Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kemukjizatan Al-Qur'an

oleh: Cpchenko     Pengarang : Sagita Catur Pamungkas
ª
 
I’JAZ AL-QUR’AN
1. Definisi Mukjizat

1) Definisi Secara EtimologiKata “Mukjizat” menurut Quraish Shihab berasal dari bahasa Arab اعجز (a’jaza) yang artinya "melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz dan apabila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai معجزة (mu’jizat). Tambahan ta’ marbuthah (ة) pada kata معجزة menunjukkan makna mubalaghah (superlatif).
Menurut Manna al-Qathan i’jaz berarti lemah, namun ini dipakai untuk mengakui kelemahan dalam memperbuat sesuatu. Ia lawan dari kuasa.
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.
Bersandar kepada definisi para ahli tafsir di atas, jadi secara bahasa, segala ketidakmampuan seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan dapat dikatakan i’jaz.

2) Definisi Secara Terminologi
Secara terminologi, i’jaz al-Qur’an adalah suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw. sebagai bukti kenabian dan kerasulannya yang ditantangkan kepada orang yang ragu untuk melakukan dan mendatangkan hal serupa tetapi orang itu tidak mampu menandinginya.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa I’jaz al-Qur’an adalah bukti kebenaran yang terdapat di dalam al-Qur’an sebagai bukti kenabian Muhammad Saw. dan ajarannya.
Dari definisi mukjizat, makna “bukti atau tanda” inilah yang paling utama bukan lemah dan melemahkan karena tujuan risalah (kerasulan) adalah agar seseorang mampu memahami dan meyakini bahwa risalah tersebut benar-benar dari Zat yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Adapaun bagi mereka yang sudah percaya terhadap kerasulan Nabi beserta apa yang disampaikannya yang berupa wahyu dari Tuhan maka peristiwa luar biasa tersebut tetap disebut mukjizat. Sebab dimensi lain makna mukjizat (ketidak mampuan akal) tetap berlaku pada orang yang sudah percaya tersebut. Oleh karena itu fungsinya disamping sebagai “bukti” juga merupakan penjelasan dan pemantapan terhadap keyakinan seseorang.

2. Macam-Macam Mukjizat
Secara garis besar, mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok yaitu:
1) Mukjizat Material/Hissy (tidak kekal)
Mukjizat ini maksudnya adalah keluarbiasaannya dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat nabi tersebut menyampaikan risalahnya. Mukjizat ini sengaja ditujukkan atau diperlihatkan kepada mereka yang tidak biasa menggunakan kecerdasan fikirannya serta tidak cakap pandangan mata hatinya dan yang rendah budi perasaannya. Contoh yang termasuk mukjizat ini adalah mukjizat para nabi terdahulu seperti; tongkat Nabi Musa a.s. yang berubah menjadi ular, penyembuhan penyakit kusta dan lepra yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. atas izin Allah.
2) Mukjizat Immaterial/ Maknawy (logis dan dapat dibuktikan sepanjang masa)
Mukjizat maknawi ialah mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indra tetapi harus dicapai dengan kekuatan akal. Mukjizat ini sifatnya tidak dibatasi oleh suatu tempat dan masa tertentu dan dapat dipahami oleh oleh akal. Al-Qur’an tergolong mukjizat ini. Mukjizat al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang yang berfikir sehat, bermata hati terang, berbudi luhur, dan menggunakan akalnya dengan jernih serta jujur di mana pun dan kapan pun.

3. Unsur-unsur Mukjizat
Berdasarkan definisi mukjizat di atas, dapat diketahui bahwa mukjizat memiliki unsur-unsur tertentu. Adapun unsur-unsur yang menyertai mukjizat menurut Quraish Shihab adalah:
1) Peristiwa yang luar biasa;
2) Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengaku nabi;
3) Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian seorang nabi dan ajarannya; dan
4) Tantangan itu tidak ada yang mampu menandingi atau gagal dilayani.

4. Eksistensi Mukjizat
Ada beberapa keberadaan mukjizat dalam diskursus ‘Ulumul Qur’an. Keberadaan itu sekaligus sebagai fungsi dari mukjizat itu sendiri. Adapun eksistensi mukjizat itu adalah:
1) Meyakinkan manusia yang ragu untuk mempercayai kenabian seorang nabi dan ajarannya;
2) Mukjizat selalu dikaitkan dengan perkembagan dan keahlian masyarakat yang dihadapi tiap-tiap Nabi pada zamannya.
3) Mukjizat bersifat menantang baik secara tegas atau tidak.

5. Bukti Otentik Kegagalan Orang Arab Menandingi Kemukjizatan Al-Qur‘an
Mengenai al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw. pernah mengajak orang Arab yang tidak mempercayainya untuk bertanding. Namun mereka tidak sanggup untuk menandingi kemukjizatan al-Qur’an. Rasulullah mengajak mereka bertanding itu atas tiga tahap. Adapun tahap-tahap itu adalah:
Pertama, mereka diajak bertanding dengan al-Qur’an itu seluruhnya menurut metode-metode umum yang dipakai dan apa saja yang pernah dipakai oleh umat manusia dan jin. Oleh pihak lawan maka dikumpulakan semua kekuatan yang ada. Namun mereka tidak mampu. Allah berfirman dalam al-Qur’an:
“Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Q.S. Al-Isra (17): 88).
Kedua, sudah tahap pertama mereka tak mampu, mereka diajak lagi bertanding dengan sepuluh surat dari al-Qur’an itu. Ini dapat diketahui dalam al-Qur’an ayat yang berbunyi:
“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka Ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasannya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (Q.S. Huud (11): 13-14).
Ketiga, sudah itu diajak lagi bertanding dengan satu surat saja. Allah berfirman:
“Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Q.S. Yunus (10): 38).

Untuk hasil yang lebih lengkap silahkan kunjungi atau klik di link yang relevan di bawah ini. Terima kasih.

Mohon komentar dan penilaiannya ya..
Diterbitkan di: 16 Juni, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.