Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Hukum Transfusi Darah Dalam Hukum Islam (Fiqh)

Hukum Transfusi Darah Dalam Hukum Islam (Fiqh)

oleh: Cpchenko     Pengarang : cpchenko (vice chairman of the Student Executive Council at the State Islamic University Yogyakarta)
ª
 
A. Hukum Transfusi Darah
Al-qur’an merupakan sumber hukum yang hidup dan dapat menampung segala perkembangan masa, karena Al-Qur’an tidak meninggalkan suatu tindakan baik tanpa menganjurkannya, suatu hukum masyarakat tanpa menjelaskannya.Allah menjelaskan kepada manusia tentang hukum darah, yaitu haram memakan maupun memanfaatkannya, sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 3:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah……Ayat diatas pada dasarnya melarang memakan maupun mempergunakan darah, baik secara langsung maupun tidak.Akan tetapi apabila darah merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan jiwa seseorang yang kehabisan darah, maka mempergunakan darah dibolehkan dengan jalan transfusi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 32:
Dan barangsiapa yang memlihara kehidupan seorang manusia, maka ia seolah-olah memelihara kehidupan semua manusia.Yang demikian itu sesuai pula dengan tujuan syariat Islam, yaitu bahwa sesungguhnya syariat Islam itu baik dan dasarnya ialah hikmah dan kemaslahatan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.Oleh sebab itu setiap orang yang memahami syariat Islam akan melihat bagaimana prinsip-prinsip kemaslahatan itu menduduki tempat yang menonjol dalam syariat Islam. Karena semua hukum dalam Al-Qur’an didasarkan atas kemaslahatan bagi umat manusia. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menolong seseorang yang dalam keadaan darurat, sebagaimana kaedah fiqhiyyah:.خا صة او نت كا عامة الضرورة منزلة تنزل الحاجة“Al-hajaatu tanzilu manzilata adh-dharuuroti ‘aamatan kaanat au khaashshatan”Al-Hajat (sesuatu yang diperlukan) menempati tempat darurat baik secara umum maupun secara khusus.الحاجة الضرورةولاكراهةمع مع حرام لا“Laa haraama ma’a adh-dharuurati walaa karaahata ma’a al-haajati”Tidak ada keharaman dalam darurat, tidak ada kemakruhan dalam hajat.
Kedua kaidah tersebut menjelaskan bahwa Agama Islam membolehkan hal-hal yang haram bila berhadapan dengan hajat manusia dan darurat. Dengan demikian transfusi darah untuk menyelamatkan seorang pasien dibolehkan karena hajat dan keadaan darurat.Namun demikian, kebolehan mempergunakan darah dalam transfusi tidak dapat dipakai sebagai alasan untuk mempergunakannya kepada yang lain, kecuali apabila ada dalil yang menunjukkan kebolehannya. Hukum Islam melarang hal yang demikian, karena dalam hal ini darah hanya dibutuhkan untuk ditransfer kepada pasien yang membutuhkannya saja, sesuai dengan kaidah Fiqhiyyah:تعزرها بقدر للضرورة بيح أ ما“Maa ubiiha lidhdharuurati biqadri ta’azzurihaa”Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibolehkan hanya sekedar menghilangkan kedaruratan itu. Dengan ayat Al-Qur’an dan kaidah Fiqhiyyah yang sudah kami jelaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama. Maka penyimpangan terhadap hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh nash dalam keadaan terpaksa dapat dibenarkan, asal tidak melampui batas. Keadaan keterpaksaan dalam darurat tersebut bersifat sementara, tidak permanen. Ia hanya berlaku selama dalam keadaan darurat tersebut.
B. Hubungan Antara Donor dan Resipien (Penerima)
Adapun Hubungan antara donor dan resepien setelah terjadi transfusi darah, tidak membawa akibat hukum ada hubungan kemahraman (haram kawin), umpamanya dipandang sebagai saudara sepersusuan. Sebab, faktor-faktor yang dapat menyebabkan kemahramannya, sudah ditentukan dan ditetapkan oleh Agama Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa’ (4): 23). Dari ayat tersebut diatas dapat disimpulkan yang disebut Mahram karena adanya hubungan nasab. Misalnya hubungan antara anak dengan ibunya atau saudaranya sekandung, dsb, karena adanya hubungan perkawinan misalnya hubungan antara seorang dengan mertuanya atau anak tiri dan istrinya yang telah disetubuhi dan sebagainya, dan mahram karena adanya hubungan persusuan, misalnya hubungan antara seorang dengan wanita yang pernah menyusuinya atau dengan orang yang sesusuan dan sebagainya. Dengan demikian jelas, bahwa transfusi darah tidak mengakibatkan hubungan kemahraman antara donor darah dengan resipien (penerima). Karena itu jika si donor dan resipien ingin mengadakan hubungan perkawinan, maka tidak ada larangan dalam Agama Islam, bahkan berdasarkan mafhum mukhalafah surat an-Nisa’ tadi tidak ada larangan sama sekali.
C. Hukum Menjual Darah serta Hukum Menerima Imbalan Materi Setelah Donor
Hadits Jabir ini menjelaskan tentang larangan menjual najis; termasuk didalmnya menjual darah, karena darah juga termasuk najis sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 3. Menurut hukum asalnya menjual barang najis adalah Haram. Namun yang disepakati oleh para Ulama hanyalah khamr atau arak dan daging babi. Sedangkan memperjualbelikan barang najis yang bermanfaat bagi manusia, seperti memperjualbelikan kotoran hewan untuk keperluan pupuk. Menurut Mazhab Hanafi dan Dzahiri, Islam membolehkan jual beli barang najis yang ada manfaatnya seperti kotoran hewan. Maka secara analogi (qiyas) madzhab ini membolehkan jual beli darah manusia karena besar sekali manfaatnya untuk menolong jiwa sesama manusia, yang memerlukan transfusi darah. Namun Imam Syafi’i mengharamkan jual beli benda najis termasuk darah . ayat Al-Qur’an menyatakan secara tegas bahwa darah termasuk benda yang diharamkan. Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”. (QS. Al-Maidah ayat 3).

Untuk Informasi selanjutnya mengenai Hukum Transfusi Darah Dalam Fikih atau Hukum Islam dalam bentuk Makalah silahkan kunjungi blog saya di link terkait (relevant links) bawah ini.
Diterbitkan di: 23 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.