Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Perbedaan Syariat dan Fikih

Perbedaan Syariat dan Fikih

oleh: irzu     Pengarang : faiqatulhi
ª
 
Syariat menurut bahasa Arab adalah sumber atau aliran air yang
digunakan untuk minum. Dalam perkembangannya kata tersebut oleh orang
Arab digunakan untuk mengacu pada jalan agama yang lurus, jadi dari akar
kata tersebut syariat diartikan sebagai agama yang lurus yang diturunkan
Allah SWT. kepada manusia. Dalam bahasa Inggris syari’ah diartikan sebagai
Canon Law of Islam, yaitu keseluruhan perintah Allah, dan perintah itu dalam
bahasa fikih adalah hukm (jamaknya, ahkām).
Secara istilah menurut Manna’ al-Qattan syariat adalah segala
ketentuan Allah bagi hambanya yang meliputi masalah aqidah, ibadah,
akhlak, dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia
dan akhirat. Menurut Fathi al-Daraini syariat adalah segala yang diturunkan
Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Berupa wahyu, baik yang terdapat
dalam al-Qur’an maupun dalam sunnah Nabi yang diyakini kesahihannya.
Berdasarkan definisi tersebut maka syariat merupakan sumber dari
fikih, karena fikih merupakan pemahaman yang mendalam terhadap teks-teks
suci, dan merupakan upaya mujtahid dalam menangkap makna dan illat yang
dikandung dalam teks tersebut. Jadi syariat bukan fikih, karena syariat
bersumber dari Allah dan Rasulnya, yang menjadi sumber dalam
pembentukan dan pengembangan hukum Islam dalam berbagai dimensi, dan
menjadi rujukan dalam mengarahkan dan memberi makna terhadap berbagai
pranata sosial yang bersifat universal dan abadi. Sedangkan fikih hanya
merupakan hasil ijtihad para mujtahid terhadap ayat suci al-Qur’an dan
sunnah Nabi SAW. Oleh karenanya, fikih tidak bisa dipisahkan dari syariat,
karena keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Sedangkan Abd al-Ati seperti yang dikutip Hasan Bisri menyatakan
bahwa hukum Islam mempunyai fungsi ganda, yaitu fungsi syariah dan fungsi
fikih. Fungsi syari’ah merupakan fungsi kelembagaan yang diperintahkan
Allah untuk dipatuhi sepenuhnya, atau saripati petunjuk Allah untuk setiap
mukallaf dalam mengatur hubungannya dengan Allah, sesama muslim,
sesama manusia dan semua makhluk di dunia. Sedangkan fikih merupakan
produk daya pikir manusia yang dengan daya intelektualnya mencoba
menafsirkan penerapan prinsip-prinsip syari’ah secara sistematis. Selanjutnya
dijadikan pedoman hidup yang dikembangkan secara berkelanjutan dalan
rentang waktu yang sangat panjang. Kemudian fikih tersebut disosialisasikan
dan memberikan makna Islami terhadap pranata sosial yang ada, dan bahkan
bisa menciptakan pranata sosial yang baru
Diterbitkan di: 31 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.