“Seutama-utama sedekah adalah pada bulan Ramadhan,” kata Rasulullah SAW (HR Tirmidzi dari Anas ra). Beliau sendiri memberi
teladan. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, ‘’Rasulullah SAW adalah manusia paling dermawan, lebih-lebih pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajari Al Qur`an. Kedermawanan Rasulullah SAW saat itu lebih baik daripada hembusan angin sepoi-sepoi’’ (HR Bukhari dan Muslim).
Namun, Ramadhan bukanlah bulan intermezo (selingan). Bukan pula semacam halte atau perhentian sementara. Bukan bulan yang tidak ada relevansinya dengan sebelas bulan lainnya, baik sebelum maupun sesudahnya.
Bahkan, kata Imam Bisyr, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shalih akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun (tak hanya saat Ramadhan).”
lmam Asy Syalabi pernah ditanya, “Mana lebih utama, Rajab atau Sya’ban?” Jawab beliau: “Kun Rabbaaniyyan walaa takun Sya’baaniyyan! (Jadilah engkau muslim Rabbani/yang selalu ingat Allah kapan saja, jangan jadi Sya’bani/yang hanya beribadah di Sya’ban saja). Dulu, Nabi SAW pun amalnya selalu berkesinambungan.”
Hal itu ditegaskan Ummul Mukminin Aisyah ra ketika beliau ditanya, apakah Rasulullah dulu mengkhususkan suatu bulan tertentu untuk beribadah. ‘’Tidak,’’ jawab Aisyah, ‘’beliau selalu berkesinambungan.”
Dari situlah Imam Hasan Al Bashri menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian.”
Walhasil, Ramadhan adalah riyadhoh tazkiyatun nafs, untuk mensucikan diri dari dosa-dosa sebelas bulan sebelumnya, sekaligus mensucikan komitmen pada sebelas bulan berikutnya.
Jadi, kalau Anda sudah bersedekah lebih banyak dari biasanya pada Ramadhan lalu, jangan terus berhenti bederma. Dengan do’a Allaahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhan, bukan berarti menunda hak orang dhuafa hingga Ramadhan tahun depan.
Tak mengapa kuantitas sedekah di bulan lain menurun dibanding Ramadhan. Yang penting istiqomah atau konsisten sepanjang hayat. Kata Nabi SAW: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu walau sedikit” (Muttafaq ‘Alaih).
Ahli sedekah sepanjang hayat misalnya Sholahuddin Al Ayyubi. Pada 1171, Panglima Sholahuddin (Saladin) berhasil menyatukan Mesir dan Syria dalam naungan satu Daulah Islamiyah. Selanjutnya pada 1187, ia berhasil merebut kembali Al Aqsha (Yerusalem) dari kekuasaan Romawi. Keberhasilan ini ditebus melalui operasi jihad yang fenomenal melawan pasukan yang dipimpin tiga jenderal: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I dari Inggris, dan Phillip II dari Prancis. Masing-masing dengan ratusan ribu pasukan yang mengular di belakangnya.
Pada 1193, dunia kehilangan Sholahuddin Al Ayyubi sang bintang jaman. Ketika peti harta warisan Sholahuddin dibuka, isinya nyaris kosong.
Ibnu Abbas ra menuturkan: ”Aku bersaksi bahwa Rasulullah SAW shalat ’Id sebelum khutbah, lalu beliau berkhutbah. Merasa suaranya kurang terdengar oleh kaum wanita di barisan belakang, beliau pun mendatangi tempat para wanita. Lalu berwasiat agar mereka bersedekah. Bilal lalu membentangkan surbannya untuk mengumpulkan sedekah para wanita tersebut. Mulailah para wanita tersebut melemparkan cincin, anting-anting, dan perhiasan lainnya ke surban itu sebagai sedekah” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan untuk almarhum atau almarhumah orang-orang tercinta pun, Anda dapat bersedekah atas namanya. Dulu, seorang shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, ibuku telah wafat dan belum sampai berwasiat tentang hartanya. Jika sempat berwasiat, kukira pasti akan bersedekah juga. Maka jika aku sedekah atas nama ibuku, apakah ia akan mendapatkan pahala?” Jawab Rasul, “Ya!”