Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang
yang mengajaknya adalah orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya
kenal memiliki latar belakang pesantren,
dan beberapa kali terlibat
diskusi soal pluralisme. Dan ternyata
tak cuma Ema, masih ada
korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, Fatima, yang diantaranya sudah ada
yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa ke Jakarta untuk
dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama,
dari mereka membuat janji
bertemu
di toko buku, di rumah makan; kemudian dikenalkan kepada teman;
bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; dicuci otak dan
sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-lain.Dari
korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana
dia sampai di Jakarta (
(tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu itu
korban menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil,
entah dibawa ke mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang
mengajak Ratih, menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari
Semarang lepas pukul 24.00. Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun
dari kereta ia dijemput sebuah mobil. Ia diminta menutup mata hingga
sampai di tempat tujuan. Tibalah ia di suatu ruangan tertutup. Di sana
ia "dicuci-otaknya".Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu
dinamai NKA (Negara Karunia Allah), kadar keislaman dan ubudiyah
mereka. Mereka menafsir ayat-ayat Al Qur''an secara sepotong-potong
untuk kepentingan mereka. Bahkan mereka tampak tak mengusai ilmu
tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata Bani yang berarti anak,
Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda yang mengetahui ilmu
tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran jemaah NKA ini.Anggota
Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu dalam
ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari
Jakarta, tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri,
Fani diajak ke satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas,
tepatnya Ngesrep yang terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang.
Entah atas pengaruh apa, Fani waktu itu yang diminta menutup mata
ketika diboncengkan motor tak mencoba untuk mencari tahu hendak ke mana
dia dibawa pergi. Ia tak mencoba membuka mata untuk mencari tahu. Apa
mungkin ada pengaruh magis?Setiba di suatu tempat, yang mirip
tempat kos, dia bertemu dengan beberapa perempuan yang semuanya tak
mengenakan Jilbab. Dia bertanya, kenapa tak mengenakan jilbab. Dijawab,
mereka yang sedang berjihad tak diwajibkan memakai Jilbab. Begitu pula,
ketika Fani bertanya kenapa mereka tak Sholat, dijawab orang yang lagi
berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh Imam. Kita ini lagi dalam
kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru setelah berhasil
mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat Islam. Tak jauh
dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke tempat kos
pria.Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan siapa. Jihad, jihad untuk apa?Saya
cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Saya tak
ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan
negera Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan
politis, alasan yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!Dari
cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga telah
menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara Karunia
Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi
tertutup. Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan
batang-hidungnya di kampus. Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.Suatu
hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang itu. Saya
minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. Saya
ingin mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya
untuk bisa bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup
tinggi. Ia cuma sesekali nongdi kampus. Itupun saya duga untuk
mencari mangsa baru.Saat Adi sedang menunggu korban, saya
menghampirinya. Saya pura-pura tak tahu. Saya ajak ngobrol hal
remeh-temeh. Kemana saja kok jarang keliahatan. Gimana kabarnya. Saya
singgung-singgung soal kondisi di Indonesia yang belakangan bermunculan
gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru kemudian, saya minta dia
untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia lakukan selama ini.Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah ketangkap basah."Oke,
kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini sedang punya
masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap menganggapmu sebagai
teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku siap.
Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk menggerakkan
semua teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.Saya
berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci otaknya,
sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya kini.
Atau sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas
itu, karena ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari
beberapa korban yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu
mereka ketakutan karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap,
termasuk nama orang tua dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban
itu menerima SMS dari anggota NKA. Korban diminta untuk tetap
berkomunikasi dan tetap menjaga rahasia. Adakah ancaman yang mengerikan
jika korban membuka rahasia itu ke orang di luar kumintas NKA? Mungkin
saja!Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta
modus-modus yang digunakan oleh orang-orang yang hendak mengajak
korban, saya menduga mereka yang menamakan aktivis NKA itu tak jauh
beda dengan jemaah Negara Islam Indonesia (NII) yang telah meresahkan
banyak orang. Dari penelusuran di internet, ternyata sudah banyak
korban semacam Ema dengan modus yang sama. Sudah banyak laporan dari
keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu kenapa sindikasi ini hingga
kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, NII ini punya backing
inteljen ataupun TNI.*Catatan: untuk kemanan dan atas permintaan narasumber, nama-nama yang tercantum dalam tulisan ini adalah bukan nama sebenarnya. namun detail cerita berdasarkan fakta di lapangan.
Ringkasan lain tentang Gerilya NII KW IX di Kampus Semarang (3)