Aku bilang, terserah
kau tak mau mengaku.
Tapi percuma saja. Fakultas
sudah tahu. Sepertinya ada yang melaporkan,
atau memang fakultas mencari tahu sendiri.
Dan aku yakin, kau tak akan
bisa berkelit lagi. Orang-orang yang pernah menjadi korbanmu akan
didatangkan sebagai saksi. Ada 5 orang. Apa kau bisa berkelit
lagi?Kalau
kau memang merasa benar, silakan adu argumentasi dengan dekanat. Dan
kupastikan kau akan kalah. Tanpa embel-embel gerakan jihadmu ini, kau
sudah bisa dijerat dengan pasal penipuan. Dan sanksinya tak hanya
akademik, tapi akan sampai ke kepolisian. Apakah kau tak membayangkan
bagaimana ketika orang tuamu
di rumah tahu, tetanggamu melihatmu di TV
kau berurusan dengan aparat, bagaimana perasaan orang tuamu waktu
itu?Kalau
memang benar, kenapa kau dan teman-temanmu di NKA melakukan rekruitmen
secara bergerilya. Kenapa tak terang-terangan. Orang sekarang sudah
zaman terbuka, kenapa pakai menyusup segala. Lalu soal iuran
anggota. Ini lebih tepat dikatakan pemerasan. Ini MLM berkedok agama.
Kalian menjual isu. Aku tahu bagaimana kau sempat menghubungi beberapa
teman untuk pinjam uang. Tak tanggung-tanggung jumlahnya. Padahal
sebelumnya kau tak seperti ini.Kalau
kau memang merasa benar juga, aku bertanya lagi kepadamu, adakah ajaran
agama yang membuat resah orang lain. Apa yang kau lakukan ini sudah
sangat meresahkan. Maka berhentilah, dan keluarlah dari organisasi
sesat itu. Sadarkah kau bahwa sekarang kau sedang menghancurkan dirimu
sendiri, masa depanmu, keluargamu dan lain-lain. Apa yang hendak kau
cari,
kedudukan kah, apakah kau sudah dijanjikan kelak ketika negara Islam
itu berhasil berdiri? Bullshit! Kau ketipu. Kusarankan kau membaca
sejarah. Kalau perlu aku kasih materi yang nanti kuprintkan
untukmu.Berkali-kali
kusampaikan, bahwa aku dan teman-teman lain yang mengetahui aktivitas
pelaku tak kemudian menjadi benci. "Aku tetap menganggapmu teman,
yuniorku. Kalau kau menganggapku musuh, berarti kau salah. Aku cuma
benci pada entah setan apa yang sekarang menguasai dirimu. Kau kini
menjadi suka berbohong, tega memeras teman".Dia terdiam cukup
lama. Aku menatapnya dalam-dalam.
dia mengangkat mukanya."Aku minta
waktu. Aku akan memikirkannya lagi," jawabnya.Tiga hari sudah
berlalu. Dia belum menemuiku. Entah bagaimana dia sekarang. Apakah dia
memutuskan untuk keluar dari NKA atau tidak. Tapi usahaku cukup
berhasil. Satu orang pelaku (yang tadinya dua orang, mereka sudah
menjadi pemain, yang mencari anggota baru) sudah memberikan pernyataan
keluar. Memang aku tak percaya sepenuhnya. Aku masih memantaunya dari
kabar teman sekamarnya. Aku bilang, kalau kau berani macam-macam, maka
aku akan kontak orang tuamu.Hmmm...dari
cerita seorang teman, aku baru tahu bahwa sebenarnya masih ada
anggota-anggota lain di kampus **** Undip. Mereka sudah masuk lebih
dulu. Entah mereka ikut NII yang mana. Gerakan mereka tidak tercium
karena sepertinya mereka tak melancarkan serangan gerilya mencari
anggota baru di kampus ini. Malah ada seorang mantan anggota NII yang
dulu sempat ikut sampai hampir setahun. Dari beberapa informasi yang
kukumpulkan, gerakan NII sudah masuk ke beberapa kampus di Semarang.
Paling banyak di kampus Unisbank. Undip dan Unnes, dua PTN di Semarang
ini, juga sudah menjadi target operasi NII.Kembali ke usulan
untuk menyelesaikan kasus NKA itu secara hukum yakni dengan
mengadukannya ke kepolisian, terakhir kudengar kabar seorang teman yang
terlibat di NII itu diancam dilaporkan ke polisi oleh salah seorang
temannya sendiri gara-gara HP temannya yang dipinjam tak dikembalikan.
HP seri Siemens keluaran terbaru itu digadaikan seharga Rp 500 ribu.
Pelaku bilang HP itu tak hilang. Dan kau menjanjikan akan mengembalikan
kepadanya.Teman yang hendak melaporkan pelaku itu mengaku kesal
karena pelaku sampai hati membohongi temannya sendiri. Teman sekampung,
tetangga rumah, teman sejak kecil hingga kuliah di perguruan tinggi.
Pelaku mengatakan, jika dia meminta HPitu secara baik-baik dan si
pemilik mengikhlaskannya."Jadi kalau dia tega melakukan itu,
kanapa aku tidak tega melaporkannya ke polisi. Otaknya sudah
benar-benar rusak, dicuci otaknya. Teman sendiri tega ditipunya,"
tuturnya yang ditirukan oleh salah seorang teman yang bercerita kepada
saya.Jujur, saya tak menginginkan dia dilaporkan ke polisi.
Saya tahu dia dulunya orang baik-baik. Tapi setelah mendengar cerita
dari beberapa teman, saya juga jadi khawatir kalau dia akan semakin
terjerumus dalam aktivitas sesat. Maka, biarlah orang lain yang
melaporkannya. Mungkin langkah ini lebih baik untuk dia kedepannya dan
memutus jatuhnya korban baru.
Ringkasan lain tentang Mem-"polisi"-kan Gerakan NII KW IX/NKA (2)