Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Kedudukan Akal dan Wahyu dalam Islam

Kedudukan Akal dan Wahyu dalam Islam

oleh: fikrie    
ª
 
A. Definisi

1. Akal

Kata akal sebenarnya berasal dari dari bahasa Arab al-‘aql yang merupakan kebalikan dari al-wahyu. Dalam Al-Qur’an sendiri, kata al-‘aql hanya dapat dijumpai dalam bentuk fi’ilnya yaitu ‘aqoluh, ta’qilun, na’qil, ya’qiluha, dan ya’qilun.
Dalam kamus Lisanul ‘Arab, kata al-‘aql berarti al-hijr (menahan diri), al-‘aqil (orang yang menahan), dan yahbisu (mengekang hawa nafsu). Selain itu, kata al-‘aql mengandung arti an-nuha (kebijaksanaan), al-qalb (memahami).

Profesor Izutzu mengatakan bahwa kata ‘aql di zaman jahiliyah diartikan sebagai kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam ilmu psikologi modern disebut kecakapan untuk menyelesaikan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal adalah orang yang memiliki kecakapan untuk menyelesaikan masalah dan bisa melepaskan diri dari bahaya yang dihadapi. Kebijaksanaan praktis seperti ini sangat dihargai oleh orang Arab.

Dalam Al-Qur’an kata yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan berfikir tidak hanya ‘aqala, tetapi juga nadzara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tazakkara, dan fahima.

Akal terbagi menjadi dua bagian :

a. Akal praktis (‘Aamilah) yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa binatang.

b. Akal teoritis (‘Aalimah) yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan Malaikat.
Akal praktis memutuskan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan. Akal teorotis sebaliknya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia materi dan menangkap keumuman (kulliat universals).

B. Wahyu

Wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy yang berarti suara, api, dan kecepatan. Di samping itu kata ini juga berarti bisikan, isyarat, tulisan, dan kitab. Al-wahy selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Tetapi, kata ini lebih dikenal sebagai “apa yang disampaikan Tuhan kepada Nabi-nabi-Nya.

Ada tiga cara penyampaian wahyu. Yang pertama, melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham, kedua, dari belakang tabir seperti yang pernah dialami oleh Nabi Musa, dan yang ketiga, melalui utusan yang dikirim dalam bentuk malaikat seperti yang pernah di alami oleh Nabi Muhammad SAW.


C. Kontradiksi seputar akal dan wahyu

Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam dibicarakan sebagai sumber pengetahuan manusia tentang Tuhan, kewajiban bersyukur kepada-Nya, baik dan buruk, serta kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk.

Aliran mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam rasional berpendapat bahwa akal mempunyai kemampuan mengetahui keempat hal tersebut diatas. Sementara itu, aliran maturidiyah Samarkand yang juga penganut pemikiran kalam rasional, mengatakan bahwa kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk, akal mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal lainnya.

Sebaliknya aliran asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga hal lainnya yakni kewajiban bersyukur kepada-Nya, baik dan buruk, serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat, diketahui manusia berdasarkan wahyu. Sementara aliran Maturidiyah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikir kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal diatas, yakni mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang buruk, dapat diketahui melalui akal, sedangkan dua hal lainnya, yakni kewajiban bersyukur kepada Tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk, hanya diketahui dengan wahyu.

Walau begitu banyak perbedaan pendapat tentang kedudukan akal dan wahyu, tapi kedua-duanya merupakan sarana yang digunakan untuk lebih mengenal kepada Sang Pencipta. Wahyu memang Allah turunkan dengan bahasa yang masih umum. Dan di sinilah ruang lingkup akal untuk menafsirkannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu.

Diterbitkan di: 02 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa kedudukan akal dan wahyu? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Bagaimana kedudukan akal, wahyu dan ilmu dalam islam Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.