Halaman Utama Shvoong > Kemanusiaan > Studi Agama > Kajian Muslim > Menyegarkan Kembali Sikap Islam: Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla

.

Menyegarkan Kembali Sikap Islam: Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla

Summary rating: 1 stars 1 Tinjauan
Pengarang : A. Mustofa Bisri
Summary by : dulbedul
Kunjungan: 73
kata: 900
Diterbitkan di: Januari 17, 2008
Menyegarkan
Kembali Sikap Islam: Beberapa Kesalahan Ulil Abshar Abdalla

KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar Abdalla,
Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak reaksi.
Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel itu.
Semuanya bernada “mempertanyakan”.

Tulisan itu bernada “teror”. Saya nyaris yakin, saat menulis, di depan Ulil
ada bayangan orang-orang berjubah dan berjenggot, membawa pedang yang di
bayangan Ulil terus meneriakinya agar dia juga berpakaian dan berjenggot
seperti mereka jika tidak mau masuk neraka. Dari awal tulisan, nada geram sudah
tercium. Selanjutnya, Ulil seperti hanya ingin membuat geram mereka yang
membayanginya. Mereka yang ia sebut sebagai orang-orang yang memiliki
kecenderungan “me-monumen-kan” Islam.

Maka diulang-ulangnya kalimat yang mirip-atau sengaja diambil
dari-ungkapan-ungkapan kebanyakan orientalis Barat yang paling dibenci oleh
mereka yang “membayangi Ulil” itu.

Bila dugaan saya benar, inilah kesalahan pertama Ulil. Tulisan itu mestinya
bukan di Kompas yang umumnya tidak dibaca oleh mereka yang ingin dibuatnya
geram. Pembaca Kompas-wallahua lam-umumnya mereka yang masih mau menyisakan
perhatian dan waktu untuk membaca atau mendengar pendapat orang lain. Melihat
nada tulisannya, Ulil jelas hanya menujukan kepada mereka yang ia sendiri
sepertinya sudah yakin tidak akan mau “mendengarkan”-nya. Akibat salah memilih
media, tulisan itu justru lebih membuat bingung mereka yang selama ini tidak
bertipe sebagaimana sasarannya. Mereka yang selama ini menyikapi artikel
sebagai penuangan pikiran-bukan untuk hal lain, seperti men-”teror” orang-akan
bertanya-tanya, apa maunya Ulil?

Kesalahan kedua, sekali lagi bila dugaan saya itu benar: Ulil menulis dengan
geram! Kegeraman, sebagaimana sikap-sikap  athifie lainnya, bisa mengacaukan pikiran yang
jernih; bisa membuat orang bersikap berlebihan; membuat orang tidak bisa
berlaku adil, jejeg. Sikap yang justru dia sendiri serukan sebagai sesuatu yang
mesti diutamakan. Itu sebabnya hakim yang sedang geram tidak boleh memutuskan
hukuman. Ulil pasti sudah hafal mahfuzhat yang berbunyi “Kaifa yastiqiemudzillu
wal  uudu a waj?”, “Bagaimana bayangan
bisa lurus bila tongkat yang menimbulkan bayangan, bengkok?” Ya bagaimana kita
akan meluruskan kalau kita sendiri kacau?

KESALAHAN lain yang mestinya tidak boleh terjadi dari seorang intelektual
ialah menggunakan kemampuannya untuk atau mencampurnya dengan urusan “nafsu”.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Inna akhwafa maa akhaafu  alaa ummatie: asyirku billah. Alaa inni laa
aquulu ta buduuna watsanan walaa qamaran walaa syamsan; walaakin al-a maal
lighairillahi wa syahwatin khafiyyah.” Au kamaa qaala Rasulullah SAW.
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan Allah.
Ingat, aku tidak berkata kalian akan menyembah berhala, rembulan, atau
matahari; tapi yang kumaksud: amal-amal yang dilakukan bukan karena Allah dan
adanya kepentingan yang tersamar.

Amar makruf nahi munkar yang populer itu, hakikatnya adalah manifestasi dari
kasih-sayang. Maka, ada dawuh, “Amar makruf nahi munkar, hendaklah dilakukan
secara makruf dan tidak boleh dilakukan secara munkar.” Untuk dapat
ber-amar-makruf-nahi-munkar secara benar, menurut saya, harus didahului kasih
sayang. Orang yang tidak mempunyai rasa kasih sayang, sulit dibayangkan dapat
melakukan amar makruf nahi munkar. Dengan kata lain, amar makruf nahi munkar
adalah istilah lain dari rahmatan lil  alamien. Wallahu a lam.

Semua orang tahu, semangat yang berlebihan kadang menyeret orang kepada
perbuatan bodoh. Apalagi, bila tidak disertai pemahaman yang cukup atas apa
yang disemangati. Ulil sudah tahu, bahkan tampak sudah menjadi “obsesi”-nya,
banyak di antara kaum beragama yang terlalu bersemangat dan tidak disertai pemahaman
cukup atas agamanya, justru terbukti lebih banyak merugikan, terutama bagi
citra agama itu sendiri. Maka sudah semestinya Ulil tidak bersikap sama.
Terlalu bersemangat dalam “memerangi” apa yang dianggapnya “musuh Islam”,
sehingga justru mengaburkan pikiran jernih yang ingin dikemukakan.

Kesalahan terakhir-mudah-mudahan benar-benar terakhir-Ulil menulis itu pada
bulan suci Ramadhan, dimana seharusnya umat Islam menyerap kasih sayang Ilahi
bagi merahmati sesama.

Sengaja saya tidak menanggapi isi atau materi tulisan, karena seperti
dikemukakan di atas, saya tidak melihat tulisan Ulil kali ini dimaksudkan untuk
mengutarakan pikiran, bahkan wacana sekali pun. Saya yakin kalau membaca lagi
tulisannya, dia akan menyesal, minimal agak menyesal, atau saya mengharapkan
begitu.

A. Mustofa Bisri, Mertua Ulil Abshar Abdalla
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.