Mendengar cerita Ema
itu, saya mulai curiga, ada
yang
tak beres
dengan "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke
Jakarta itu. Pertama, ajakan itu terkesan memaksa. Kemudian, konsep
shodaqoh itu saya artikan sebagai pemerasan. Lantas, jihad macam apa
itu?Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk
mempertemukan Ema dengan teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli
flash disk,
di tempat yang dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang
akan memberikan presentasi kepada Ema tentang konsep Khilafah
Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas cara yang picik, licik, yang dipakai
untuk sebuah tujuan berjuang di jalan kebenaran."Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada Ema."Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih lugu soal wacana Islam ini.Saya
katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk menjadi
seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia
sekarang muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?Saya
ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya
agama Islam ke tanah air.
Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka
menyebarkan Islam di
daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap demi
setahap, agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu,
di daerah lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh
para pedagang Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan
Hindu-Budha."Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan
agama Islam kepada masyarakat Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort
Geertz dibedakan ke dalam tiga golongan: Santri, Abangan,
dan Priyayi,"
tanya saya kepada Ema.Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo,
terutama yang dimotori oleh Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang
begitu lentur, melalui pendekatan budaya dan kesenian. Ia menggunakan
kesenian wayang untuk menyebarkan agam Islam. Tokoh-tokoh perwayangan
yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan Hindu-Budha itu, diganti
dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah islam. Kalijaga tak hendak
membuang budaya yang selama ini telah melekat di masyarakat Jawa itu
dengan menggantikannya dengan syariat Islam. Ia memakai cara-cara yang
lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai Islam. Ibarat
tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma membuang isinya,
dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.Dengan
pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak harus dengan
menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti yang
tertulis di Al Qur''an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang
ada di Arab. Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat
berdasar letak geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat
dengan jenis kultur dan budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi
Islam, termasuk orang Jawa yang masih percaya terhadap sedekah laut,
misalnya.Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak mendirikan negara Islam itu?
Ringkasan lain tentang Gerilya NII KW IX di Kampus Semarang (2)