Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Definisi Toleransi: antara Pluralitas dan Pluralisme.

Definisi Toleransi: antara Pluralitas dan Pluralisme.

oleh: 3handoyo     Pengarang : Tri Handoyo
ª
 
Jika kita telusuri jagad pemikiran keagamaan barat kontemporer, maka akan kita temukan sebuah nilai (value) yang taken for granted, bahkan menjadi porosnya, yakni toleransi (tolerance). Dalam deklarasi prinsip-prinsip toleransiUNESCO (1995), dinyatakan, “Toleransi adalah penghargaan, penerimaan dan penghormatan terhadap kepelbagaian cara-cara kemanusiaan, bentuk-bentuk ekspresi dan kebudayaan”. Sedangkan dalam kamus-kamus Inggris, toleransi (tolerance) bermakna to endure without protest (menahan perasaan tanpa protes). Hanya saja perkembangan pemikiran dan politik barat telah mendorong toleransi menjadi sebuah nilai (value) tersendiri sebagaimana pernyataan Albert Dondeyne:

“…toleransi adalah sebuah nilai (value) itu sendiri dan bukan sekedar suatu kejelekan yang lebih rendah yang harus ditolerir dalam kondisi-kondisi tertentu.” (Albert Dondeyne, Faith and the World, dalam Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama 2005).

Toleransi sebagai value berarti menjadikan nilai toleransi sebagai luar biasa penting. Bahwa demi meredam ketidaksepakatan antar agama-agama dalam sebuah komunitas, sekaligus mencapai (baca memaksa) kesetaraan antar agama-agama, maka yang mesti diubah adalah agama itu sendiri. Nilai-nilai “intoleran” atau menggunakan istilah John Hick “the conflicting truth claims” yang dimiliki oleh agama-agama, harus lebur bahkan dibuang dan digantikan dengan nilai (baru) toleransi, tanpa mempertimbangkan sama sekali otensitas nilai-nilai agama yang dibuang tersebut. Adapun mekanisme untuk membuat nilai toleransi tersebut compatible dengan agama-agama adalah faham pluralisme agama.

Hal itu dapat kita lihat dalam tren-tren pluralisme agama barat yang diklasifikasikan Dr. Anis Malik Thoha, yakni Tren Humanisme Sekular yang diwakili John Dewey dengan Common Faith-nya, William James dengan Republican Banquet-nya, Benjamin Franklin dengan Public Religion-nya, juga Harvey Cox.

Tren Teologi Global yang diwakili John Hick dan Wilfred Cantwell Smith dengan keharusan revolusi teologis-nya. Tren Hikmah Abadi dengan para eksponennya antara lain Frithjof Schuon, Aldous Huxley, Rene Guenon dan Sayyed Hossen Nasr. Bahkan hingga Tren Sinkretisme yang bernuansa ketimuran ( India ) yang diwakili Ram Mohan Roy dengan gerakan Brahma Samaj-nya, Ramakrishna dan Swami Vivekananda dengan Ramakrishna Movement-nya, Mahatma Gandhi dengan nilai Ahimsa-nya

Konsekwensi

Mencangkokkan nilai toleransi ke dalam agama (pluralisme) bukan berarti sekedar menambahkan satu nilai baru ke dalam sebuah agama, tapi melakukan perubahan yang signifikan bahkan drastis pada agama, sebagai konsekwensi dari penyesuaian-penyesuaian yang memang dibutuhkan untuk mendudukkan nilai toleransi tersebut dalam sebuah agama.

Untuk mempraktekkan kesetaraan agama yang ditawarkan nilai toleransi ini misalnya, maka tidak dapat tidak agama-agama yang disetarakan tersebut mesti bersedia melepaskan fungsi-fungsi sosial-politisnya (sebagai konsesi) untuk diserahkan, diatur, dan diurus oleh sistem lain yang “non religius” atau sekular. Dengan kata lain demi nilai toleransi, maka tidak dapat tidak agama-agama mesti pula menerima nilai sekular berikut konsekwensinya. Dan memang terutama dalam tren pluralisme agama barat, konsep sekular ini menjadi begitu penting disamping nilai toleransi, untuk menjamin “hak antroposentris” di wilayah publik (politik).

