Akhlak yang terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai
dengan norma-norma atau ajaran Islam. Akhlak yang terpuji dibagi menjadi 2
bagian, (Hamka, 1981 : 180) yaitu:
1. Taat lahir
Taat lahir berarti melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Tuhan,
termasuk berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan, dan dikerjakan oleh
anggota lahir, beberapa perbuatan yang dikategorikan taat lahir adalah :
a. Tobat, dikategorikan kepada taat lahir
dilihat dari sikap dan tingkah laku seseorang. Namun sifat penyesalannya
merupakan taat batin. Tobat, menurut para sufi adalah fase awal perjalanan menuju
Alloh (taqorub ila Alloh).
b. Amar
makruf, dan nahi munkar,
perbuatan yang dilakukan kepada manusia untuk menjalankan kebaikan dan
meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran. Sebagai implementasi perintah Alloh,
dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar (QS. Ali Imron : 104).
c. Syukur,
berterima kasih kepada nikmat yang telah dianugerahkan Alloh kepada manusia
dan seluruh makhluknya. Perbuatan ini termasuk yang sedikit dilakukan oleh
manusia, sebagaimana firman Alloh, dan sedikit sekali dari hamba-hamba yang
berterima kasih (QS. Saba’ : 13).
2. Taat batin
Sedangkan taat batin adalah segala sifat yang baik, yang terpuji yang
dilakukan oleh anggota batin (hati)
a. Tawakkal, yaitu berserah diri sepenuhnya
kepada Alloh dalam menghadapi, menanti, atau menunggu hasil pekerjaan.
b. Sabar dibagi menjadi beberapa bagian,
yaitu sabar dalam beribadah, sabar ketika dilanda mala petaka, sabar terhadap
kehidupan dunia, sabar terhadap maksiat, sabar dalam perjuangan. Dasarnya
adalah keyakinan bahwa semua yang dihadapi adalah ujian dan cobaan dari Alloh
SWT.
c. Qana’ah, yaitu merasa cukup dan rela
dengan pemberian yang dianugerahkan oleh Alloh. Menurut Hamka, Qana’ah meliputi
:
1) Menerima dengan rela akan apa yang ada
2)
Memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas
dan ikhtiar
3)
Menerima dengan sabar akan ketentuan
Tuhan
4)
Bertawakkal kepada Tuhan
5)
Tidak tertarik oleh tipu daya dunia
Taat batin memiliki tingkatan yang lebih dibandingkan dengan taat lahir,
karena batin merupakan penggerak dan sebab bagi terciptanya ketaatan lahir.
Dengan terciptanya ketaatan batin (hati dan jiwa), maka pendekatan diri kepada
Tuhan (bertaqarrub) melalui perjalanan Ruhani (saliis) akan dapat dilakukan
(Zahruddin, Hasanuddin Sinaga, 2004 : 160-161).