Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Imam SYAFI’I MENUNTUT ILMU

Imam SYAFI’I MENUNTUT ILMU

oleh: aliyahromu    
ª
 

Imam Syafi’i menuntut ilmu di Mekkah hingga ia alim dalam bidang hadits, fiqih, dan bahasa Arab. Dia berguru kepada Imam Masjidil Haram dan Mufti Mekkah, Imam Muslim bin Khalid Az-Zanji, sampai akhirnya ia mendapatakan izin dari sang imam untuk mengeluarkan fatwa ketika masih berumur 15 tahun.

Sejak masa remaja Imam Syafi’i sudah menjadi ahli fiqih dan ahli tafsir Al-Qur’an, disamping ia juga menguasai bahasa Arab. Sampai-sampai ketika Sufyan bin Uyainah ditanya tentang tafsir dan fatwa, dia menjawab “Tanyalah pada pemuda ini!” Kemudian Imam Syafi’ipun menjadi guru di Masjidil Haram, Mekkah.

Kemudian pada umur 16 tahun, Imam Syafi’i berguru pada Imam Malik yang menjadi imam di Madinah Al-Munawarah. Pada saat itu, Imam Syafi’i telah hafal dan mendalami seluruh isi kitab Al-Muwaththa’ dengan kemahirannya berbahasa dan keluasan pengetahuan yang dimilikinya. Imam Syafi’i lalu membacakan hafalan Al-Muwaththa’ di hadapan Imam Malik dan terus menetap dimadinah sampai Imam malik wafat pada tahun 179 H. Ketika itu umur Imam Syafi’i 27 tahun dan dia sering pulang pergi Madinah-Mekkah.

Dalam kesempatan yang lain, saat berusi 34 tahun ketika Imam Syafi’i berada di Irak Imam Syafi’i memperoleh kesempatan mempelajari fiqih ulama Irak dan membaca kitab-kitab induk bersama Muhammad bin Al-Hasan sekaligus mendalami kitab-kitab tersebut. Melalui kegiatan itulah Imam Syafi’i berhasil menguasai fiqih ulama Hijaz dan ulama Irak.

Ketika tinggal di Mekkah pada periode ini, Imam Syafi’i menetapkan kaidah-kaidah istinbathn(pengambilan dalil) untuk membedakan antara fiqih ulama Hijaz dan fiqih ulama Irak. Kala itu, halaqah ilmiah Imam Syafi’i menjadi majelis yang paling terkenal, kerena banyak bermunculan dinamika perdebatan dan adu argumentasi, di dalamnya juga dikupas berbagai pembahasan yang muskil. Pada periode inilah Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah yang berisi ilmu ushul fiqih.

Pada tahun 195 H, Imam Syafi’i kembali mengunjungi Baghdad untuk kedua kalinya dan menetap di sana sekitar dua tahun untuk menyebarkan konsep baru yang diterapkan dalam berijtihad. Disamping itu, imam syafii juga melakukan banyak diskusi dengan para ulama, menyusun beberapa risalah dan kitab-kitab baru, serta melangsungkan sebuah halaqah ilmiah yang kemudian menjadi amat terkenal di Masjid Jami’ Al-Gharbi. Diantara para ulama yang mengikuti halaqah tersebut adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Bisyr Al-Marisy, Abdurrahman bin Mahdi, Abu Tsaur, dan Husain bin Ali Al-Karabisi. Para ulama itupun behitu terpengaruh oleh madzhab Imam Syafi’i dan juga dengan kepiawaiannya dalam membela sunnah dan hadits.

Setelah menetap selama dua tahun di Baghdad, Imam Syafi’i kemudian kembali ke Mekkah untuk mengembangkan ilmu dan menyebarkan madzhabnya. Dia mengajar ushul dan kaidah-kaidah fiqih di serambi Masjidil Haram Mekkah. Pada tahun 198 H, Imam Syafi’i kembali lagi ke Baghdad untuk ketiga kalinya dan menetap di kota itu selama delapan bulan.

Kali ini Imam Syafi’i sengaja tidak menetap terlalu lama di Baghdad demi menghindari kebijakan politik Sultan Al-Ma’mun yang lebih condong kepada kelompok Mu’tazilah. Dalam kunjungannya ini Imam Syafi’i mengijazahkan kitab-kitabnya kepada muridnya, Husain bin Ali Al-Karabisi berdasarkan tulisan Az-Za’farani, salah seorang murid Imam Syafi’i yang belajar sewaktu Imam Syafi’i mengunjungi Baghdad sebelumnya. Pada tahun 199 H, Imam Syafi’i kembali melakukan perjalanan ke Mesir.

Sumber :
Fiqih Imam Syafi’i karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaili (2008)

Diterbitkan di: 30 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.