Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Ikhlas BY DOING

oleh: encik     Pengarang : Ippo Santosa
ª
 
Tidak dapat dipungkiri, orang-orang mungkin punya sederet alasan untuk menunda sedekah, memperkecil sedekah atau bersedekah tidak dalam bentuk uang.

Demi menyelamatkan dompetnya, ada--ada saja kilah mereka.

"Sedekah itu seikhlasnya saja. Sekedarnya."
Lihat tuh, seolah-olah kata ikhlas itu sama maknanya denga kata sekedarnya. Padahal tidak begitu. Asal tahu saja, ikhlas itu omongan para pemula. Mereka yang sudah terbiasa bersedekah, sudah lupa sedekah berapa, sedekah dimana, sedekah kepasa siapa.

"Sedikit tidak apa-apa! Yang penting 'kan ikhlas! Padahal banyak dan ikhlas, jelas-jelas itu lebih baik lho? Dan hingga detik ini, saya tidak menemukan satu pun dalil agama untuk bersedekah sedikit. Yang ada hanyalah dalil-dalil untuk bersedekah banyak-banyak dan segera. Sudahlah, jangan kikir! (Betapa malangnya orang kikir. Tidak ada yang menyukai mereka. Bahkan orang kikir pun benci sama kikir).

"Ah, tidak perlu banyak-banyak. Ntar bisa riya (pamer), ujub (bangga diri) dan sombong lho!" Padahal, bukankah lebih baik bersedekah lebih banyak dan lebih segera, sambil memelihara keikhlasan? Sudahlah, jangan banyak alasan!

"Sedekah itu tidak harus berbentuk uang. Senyum juga sedekah. Ilmu juga sedekah". Nah, ini ada benarnya. Hanya saja, itu semua tidak cukup. Tetap perlu sedekah dalam bentuk uang. Makanya muncul angka 2,5 persen, 10 persen, 2 kali lipat, dan 700 kali lipat. Sudahlah, jangan berdalih terus!

"Lha, mau sedekah sama siapa? Sama orang miskin? Ntar mereka malah tamabah malas ! Sama institusi? Ntar malah disalah gunakan!" Begini, Mereka yang menanam keburukan akan menuai keburukan. Dan mereka yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan. Tidak perlu risau. Tetaplah berusaha untuk bersedekah tepat sasaran. Namun demikian, Anda tidak tepat sasaran, balasan dari-Nya untuk Anda pastilah tepat sasaran. Tidak mungkin meleset!

"Sedekah itu amalan khusus buat orang kaya". Siapa bilang ? Kitab suci menegaskan, siapa yang disempitkan rezekinya (miskin) hendaklah menafkahkan hartanya (sedekah). Jadi orang miskin sekalipun disuruh bersedekah. Yah, apalagi Anda yang jelas-jelas bukan orang miskin! Hanya orang fakir saja yang tidak disuruh bersedekah.

Ngomong-ngomong, ketika Anda belajar shalat dulu, apakah Anda ikhlas? Bisa ya, bisa tidak. Kemungkinan besar Anda melakukannya supaya dapat ganjaran dari orang tua. Atau sebaliknya, supaya terhindar dari hukuman. Iya, kan? Lha sekarang apakah Anda shalat karena ganjaran atau hukuman dari orang tua? Tentu tidak! Mudah0mudahan sekarang Anda shalat dengan ikhlas beneran. Jadi, karena sering-sering shalat, akhirnya Anda ikhlas dengan sendirinya. Iniah yang dinamakan dengan Ikhlas By Doing. Dengan kata lain, gak nunggu ikhlas, baru shalat. Hah, ajaran dari mana itu?

Begitu pula dengan sedekah. Ketika baru-baru bersedekah, mungkin Anda juga tidak 100 persen ikhlas. Ada sedikit keterpaksaan. Ada sedikit riya. Ada sedikit ujub. Macam-macamlah. Namun begitu Anda sering-sering melakukannya, mudah-mudahan Anda akan ikhlas dengan sendirinya. Yah, Ikhlas By Doing. Dengan kata lain, gak nunggu ikhlas dulu, baru sedekah. Kesimpulannya, solusi alternatif untuk menyembuhkan penyakitnya dan ujub adalah dengan sering-sering bersedekah. Masih juga kikir?
Diterbitkan di: 19 Juni, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.