• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Kajian Keagamaan - Umum>Adab untuk Diri Sendiri dan Saudara Seiman

.

Adab untuk Diri Sendiri dan Saudara Seiman

oleh : verarl    

Pengarang : Abu Hafsa al-Nisaburi
Adab Untuk Diri Sendiri dan Saudara Seiman
3. Adab untuk diri sendiri terdiri daripada ;
a. Membersihkan hati
daripada sifat-sifat yang keji dan tercela dan sebaliknya menghias diri dengan sifat-sifat yang terpuji. Karena dalam keadaan hati yang bersihlah cahaya ilahi akan menerangi hati.
Menurut Imam Al Ghazali bahwa najis itu tidak semestinya terdapat pada pakaian dan tubuh badan secara zahir. Selagi hati masih tercemar dengan sifat-sifat yang keji maka cahaya ilmu yang bermanfaat kepada agama menjadi tidak dapat menerangi hati itu. Kerana inilah Ibnu Mas’ud r.a berkata : “Ilmu itu bukan diperolehi dengan banyak periwayatan dan kajian buku-buku tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dilontarkan Allah kedalam hati.”
Dan lagi sebenarnya fitrah manusia itu suci, akan tetapi proses penerimaan ilham tersebut, terkadang menjadi tidak murni di sebabkan kekotoran jiwa yang diliputi nafsu syahwat..dalam hal ini Allah berfirman " Sesungguhnya beruntunglah yang mensucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya " ( QS Asy Syams : 9-10 ).
Baik dan buruk berasal dari intuisi, tidak melalui fikiran dan rekaan. Alat penerimanya adalah hati. Dari Allah turun ke dalam jiwa manusia berupa intuisi, baik kepada jiwa yang kotor atau jiwa yang telah mendapat kebersihan..dan dari jiwa pula turun menjadi perbuatan..Ketika jiwa manusia kotor, maka intuisi kebaikan mendapat sebutan hati kecil atau hati Nurani..hati yang paling dalam dan tersembunyi sebaliknya apabila rasa iman telah memenuhi ruang jiwanya, maka rasa kejahatan itu akan menjadi hati yang kecil menggantikan rasa keimanan yang tenggelam, sehingga untuk bersubahat dengan sifat-sifat mazmumah akan terasa sulit dan payah sekali, kerana jiwanya di dominasikan oleh rasa keimanan yang besar percaya pada Allah dan berpegang teguh pengertian dan pendirian.
b. Mengosongkan hati daripada hal-hal keduniaan dan menjauhkan daripada memikirkan tentang anak dan isteri dan segala yang membuat hati bimbang agar hati itu sepenuhnya kearah Allah.
Allah telah berfirman ,“ Allah tidak menjadikan untuk seorang itu dua hati dalam perutnya yaitu tidak masuk ke dalam hati seorang Islam jika ia memikirkan selainNya. “ (Al-Ahzab : 4)
c. Orang yang belajar atau murid itu hendaklah merendah diri dan tidak menganggap dirinya lebih besar daripada ilmu yang diajarkan kepadanya oleh guru. Sebaliknya murid hendaklah menerima apa yang di ajarkan oleh guru dan apa yang disuruhnya, tidak menyangkal gurunya tetapi hendaklah menyerahkan kehendaknya itu bulat-bulat kepada gurunya dan menerima saja apa yang disuruh oleh guru supaya dipelajari
Imam Al-Ghazali berkata “Dan Ketahuilah bahwa semulia-mulia ilmu dan puncaknya ialah ma’rifatullah Ta’ala yaitu mengenal Allah melalui nur keimanan yang terdapat di dalam hati. ialah merupakan lautan yang tidak diketahui penghujung dalamnya. Para Anbiya’ merupakan manusia yang paling jauh berada di dalamnya, diikuti oleh para Auliya’, kemudian orang-orang yang menyusul mereka. “
d. Tujuan mereka menuntut ilmu itu hendaklah semata-mata kerana Allah Ta’ala yaitu menjunjung perintahNya dan sentiasa mengingati Allah Ta’ala. Ini akan menyampaikannya kepada ma’rifatullah Taala dan seterusnya kepada martabat yang tinggi dan kepada kedudukan Malaikat Al Muqarrabin.
4. Adab kepada Ikhwan ( Sudara seiman ), antara alin:
a. Dia hendaknya mempertahankan hormat untuk mereka baik dalam hadir maupun ketiadaanya, tidak mengihianatinya.
b. Dia hendaknya memberikan nasihat kepada mereka apabila mereka memerlukannya dengan maksud untuk memperkuat mereka.
c. Dia hendaknya hanya berbaik sangka kepada saudaranya dan tidak mencari-cari kelakuan buruk mereka.
d. Dia hendaknya menerima permintaan ma’af mereka, bila mereka memintanya.
e. Dia hendaknya selalu dalam kedamaian dengan mereka.
f. Dia hendaknya membantu mereka bila sedang diserang.
g. Dia hendaknya tidak meminta menjadi pemimpin mereka, hanya menjadi sesama saudara dengan mereka.
h. Dia hendaknya memperlihatkan kerendahan hati kepada mereka sejauh mungkin.
Untuk menjaga hubungan baik terhadap mursyidnya sesungguhnya adab terhadap mursyid banyak dan dapat dibaca pada ringkasan “Adab Murid Kepada Mursyid” sebagai pedoman murid , karena menurut Abu Hafsa al-Nisaburi “Barangsiapa mempertahankan adab akan mencapai Maqam Insan Kamil, dan barangsiapa meninggalkan adab akan dijauhkan dari keterterimaan ke dalam Hadhirat Allah”.
Diterbitkan di: Agustus 08, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.