Kurikulum berorietasi budaya islam
Kurikulum yang dijalankan oleh lembaga pendidikan di
Indonesia selama ini kebanyakan diadopsi dari barat (western). Sehingga,
kadang-kadang tidak cocok dengan culture masyarakat Indonesia. Wajar kemudian,
pola pikir generasi muda Indonesia mengikuti pola pikr barat. Padahal Negara
Indonesia adalah Negara yang memiliki penduduk islam terbesar di dunia.
Kurikulum yang seharusnya dijalankan oleh lembaga pendidikan Indonesia adalah
kurikulum yang berlandaskan islam, tapi sayang sekali para intelektual serta
lembaga pendidikan kurang menarik untuk menarik untuk mengembangkan kurikulum
yang berlandaskan islam namun lebig tertarik untuk mengembangkan kurikulum
barat. Dari sekian banyak pakar pendidikan, hanya beberapa pakar saja yang tertarik
untuk mengkaji kurikulum yang berorientasikan budaya islam. Seperti Ki Hajar
dewantoro pada tahun 1922 dengan konsep pendidikan taman siswa.dan dasar-dasar
pendidikan kayu taman yang dikembangkan oleh Moh. Safi’i pada tahun 1920.
konsep-konsep tersebut tidak dikembangkan lebih lanjut oleh pakar-pakar
pendidikan Indonesia sehingga konsep tersebut tidak lain seperti benda-benda
arkeologi yang tersempan di dalam museum pendidikan Indonesia.¹ pendidikan
Indonesia sudah dininabobokan oleh para pakar pendidikan barat dengan
menggunakan kurikulum pendidikan barat. Maka dari itu, para pakar pendidikan
Indonesia sudah saatnya bangun dari tidar yang panjang untuk mengmbangkan
pendidikan yang berorientasi islam. Padahal sumber ilmu pengetahuan adalah
wahyu. Wahyu adalah sumber ilmu yang absulot. Konsep pendidikan dalam islam
sudah lama. Itu ditandai dengan turunnya ayat yang mengatakan bahwa “iqra”
bacalah.
Masukan di bagian reformasi.
Di era reformasi ini, sebenarnya lembaga pendidikan harus
memainan perannya dalam membangun bangsa yang sudah lama terpuruk. Semua orang
menaruh perhatian yang sangat besar pada lembaga pendidikan untuk membangkitkan
kembali bangsa ini dari kemerosotan. Para pakar pendidikan atau para pemengan
kebijakan di dunia pendidikan lebih sibuk mengurus hal-hal yang tidak substansial
ketimbang memikirkan persoalan pokok pendidikan. Prof. Winarmo Surakhman yang
dikutip oleh H.A.Tilar mengeluarkan kata kekecewaannya terhadap lembaga
pendidikan Indonesia “pendidikan dalam keadaan mati suri”. Lebih ganas lagi Rd.
Mochtar Buchori “bahwa ilmu pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah mati”.
Lebih lagi H.A.Tilar sendiri mengatakan bahwa ilmu pendidikan dalam kondidi “hidup
enggan, mati tau mau”. Lembaga pendidikan di Indonesia dalam keadaan bosan
hidup, cuman dalam kebosanaan itu dia segan melakukan bunuh diri. maka
pertanyaan yang muncul dalam benak kita adalah apanya yang salah dalam dunia
pendidikan ini dan apa yang harus kita lakukan agar keluar dari kebosanan?.
Pertanayan yang sedarhana namun jawabannya sangat sulit. Maka dari itu, sudah
saatnya para pakar pendidikan mencarikan solusinya agar lembaga pendidikan
lolos dari kejumudannya yang sejak lama ini. Menurut H.A Tilar bahwa yang perlu
kita lakukan adalah langkah-langkah yang sederhana tapi mantap dan
berkelanjutan.pepatah cina yang di kutipnya adalah perjalanan satu mil di mulai
dari ayunan langkah yang pertama. Kita dapat saja bermimpi untuk mengadakan
suatu evolusi pendidikan.². melakukan reformasi di dunia pendidikan adalah
pelan tapi pasti. Biarlah gerakannya lama akan tetapi tujuannya tercapai.