Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Tujuan Hukum Islam (maqasid syari'ah)

Tujuan Hukum Islam (maqasid syari'ah)

oleh: irfansenuko     Pengarang : Prof. TM. Hasbi ash Shiddieqy
ª
 
Secara global, tujuan syara’ dalam menetapkan hukum-hukumnya adalah untuk kemaslahatan manusia seluruhnya, baik kemaslahatan di dunia yang fana ini, maupun kemaslahatan di hari yang baqa’ kelak.
Dalam islam secara tegas dijelaskan bahwa Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al- Anbiya’ ayat 16:

“Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”


A. Cara Mengetahui Tujuan Hukum Islam

Sudah jelas bahwasanya manusia dilahirkan dengan diberi bekal untuk hidup yaitu fitrah. Fitrah manusia mempunyai tiga daya atau potensi yaitu Aql, Syahwat, dan Gadlab. Daya aql berfungsi untuk mengetahui (ma’rifat) Allah dan meng-Esakannya. Daya Syahwat berfungsi untuk menginduksi obyek-obyek yang menyenangkan. Daya Gadlab berfungsi untuk mempertahankan diri dan kesenangan. Tujuan hukum islam itu sesuai dengan fitrah manusia dan fungsi daya fitrah dari semua daya fitrahnya. Secara singkat fungsi untuk mencapai kebahagiaan hidup dan mempertahankannya yang disebut para pakar filsafat hukum islam dengan istilah al-Tahsil wa al-ibqa’ atau mengambil maslahat serta mencegah kerusakan, atau bisa disebut juga jalb al-masha’lih wa daf’al mafasid.

B. Tujuan Hukum Islam dilihat dari segi Pembuat Hukum

Dibagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, dapat diketahi melalui penalaran induktif atas sumber-sumber naqli, yaitu wahyu baik Al-Qur’an maupun Sunnah. Tujuan ini dibagi menjadi tiga yaitu, hukum yang berupa keharusan melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya, memilih antara melakukan apa tidak melakukan, dan melakukan atau tidak melakukan perbuatan karena ada atau tidaknya yang mengharuskan keberadaan hukum tersebut. Ketiga tujuan tersebut juga dilihat dari segi tingkat dan kepentingannya bagi manusia yaitu:

1. Tuntutan Primer (al-dlaruriy)

Tujuan primer hukum islam ialah tujuan hukum yang mesti ada demi kehidupan mansia. Apabila tujuan itu tidak tercapai maka akan menimbulkan ketidak langsungan hidup manusia di dunia dan ahirat, bahkan merusak kehidupan itu sendiri. Kebutuhan hidup ini hanya bisa dicapai apabila terpeliharanya lima tujuan hukum islam, yang disebut al-dlaru’riyat al-khams / al-kullyat al-khams / maqa’sid al-syariah. Kelima tujuan itu ialah:

a) Memelihara Agama (Hifdhu din)
Yaitu dengan meyakini aqidah yang benar dan lurus serta melakukan ibadah secara tulus, dan melarang secara tegas hal-hal yang merusak eksistensinya. Beragama merupakan kekhususan bagi manusia, merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi karena agamalah yang dapat menyentuh nurani manusia. Misalnya menjalankan kewajiban sholat

b) Memelihara Jiwa (Hifdhu nafs)

Yaitu untuk menyelamatkan jiwa, islam mewajibkan umatnya untuk makan dan minum yang halal dan baik, termasuuk kepada anak turunnya sehingga kehidupan dapat berlangsung. Selain itu juga melarang melakukan pembunuhan tanpa ada hak

c) Memelihara Akal (Hifdhu aql)

Yaitu islam mewajibkan menuntut ilmu agar memperoleh pengetahuuan dengan cara memberdayakan potensi akal yang telah dianugrahkan. Karena dengan akal manusia dapat membedakan antara kebaikan dan kejelekan. Pendidikan mutlak diperlukan untuk menjaga akalnya agar tidak rusak akibat perbuatan yang dapat membawa kehancuran, seperti barang-barang haram yaitu khamr, narkoba, dll. Karena jenis barang tersebut jika dikonsumsi dapat mengganggu sistem kerja fisik dan psikis, serta kerja otak dan syaraf yang dapat berakibat fatal

d) Memelihara Keturunan (Hifdhu nasl)

Yaitu menjaga keturunan supaya tidak rusak, maka islam mengaturnya dengan cara pernikahan dan melarang perzinaan.

e) Memelihara Harta (Hifdhu Mal)

Yaitu untuk menyelamatkan harta benda. Islam mengatur dalam muamalah dan melarang tindakan yang dapat menimbulkan kerugian, seperti pencurian, perampokan, korupsi, manipulasi, dll. Karena islam sangat menghargai kepemilikan terhadap harta. Meskipun pada hakikatnya semua harta benda itu kepunyaan Allah SWT, namun islam juga mengakui hak pribadi seseorang.

2. Tujuan Sekunder (al-Hajiyyat)

Tujuan sekunder hukum islam adalah terpeliharanya tujuan kehidupan manusia yang terdiri dari berbagai kebutuhan hidup itu sendiri. Apabila kebutuhan ini tidak terwujud, maka tidak akan menciderai kehidupan manusia, hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan saja. Kebutuhan ini terdapat dalam ibadah, adat, muamalah, dan jinayah. Dalam bidang ibadah, seperti rukhsah-ruksah yang menimbulkan keringanan untuk menghindarkan masaqqah lantaran sakit atau safar. Dalam bidang muammalah seperti, dibolehkanya thalaq untuk menghindari mafsadah, jual beli salam, dll.

3. Tujuan Tersier (al- Tahsiniyyah)

Tujuan tersier hukum islam ialah yang ditujukan untuk menyempurnakan hidup manusia dengan cara melaksanakan sesuatu yang baik dan yang layak menurut kebiasaan dan menghindari hal-hal yang tercela menurut akal sehat. Pencapaian tujuan tersier ini biasanya terdapat dalam bentuk budipekerti mulia atau ahlakul karimah. Budi pekerti ini mencakup etika hukum, baik ibadah, muamalah, adat, dan pidana. Misal dalam bidang ibadah, seperti kewajiban bersuci dari najis, menutup aurat, memakai pakaian yang indah dan baik, mengerjakan amalan sunnah,

Diterbitkan di: 05 Desember, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.