Di tengah-tengah kegelisahan kudengar suara SabdaMu tentang perumpamaan penabur
itu,
" Kepada setiap
orang yang mendengar Firman tentang Kerajaan Sorga,
tetapi tidak mengerti, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar Firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penganiayaan atau penindasan
karena Firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditabur di tengah semak duri ialah orang yang mendengar Firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit Firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan Firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat ." (
Mat 13:18-23)
Aku pun melihat ke dalam diri, melihat kekuatiran menghimpitku. Kekuatiran tentang ayah dan ibu yang
telah Kau panggil pulang ke RumahMu yang indah, yang
kami nanti-nantikan. Melihat betapa aku dan adik-adikku tak sanggup membayar kembali hutang-hutang kami di masa sulit itu, tagihan-tagihan yang tertunda, telepon-telepon yang menanyakan pembayarannya, kegelisahan yang juga timbul akibat rasa bersalah karena sebagian dari hutang tersebut adalah dari kartu kredit sahabat ayah yang baik, yang meskipun beberapa kali telah mengakalinya, tetapi telah berbaik hati merelakan kartu kreditnya kami pakai untuk membiayai pengobatan mama, dan pada akhirnya juga menutupi kekurangan biaya hidup keluarga. Bayangan betapa harapan untuk mendapatkan uang baru akan tiba dua bulan setelah ini, tetapi tagihan terus berjalan.
Tetapi kami terus berpegang pada janjiMu, ya Tuhan. Karena di balik hal-hal tersebut terdapatlah suatu ajakan untuk berhenti percaya akan Engkau, tempat kami berlindung yang sejati, dan takkan pernah meninggalkan kami.
Karena kami mencoba untuk terus mengingat-ingat di dalam hati dan pikiran kami yang terbatas, bahwa titik akhir perjuangan manusia adalah kematian. Dan kesengsaraan yang kami alami, rasa ditinggalkan yang sebenarnya tidak nyata, karena Engkau tak pernah meninggalkan kami, dan segala penderitaan kami timbulnya adalah dari bayangan mengenai kematian itu. Tetapi Engkau telah mengalahkannya, PutraMu telah mengalahkan bayangan gelap itu di kayu salib yang suci. Bantulah kami melewati hari-hari dengan mengingat pengurbananNya, dan menyatukan seluruh kehidupan kami dengan Dia yang telah menderita dan bangkit. Karena di balik kematian terdapat hidup, dan di balik penderitaan tersimpanlah sukacita. Supaya baik penderitaan maupun kelimpahan tidak merampas benih yang Kautaburkan di dalam hati kami. Supaya kami layak Kau ikutsertakan dalam HidupNya.
Sebab hanya Dialah pengantara kami, kini dan sepanjang masa.
Amin.
Ringkasan lain tentang Renungan Tentang Penabur