Tubuh Evi lemas seketika mendengar ucapan Gonggo. Evi
tak habis pikir,
pengorbanan yang dilakukan selama ini dibalas
dengan perlakuan yang tak
semestinya
dia terima. Perlakuan kasar seorang adik kepada kakak,
setelah sang kakak mati-matian mengusahakan
uang pinjaman sampai kuliah
pun menjadi berantakan."Sudah baca SMS-ku," tanya Evi kepada
Gonggo yang duduk berhadapan
di satu meja di sebuah kantin di salah
satu fakultas di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.Gubraaaaakkk!!!...
Tangan Gonggo menggebrak meja. Dia berdiri dari tempat duduknya.
Matanya melotot. "Anda salah datang
ke Jogja. Kita tertawa pas waktu
baca SMS anda," jawabnya lantang dengan mengacung-acungkan jari
telunjuk ke arah muka Evi.Dari ucapannya
itu, menurut Evi sepertinya Gonggo sudah tak menganggap lagi Evi
sebagai kakaknya. Dia menyebut "Evi" dengan "Anda". Yang membuat Evi
penasaran adalah kata ''Kita'',"...Kita Tertawa," kata Gonggo kepada Evi.
Siapa Kita itu, dia dan siapa?"Saat itu, aku hanya diam saja. Mie yang sudah dipesan nggak aku makan. Nggak nafsu lagi," kenang Evi. Drama
perseteruan kakak dan adik ini dimulai sejak pertengahan 2006, sekitar
satu tahun silam. Suatu hari Gonggo datang ke Semarang untuk menemui
Evi. Waktu
itu Gonggo masih berstatus sebagai mahasiswa semester III di
Fakultas Kehutanan UGM.Gonggo datang dengan muka memelas. Dia mengaku
habis menghilangkan kamera milik temannya yang harganya mencapai 5
jutaan. Ia berbicara sambil menitikan air mata. Evi percaya. Dia
kasihan melihat adiknya.Kepada Gonggo Evi bilang akan membantu
meminjamkan uang. Jawabannya ini diberikan untuk menyenangkan sang
adik. Padahal saat itu Evi tak mempunyai cukup uang sejumlah yang
dibutuhkan Gonggo. Evi akan menyanggupinya, entah ke mana dia akan
mencari pinjaman, saat itu belum terpikirkan.Belum lunas Evi
membayar cicilan utang, Gonggo datang lagi dengan keinginan yang sama:
butuh uang. Kali ini untuk biaya reparasi motor temannya. Ia baru saja
kecelakaan dengan mengendarai motor milik teman. Beruntung dia tidak
mengalami luka serius. Untuk yang kedua kalinya, Evi tak bisa mengelak.
Di matanya Gonggo adalah seorang adik yang baik. Dia juga penurut.Namun
kebiasaan meminjam uang makin kerap dilakukan Gonggo. Dan yang menjadi
tumpuan adalah sang Kakak. Barangkali Gonggo sungkan jika harus
berurusan dengan bapak-ibunya. Evi mulai menaruh curiga. Ada yang tak
beres dengan adiknya. Dia kerap pinjam uang. Dia juga sering bilang
sedang ada di Semarang. Untuk apa, bagaimana dengan kuliahnya di Yogya,
apa dia nggak kuliah?Tak selang lama, keluarga Evi di
kampungnya di sebuah desa di Kecamatan Juwono, Pati, Jawa Tengah
mengeluh karena Gonggo sudah lama tak pulang ke rumah. Padahal saat itu
kuliah sedang libur habis ujian semester. Kepada orang tuanya Gonggo
mengaku tidak bisa pulang ke rumah karena dia mengikuti semester
pendek. Kecemasan orang tua makin menjadi karena belakangan nomor
handphone anaknya itu tak bisa dihubungi lagi.Menurut Evi,
adiknya itu sering menggunakan nomor-nomor yang berbeda untuk mengirim
SMS kepadanya. Evi juga mulai kesulitan kemana harus menghubungi sang
adik.Dari hasil informasi yang dilacak oleh paman Evi yang
berada di Jogja, diketahui Gonggo tidak mengikuti semester pendek. Yang
lebih mengejutkan lagi, ternyata Gonggo telah absen satu semester.
Bagian akademik menerangkan Gonggo mangkir. Mendapati informasi ini,
sang paman langsung pulang menemui orang tua Gonggo di kampungnya di
Pati. Keluarga sangat terkejut. Evi yang berada di Semarang dikontak.
Saat itu juga Evi pulang. Esoknya mereka kemudian ke Jogja.
Ringkasan lain tentang Pengakuan Korban NII (1)