Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Al-Makki dan al-Madani

oleh: berkah_ramadhan     Pengarang : NAKHE'I M.H.I
ª
 

Pembahasan tentang ayat-ayat makkiyah dan madaniyah kurang mnedapatkan porsi yang memadai –jika tidak dikatakan tidak sama sekali– dalam pembahasan Ushul Fiqh, padahal pembahasan tema tersebut sangat penting sebab terkait dengan konsepsi nasakh dan mansukh yang masih menjadi polemik dan berkaitan dengan karakteristik ajaran yang dibawanya.

Terlepas dari perselisihan mengenai definisi ayat makkiyah dan madaniyah serta ciri-ciri formalnya, penulis lebih tertari menyoroti kandungan substansi ajaran yang dibawa ayat-ayat makkiyah dan madaniyah. Sebab pada yang terakhir ini terdapat korelasi dengan upaya aplikasi ajaran Islam setepat-tepatnya sesuai dengan situasi dan kondisi di mana ajaran itu pertama kali digelar.

Berangkat dari sejarah hijrah Nabi yang fenomenal itu, maka dimulailah babak baru yang sangat menentukan bagi langkah-langkah dakwah Islam selanjutnya. Hijrah yang dikenang, bahkan kemudian dijadikan permulaan tahun baru Islam. Hijrah tidak hanya menandai perubahan dramatik dalam pertumbuhan kuantitas umat Islam dan pembentukan masyarakat politik atau "negara Islam" di Madinah, melainkan juga ditandai dengan peralihan yang signifikan dalam materi pokok ajaran dan misi yang diemban Nabi. Jika para periode makkiyah ajaran al-Qur`an lebih dicanangkan untuk pembentukan masyarakat yang bertauhid dan bukti-bukti pembenaran akan adanya Allah, janji dan ancaman serta pembentukan moral atau akhlak al-karimah, maka pada periode Madinah mulai disyari`atkan hukum-hukum `amaliyah dan norma-norma politik sebagai basis pelaksanaan negara Islam Madinah. Pada periode Makkah belum disyari`atkan kewajiban haji, puasa, shalat, dan kewajiban yang lain-lain. Menurut Ahmad al-Na`im, perubahan itu tidak hanya dari "umum" ke khusus, dari masalah agama dan moral ke masalah politik dan hukum, melainkan juga perubahan dalam makna dan implikasi al-Qur`an dan al-Sunnah periode Madinah tidak selalu mencerminkan makna dan implikasi "pesan yang pasti", sebagaimana yang diwahyukan di Madinah.[1]

Namun demikian tidak dapat digeneralisasi, bahwa ayat-ayat Madinah hanya dicanangkan untuk mengatur hubungan antara umat Islam dengan komunitasnya, antara muslim dengan kafir Quraisy di satu pihak dan antara rakyat dengan negara di pihak lain. Di dalam ayat-ayat madaniyah juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang ketauhidan, keimanan dan budi pekerti.

Pengetahuan tentang kondisi umum periode Makkah dan Madinah serta karakteristik ajaran di kedua periode itu sangat penting, supaya seseorang yang hendak mensosialisasikan ajaran tertentu dapat menempatkan posisi masing-masing ajaran dalam kondisi dan situasi yang tepat, sebab kesalahan dalam memposisikan ajaran adalah "kecerobohan".


[1] Al-Na`im, Op. Cit. hlm. 28.

Diterbitkan di: 06 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.