”Duh, panas banget ni kereta. Koq rame banget ya hari ini.” (*bang plis deh ini KRD loh bukan kuburan lagian dia kan tiap hari jualan di KRD , ampun deh abang penjual yang aneh*)
Lima belas menit berselang, kami yang tadi becanda-canda ga jelas jadi diam seribu bahasa karena tanpa terasa keringat kita bercucuran. Bercucuran sebanyak-banyaknya bagai habis mandi. “Gila kita dapat sauna gratis!”, Yovan berkomentar. “Ga lama lagi kita kurus Yo, lemak udah terbakar semua”, saya menimpali. “Kurus gigi lo, bukannya kurus tapi mati kepanggang iya”, Yovan tak mau kalah. Sedangkan Noris dari tadi hanya terdiam sambil mengusap keringatnya pake jumper kebanggaannya yang hampir tiap hari selalu dipakai. Badan kami sudah tak bisa bergerak lagi bahkan untuk sekedar berkipas-kipas karena dihimpit orang-orang. Kondisi ini diperparah oleh orang sebelah kami merokok dan asepnya menyembul di wajah kami. Kepala saya pusing dan jadi mau muntah mendapat semburan bertubi-tubi dari orang yang tak tau diri. Nampaknya Perda larangan merokok Jakarta tak berlaku di dalam KRD. Tapi untunglah saya bisa bertahan. Tak lama sampailah kita di stasiun pemberhentian pertama yakni stasiun Kebayoran. Yap bukannya penumpang berkurang tapi justru nambah. Semakin terdesak kita karena dorongan dari luar. Sejenak saya membayangkan tragedi zakat yang ada di Pasuruan. Ohh tidak saya tidak mau mati konyol disini karena tergencet atau terinjak-injak. Mending kalau digencet oleh mbak-mbak SPG cakep di pameran komputer di Jakarta Convention Center, lha ini kita bakal terinjak-injak ibu-ibu, emak-emak, nyak-nyak, dan babe-babe. Ga ada mbak-mbaknya sama sekali *uhh, nasib.. nasib..* 5 menit kemudian KRD kembali berjalan dengan kecepatan sedang dan cenderung lambat. Kayaknya siy masinis lagi ngerjain kita-kita. Mereka adalah orang-orang yang berpaham Jawa tulen yaitu “alon-alon weton kelakon” atau “biar lambat asal selamat”. Kondisi seperti sebelumnya pun terjadi lagi. Gerah, panas, bau, macam2 deh.. Sebenarnya satu hal yang kita tunggu-tunggu dari tadi yaitu datangnya kondektur yang memeriksa karcis. Jika telah diperiksa rasanya kita puas sekali dan ingin sekali berteriak di kuping kondektur pemeriksa karcis. “Kita ini auditor yang selalu taat pada peraturan!!”. Tapi ternyata setelah lama ditunggu pak kondektur tak juga muncul, yang ada hanya abang penjual mangga dan rokok. Sebeelll… Jadi buat apa beli tiket kalau gini..
Ahh.. akhirnya perjalanan super panjang kami berakhir sudah. Pukul 6 lebih kita sampai di stasiun Pondok Ranji tercinta. Dan parahnya di luar masih hujan meski cuma gerimis. Sip lengkap sudah penderitaan kita. “Gila ga berasa ya Yo perjalanan kita”, saya nyeletuk. “Ga berasa gigi lo, badan gw udah mau rontok ni”, Yovan membantah. Yah perjalanan pulang kita diiringi dengan hujan gerimis dan perasaan sebel, kenapa tadi pulang naik gerbong maut. Dinamika hidup di kota besar memang menarik tapi itu semua tak akan terasa bila kita ikhlas menjalaninya. Ingat jika kita ingin sukses dimanapun janganlah kita meminta diringankan bebannya tapi mintalah pundak yang kuat untuk menopangnya. Jadi siapa yang punya pengalaman menarik lain tentang KRD??