Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Ramadan Sebagai Solusi Krisis Moral

Ramadan Sebagai Solusi Krisis Moral

oleh: ibeng     Pengarang : M. Agus Muhtadi
ª
 
Bulan suci Ramadhan biasanya disambut umat Islam sedunia dengan berbagai seremoni ritual dan kultural. Masing-masing tempat memiliki cara dan keunikan tersendiri dalam menyambutnya. Sekolah-sekolah, perusahaan, bahkan toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tak mau ketinggalan juga ikut meramaikan penyambutan Ramadan. Acara-acara yang bertajuk ramadan pun mulai menyeruak di berbagai media seiring datangnya bulan suci Ramadan.

Ibadah apapun, baik yang wajib maupun sunnah, menjadi lebih sering dikerjakan, mulai dari salat tarawih, tadarus, serta ibadah-ibadah lainnya. Tak lain semua dilakukan agar mendapatkan pahala yang melimpah dari sang pencipta. Sebagaimana yang dijanjikan oleh-Nya; bahwa semua ibadah yang dilakukan selama bulan ramadan yang didasari dengan niatan lillahita’ala akan dilipat gandakan pahalanya.

Apabila ditinjau dari kacamata sejarah agama, maka ritual puasa sendiri sebenarnya tidak hanya dikenal dalam tradisi Islam. Jauh sebelum diwahyukannya Islam, umat beragama maupun kaum-kaum terdahulu telah melaksanakan ritual ini. Sebagaiman yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah yang berpuasa pada musim semi, orang Budha yang berpuasa (menghindari makan daging) selama lima hari sebelum kematian Budha, dan agama-agama lain seperti Hindu, Yahudi, dan Katolik. Hal ini semakin dipertegas al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: Al-Baqarah: 183)

Berkaitan dengan ayat di atas, tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Oleh karena takwa adalah induk dari segala kebajikan dan asal dari segala kesalehan, baik bagi individu maupun masyarakat. Orang yang bertakwa adalah orang yang menyadari bahwa dirinya senantiasa dilihat, didengar, dan diketahui oleh Allah.

Seseorang mungkin bisa berdusta dan mengaku dirinya sedang berpuasa kepada orang lain, tetapi tidak mungkin bisa berdusta kepada Allah. Oleh karenanya, sia-sia belakalah orang yang ibadah puasanya tidak didasari dengan ketakwaan. Tidak ada yang mereka dapatkan selain rasa haus dan lapar.

Namun demikian, tidaklah cukup dengan hanya memperhatikan sisi teologis ibadah puasa (menghindari makan dan minum pada siang hari serta menunaikan shalat tarawih dan membaca al-qur’an pada malam hari). Dimensi sosial dari ibadah puasa jangan sampai terlupakan. Dengan kata lain, nilai-nilai puasa ramadan harus diimplementasikan di tengah-tengah masyarakat.

Krisis Moral

Indonesia telah mengalami krisis multidimensional (dalam hal ini para cendekiawan indonesia memaknainya sebagai krisi moral) berkepanjangan sejak pertengahan tahun 1997. Krisis ini digambarkan terdiri dari berbagai unsur; politis, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Kita yang harusnya mempraktikkan amanat, namun tidak sedikit yang mempraktikkan khianat. Kita yang harusnya bersikap adil, namun tidak sedikit pemimpin yang bertindak zalim. Kita yang harusnya bersikap jujur, namun kebohongan telah mendominasi masyarakat. Kita yang harusnya menjauhi praktik fitnah, namun tidak sedikit yang mempraktikkan adu domba.

Hal ini diakibatkankan karena umat Islam Indonesia hanya memperhatikan aspek pribadi-rohani ramadan dan mengabaikan aspek moral-sosialnya. Ajaran Islam menuntut suatu pemenuhan etika pribadi sebagai syarat awal bagi pemenuhan etika sosial. Antara tata individu dan sosial haruslah seiring.

Sebuah ritual vertikal tidaklah bernilai di hadapan tuhan apabila tidak dibarengi dengan ritual horisontal. Suatu keberhasilan sebagai pelaku moral dapat diukur dari kesuksesan yang dicapainya dalam mengarungi kehidupan pribadi dan sosial dalam masyarakat.

Tak terkecuali ibadah puasa, dalam pandangan Islam tidak memiliki nilai apapun kalau tidak memiliki dampak positif bagi dirinya dan bagi orang lain sekaligus. Dengan demikian seseoarang dinilai berdosa apabila hanya bereksistensi monastik dengan memicingkan mata dari keadaan masyarakat. Sungguh sangat riskan melihat kenyataan bahwa ibadah ramadan yang telah dijalani selama ini tidak mampu menuntaskan krisis moral yang melanda bangsa ini.

Oleh sebab itu, hendaknya ramadan tidak hanya dijadikan sebuah momentum belaka. Ramadan hendaknya dijadikan sebagai sebuah pijakan awal untuk perubahan dan perbaikan moral, sosial, politik, dan ekonomi.

Nilai-nilai ramadan haruslah mengejawantah dalam diri umat Islam Indonesia sebagai suatu kepribadian yang jujur, penuh toleransi, serta menjauhkannya dari praktek-praktek yang bersifat zalim. Terutama bagi para pemimpin negara diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai ramadan dan dengannya mau meninggalkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan merugikan rakyat.

Lebih lanjut, puasa ramadhan ini hendaknya dijadikan sebagai suatu lahan subur bagi bibit-bibit rekonsiliasi melalui pengembangan kearifan sosial dan merupakan solusi bagi penyelesaian krisis yang tak berkesudahan ini.

Diterbitkan di: 05 Juni, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.