Kajian teoritis Etika dalam Berdiskusi
Siapakah yang paling benar apabila masing-masing telah memaparkan argumentasinya
yang menurut kapasitas berpikir yang ada pada diri kita sekarang, itu merupakan sebuah kebenaran. Bagi yang merasa dirinya masih awam akan din islam ini, dan telah mengetahui serunya diskusi yang terjadi antara berbagai pihak yang menyatakan dirinya berada dalam naungan kebenaran islam. Mereka pasti akan merasa tidak mengerti apa hakikat yang sedang didiskusikan tersebut (bantah membantah). Siapakah yang paling benar??. Pertanyaan ini muncul dibenak hampir setiap ummat islam yang masih awam mengenai perkara ini. Yang satu kita rasa benar, begitu pula dengan yang lainnya. Melihat berbagai aktivitas dakwah akhir-akhir ini, banyak sekali kita lihat perkembagannya. Namun disisi lain, ada diskusi yang seru mengenai landasan dasar/argumentasi metode dakwah yang sedang atau telah dipakai.
Ciri buku-buku yang dimungkinkan prosestase kejujurannya adalah sebagai berikut :
• Mengutip ayat al-Qur’an (bersumber dari al-qur’an)
• Mengutip al-hadist
• Mengutip pendapat ulama yang telah dipercaya oleh hampir semua ummat islam di dunia
• Menjelaskan kutipan tersebut dengan kutipan pula, baik itu bersumber dari al-qur;an, al-hadist, pendapat para sahabat, dan ulama yang telah dipercaya.
Anda sepertinya melakukan hal tersebut dengan merasa yaqin bahwa Allah yang haq telah membenarkan apa yang ada lakukan tersebut. Inilah yang tidak konsisten, disalah satu pihak etika Rasulullah dalam berdakwah itu telah dibahas akan tetapi dilain pihak kita menjadi pelanggar terhadap apa yang telah digariskan oleh rasulullah mengenai etika yang lain.
Apabila anda ditanya.. mengenai perkara ini.. siapakah yang paling benar??
Yang palingbenar adalah Allah dan Rasul-Nya.
Semangat untuk membantah yang lahir hanya berdasarkan kefanatikan golongan atau manhaj, tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Tujuannya sama, adalah mengklarfikasi bahwa bukan begitu pemahaman yang benar terhadap manhaj tersebut. Jadi dia lahir bukan semata-mata karena Al-qur’an dan Assunnah difahami menyimpang. Akan tetapi, lebih karena nama manhaj tersebut ”diserang” nama baik yang telah ditetapkan sendiri oleh penganut manhaj itu sendiri. Akan muncul berbagai argumen yang akan lahir, terkait dengan apa yang telah saya katakan tersebut. Dalil pun akan mengalir, beserta penjelasannya yang beragam. Ingat, apabila dalil itu digunakan untuk sikap mental seperti yang telah kami jelaskan diatas, maka bisa kami katakan bahwa dalil tersebut hanya sekedar alat untuk mencapai keingingan dari pembantah tersebut, diantaranya yaitu untuk membuktikan bahwa manhajnya lah yang paling benar.