Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Teori & Kritik>Quao Vadis Pendidikan Unggulan

Quao Vadis Pendidikan Unggulan

oleh: nurk     Pengarang : Bambang Satriya
ª
 
Pertanyaan menggelitik sering mengusik kita, dimanakah mencari dan menemukan pendidikan unggulan yang sebenarnya? Apakah selama ini, berbagai jenis brosur atau iklan dunia pendidikan yang menyebut sekolah (pendidikan) unggulan, benar-benar sudah menjadi pendidikan unggulan ?
Gugatan tersebut layak diapresiasi, mengingat dunia pendidikan sebenarnya menjadi tolak ukur kemajuan di lini kehidupan strategis lainnya. Jika dunia pendidikan belum tergolong sebagai pendidikan yang berproses menghasilkan manusia-manusia unggulan, maka sulit mengharapkan akan terwujudnya dunia pendidikan yang menghadirkan era keemasan di bumi pertiwi ini.
Faktanya, dunia pendidikan kita masih belum bisa menjawab tantangan kemajuan zaman. Kondisi pendidikan Indonesia juga sudah jauh tertinggal dari negara-negara tetangga sesama ASEAN sekalipun. Berdasarkan laporan UNDP, indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2007 menempatkan Indonesia berada dibelakang Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, bahkan Laos yakni di urutan ke-108 dari 177 negara.
Dewasa ini, sekolah yang berlabel unggulan yang dijual sebagian pengelola pendidikan sebenarnya masih layak dipertanyakan kesejatian keunggulannya, karena bukan tidak mungkin apa yang distigmakan dalam kosakata “unggulan” adalah strategi pemenuhan kebutuhan pasar elit yang menuntut pemuasan dari dahaga status sosialnya.
Tampaknya gejala sekolah unggulan yang dijual kepada pasar orang tua atau keluarga ada kecenderungan mengikuti dan mendikte konsumen yang haus status sosial. Sekolah dibangun bukan mengikuti dasar-dasar moral filosofis yang dibutuhkanoleh anak untuk membentuk kepribadiannya menjadi pribadi unggul, tetapi lebih dominan mengikuti irama kepentingan orang tuanya.
Dalam kasus tersebut, barangkali di satu sisi model sekolah demikian ini akan menjadi obyek jual ke pasar yang mampu menyedot konsumen, akan tetapi di sisi lain, pengelola pendidikan dan konsumen perlu diluruskan, bahwa kesejatian pendidikan bukan pragmatisme, instanisme, otoritarianisme atau menciptakan atmosfir edukatif yang “memenjarakan” anak, melainkan atmosfir yang menumbuhkan pencerdasan dan pencerahan moral intelektual kepada anak didik.
Dalam pasal 1 angka (1) UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam dimensi yuridis tersebut ada kosakata “mengembangkan” potensi yang menggabungkan kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Sehingga target pencapaian dalam setiap proses pembelajaran menekankan pada akumulasi nilai. Jika akumulasi nilai yang menjadi tolak ukur, maka standar keunggulan terletak pada kemampuan setiap penanggung jawab petelenggaraan pendidikan untuk mengantarkan anak didik menjadi manusia unggul.
Dengan terma orientasi pendidikan demikian itu, tampaknya model sekolah atau pendidikan unggulan bukan semata terletak pada keunggulan fasilitas, tetapi juga sistem demokratisasi edukasinya menumbuhkembangkan pribadi anak didik menjadi manusia yang istimewa secara kognisi, afeksi dan psikomotorik.
Anak didik bukan hanya unggul dalam membangun skill, tetapi juga unggul dalam keberdayaan moral (moral empowering) dan spiritualnya. Keunggulan skill saja tidak menjadi jaminan melahirkan keunggulan profesionalitas, karena profesionalisme sangat ditentukan juga keunggulan integritas moral anak didik.
Sekolah unggulan tidak terletak pada kemapuan manajemen sekolah dalam mendulang keuntungan ekonomi berlaksa dari orang tua atau kelompok sosial eksklusif, tetapi dari kemampuan memediasi anak didik menjadi pribadi paripurna, meski anak didik ini dari golongan akar rumput. Itu artinya education for all yang bernafaskan egalitarian tidak bisa diabaikan dalam mencari input sekolah yang bertekad memproduk manusia unggul, kecuali pengelolaan dari awal sudah menerapkan sistem pembenaran keunggulan dalam disparitas dan diskriminasi yang didasarkan pada besaran donasi.
Diterbitkan di: 29 Januari, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.