Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Cara berpuasa dalam agama buddha

Cara berpuasa dalam agama buddha

oleh: Alfatikhul     Pengarang : Azimah Fitriani
ª
 
D. Cara berpuasa
Dari penjelasan di atas, bahwa masyarakat Buddhis terdiri dari dua
kelompok, yaitu para rohaniawan (Pabbajjita), dan para perumah tangga atau
umat awam (Gharavasa). Adapun puasa yang dilakukan umat Buddha tidak
seperti yang dilakukan oleh umat islam sehari penuh. Secara tradisi para
perumah tangga atau umat awam akan menjalankan latihan puasa pada bulan
gelap dan terang, yaitu tanggal 1 dan 15 sesuai penanggalan bulan kalender
Buddhis (Saccadhammo, dkk, 2007:38).
Menurut Romo Sutrisno (seorang pemuka agama Buddha Teravada di
Vihara Damma Sundara, Pucang Sawit), bahwa puasa agama Buddha
dilakukan dengan cara boleh makan dan minum pada jam-jam tertentu yaitu
pada jam 12 siang dan 12 malam saja, selain waktu-waktu tersebut hanya
diperbolehkan minum saja tetapi minuman yang tidak mengenyangkan, seperti
air putih dan minuman lain yang sejenisnya.
Sesuai tekad yang sudah diambil, para rohaniawan akan menjalankan
227 tata tertib selama hidupnya. Dengan kata lain, para rohaniawan akan
berpuasa selama hidupnya. Sedangkan umat awam pada saat-saat tertentu
dianjurkan untuk melakukan latihan spiritual yang lebih tinggi yaitu puasa
dengan menjalankan delapan sila (Atthasila) (Saccadhammo, dkk, 2007:38).
Delapan sila itu adalah:
1. Tidak membunuh, artinya adalah tidak melakukan pembunuhan atau
melukai makhluk hidup. Makhluk hidup disini adalah manusia dan
binatang.
2. Tidak mencuri, artinya adalah tidak melakukan perbuatan yang mengambil
barang tanpa seizin pemiliknya.
3. Tidak melakukan hubungan seks artinya adalah tidak melakukan
hubungan badan baik dengan apapun juga, dan tidak melakukan kegiatan
seks sendiri (masturbasi). Intinya adalah tidak boleh melakukan kegiatan
yang memuaskan diri secara seksual.
4. Tidak berbohong artinya tidak berbohong sehingga merugikan orang lain
secara langsung ataupun tidak langsung dengan niat buruk.
5. Tidak mengkonsumsi makanan yang membuat kesadaran lemah dan
ketagihan
(alkohol, obat-obatan terlarang) Artinya jelas. Jika seseorang

mengkonsumsi untuk tujuan medis dalam jumlah kecil dan tidak hilang
kesadaran, maka tidak terjadi pelanggaran.
6. Tidak makan pada waktu yang salah. Maksudnya adalah bahwa seseorang
tidak boleh makan setelah lewat tengah hari hingga subuh atau dini hari.
Patokannya adalah untuk tengah hari,ketika matahari tepat di atas kepala
atau pukul dua belas. Dan untuk subuh atau dini hari adalah ketika tanpa
lampu, seseorang dapat melihat garis tangannya sendiri atau ketika
matahari terbit. Jadi seseorang boleh makan (berapa kalipun) hanya pada
waktu dini hari atau subuh sampai tengah hari (sekitar jam 12).
7. Tidak bernyanyi, menari atau menonton hiburan juga tidak memakai
perhiasan, kosmetik, atau parfum
. Pengertiannya jelas dan untuk
mendengarkan musikpun tidak diperbolehkan. Jika musik atau kosmetik
digunakan untuk terapi atau untuk menolak penyakit, maka seseorang
tidak menjadi melanggar aturan. Tidak duduk atau berbaring ditempat
duduk atau tempat duduk yang besar dan tinggi Pengertiannya disini
adalah tidak tidur di atas tempat yang tingginya lebih dari 20 inci termasuk
juga duduk. Tidur atau duduk di tempat yang mewah juga tidak
diperbolehkan.
8. Tidak memakai tempat tidur dan tempat duduk yang mewah
(Saccadhammo, dkk, 2007:38-40).
Jadi puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia
mematuhi ke-8 larangan tersebut seperti yang tertulis di atas. Jika ada salah
satu larangan tersebut dilanggar baik sengaja atau tidak berarti puasanya
(uposatha-nya) tidak sempurna.

Sedangkan untuk puasa (vegetaris), dalam melaksanaknnya seseorang
boleh makan kapan pun dalam 24 jam, namun hanya makan sayur-sayuran
(tidak boleh daging), dan bawang-bawangan. Puasa ini tidak wajib bagi umat
Buddha, dan tidak tertulis di dalam kitab Tripitaka.
Biasanya puasa yang sering dilaksanakan oleh umat Buddha yaitu
tanggal 1 dan 15 berdasar kalender lunar (berdasar revolusi bulan), yaitu
ketika bulan purnama menurut perhitungan Cina dan sesuai dengan
penanggalan kalender Buddhis (Saccadhammo, dkk, 2007:38).

Kunjungi http://ifqo.wordpress.com/
Diterbitkan di: 18 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.