Fakta bahwa masyarakat
modern kembali kepada agama memang tak dapat
dibantah. Seperti yang dijelaskan
dalam buku ini, munculnya
kelompok-kelompok pengajian keagamaan, tayangan-tayangan
media massa
yang menyiarkan program-program keagamaan, tumbuhnya ordo-ordo
sufi (tarikat) di perkotaan, majelis zikir,
forum muhasabah (introspeksi
diri), dan pelatihan mujahadah (pengendalian diri), merupakan fenomena
yang tak dapat dikesampingkan.
Arifin Ilham, dengan Majelis Zikri Az-Zikra-nya, memiliki tempat
tersendiri dalam realitas keberagamaan masyarakat modern. Dimulai dari
kelompok zikir yang amat kecil, dalam waktu yang relatif singkat
Majelis Zikri Az-Zikra berkembang dengan sangat pesat. Buku
ini menjelaskan dengan sangat gamblang profil Arifin Ilham dan
Majelis-Zikirnya itu. Dengan pendekatan yang empatik terhadap subjek
cerita, buku ini menjadi bacaan yang menyegarkan. Sebagai catatan
tambahan, rifin Ilham, Dai Kota Penabur Kedamaian Jiwa ini merupakan
karya pertama yang menelaah zikir Arifin Ilham secara ilmiah.
Sebelum beliau bersabda seperti itu, sudah jauh hari menjejali diri
dengan kemuliaan pribadi. Tak heran jika para tetua kaum Quraisy sempat
menggelarinya dengan “Al-Amin”. Gelar yang diberikan khusus kepada
orang-orang yang memiliki kemuliaan pribadi karena dipercaya. Beliau
sangat disukai dan dicintai orang banyak karena rajin memupuk diri
dengan doa serta kebaikan-kebaikan laku dan kata. Bahkan, semenjak
bangun tidur sampai hendak tidur, Nabi kita semua tidak lupa berdoa
terlebih dahulu.
Kejujuran, kecerdasan, kepedulian terhadap sesama, kepercayaan diri dan
kebaikan selalu beliau atraksikan dalam hidup keseharian. Maka, dari
kepribadiannya terpancar sejuta pesona yang membuat orang di sekitar
berdecak kagum. Subhanallah, memang tepat jika Tuhan mengutusnya
menjadi seorang penyampai ajaran Islam (rasul) di tengah-tengah
masyarakat yang dijibuni pribadi-pribadi tercela (jahiliyah).
Seorang manusia yang semenjak masih muda memancarkan pesona
kepribadian meski kerap menerima – dari orang yang sinis – caci-maki.
Beliau tak pernah membalas cacian dengan cacian, tapi tetap konsisten
menampakkan keramahan, kesopansantunan, dan menghargainya penuh kasih
sayang. Mulia bukan?
Mengapa dia bisa demikian? Rahasianya, terhampar pada doa-doa yang
sering dilantunkan sehari-semalam, ada di dalam hadits, dan utamanya di
dalam kitab suci Al-quran. Dengan berdoa, kepribadian kamu tidak akan
menjelma menjadi syetan yang sombong. Kamu akan terus merasa bahwa
hidup mesti diserahkan secara penuh kepada sang pencipta alam raya,
Allah SWT. Dan, dengan berdoa juga akan memberikan motivasi pada diri
untuk terus berbuat kebajikan di dunia. Tak percaya? Coba buktikan,
ketika kamu selesai berdoa, perasaan yang tadinya gelisah akan berubah
tenang. Bukankah hal itu merupakan tanda bahwa syari’at berdoa bisa
mengubah seseorang?
Itulah mengapa Alexis Carrel berpendapat bahwa doa bisa memunculkan
kekuatan dari dalam diri untuk mengubah diri sendiri dan masyarakat.
Maka, tak heran jika kita pernah membaca atau mendengar kisah Nabi
Muhammad yang menggambarkan bahwa beliau sering berdoa tatkala ada
perlakuan tak senonoh dari kaum kafir. Tapi, isi doanya tidak jelek.
Tentunya, berisi tentang permintaan untuk menyadarkan orang yang telah
berlaku kejam kepada beliau.
Latar belakang buku ini saya tulis, karena setiap manusia pasti
ingin disukai dan dicintai oleh manusia dan Tuhan. Oleh karena itu,
menjejali dengan doa-doa yang bisa membentuk pribadi kita hingga
memancarkan pesona adalah sebuah keniscayaan. Sebab, dengan pancaran
pesona kepribadian yang indah, kamu akan disukai banyak orang. Bahkan
dicintai oleh Allah.
Orang seperti itulah yang saya namakan
kekasih Allah. Ia akan disukai oleh manusia karena memiliki karakter
yang menenangkan jiwa ketika orang lain berinteraksi dengannya. Ia
tidak akan pernah mengkhianati, menyakiti, mencaci, dan
perilaku-perilaku yang tercela lainnya.
Ringkasan lain tentang Pesona Doa