Sedangkan konsekwensi dari konsep sekular itu sendiri adalah memicu munculnya arus paradigm shift, yakni perubahan paradigma dalam memandang agama-agama dikalangan masyarakat luas. Arus tersebut semakin deras dan kentara dengan “pembenaran akademis” yang dilakukan oleh (umumnya) para teolog, seperti Wilfred Cantwell Smith yang menganjurkan keharusan “transformasi dari pemusatan ‘agama’ menuju pemusatan iman” dan keharusan memandang (institusi) agama sekedar sebagai commulative tradition. Juga John Hick yang menganjurkan keharusan “transformasi orientasi dari pemusatan ‘agama’ menuju pemusatan tuhan”.

Tentu saja arus paradigm shift tersebut bersifat destruktif-reduksionistik terhadap agama-agama. Ia menggiring kita pada sejumlah isu yang sangat krusial dan fundamental, antara lain berkaitan dengan eksistensi agama-agama, masa depan agama-agama, persoalan hak dan bathil yang didefinisikan agama-agama, dan sebagainya.

Konsekwensi lain yang harus diterima agama-agama untuk mendudukkan nilai toleransi adalah, agama-agama mesti pula bersedia melepaskan kebenaran mutlak atau paling tidak menafsir ulang kitab suci mereka untuk mengeliminir nilai-nilai “intoleran” yang bersumber dari kitab suci tersebut. Inilah yang sejatinya ingin dicapai John Hick ketika menganjurkan proses mythologisasi, ini juga yang sejatinya hendak dicapai oleh para penganjur tafsir hermeneutika.

Hal-hal tersebut di atas hanyalah sebagian konsekwensi-konsekwensi yang harus ditanggung agama untuk mendudukkan nilai toleransi ke dalam agama. Dengan mekanisme yang reduksionistik-destruktif terhadap agama seperti di atas, maka bid’ah, reduksi dan dekonstruksi agama yang bersifat destruktif tak dapat dielakkan. Sehingga wajar jika proyek-proyek pencangkokan nilai toleransi (juga sekular) ke dalam agama-agama (baca pluralisme agama) mendapat berbagai penolakan dari kaum agamawan.

MUI mengeluarkan fatwa penolakan pluralisme agama tahun 2005, sedangkan Vatikan telah lebih dulu mengeluarkan penolakan terhadap pluralisme agama, yakni melalui dekrit Dominus Iesus 28 Oktober 2000. Di kalangan Protestan, juga muncul reaksi keras terhadap faham pluralisme agama, dimana Pendeta Dr Stevri I Lumintang, menulis buku berjudul Theologia Abu-Abu Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini (2004). (Tiar Anwar Bachtiar, Republika 20 Maret 2009)

Kesimpulan

Kesalahan mendasar konsep ini adalah karena ia memaksakan kesetaran agama-agama, dimana tidak dapat tidak, hal itu malah membuatnya berwatak intoleran, tidak menjamin hak untuk berbeda agama, hak untuk mengimani komprehensivitas agama, dan hak untuk mengepresikan jati diri para pemeluk agama secara utuh. Padahal semua itu merupakan bagian tak terpisahkan dari hak kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin oleh HAM yang mereka (barat) rumuskan sendiri. Dari situ kita dapat mencium aroma tak sedap lainnya dari produk dagangan barat, yakni aroma inkonsistensi.

Semua itu wajar karena dengan karakter antroposentris-nya yang begitu kentara, nilai toleransi berikut mekanisme pluralisme-nya tak lain merupakan sebuah atau malah seperangkat “isme”, yang tentu saja tak sejalan dengan ke-alamian (sunnatullah) pluralitas itu sendiri.

Alih-alih mencari solusi dari agama fitrah (Islam) untuk mengelola pluralitas, kaum pluralis malah mendirikan “agama baru” yang menjadi saingan Islam (juga agama lainnya), sekaligus mengingkari hakikat dari penciptaan pluralitas itu sendiri. Dimana pluralitas pada hakikatnya bukan saja berarti berseberangan, tapi juga berpasangan, terkomposisi dan berbilang. Sehingga tak layak sama sekali dilakukan pemaksaan kesetaraan dan keseragamaan (uniformity), sebagaimana yang dilakukan oleh nilai toleransi ala barat berikut mekanisme pluralisme-nya.

Wallahu a’lam.
Follow me on Twitter, ID: Tree_Hand

Diterbitkan di: 26 September, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa perbedaan antara pluralitas dan pluralisme secara singkat? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    APA SAJA MACAM-MACAM TOLERANSI ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Secara garis besar hanya ada dua macam toleransi yakni tolerance dan tasamuh spt yg disebutkan di atas. 20 Oktober 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mohon di sebutkan, apa saja yang termasuk indikator-indikator toleransi? dan indeks dari operasionalisasi konsep toleransi... ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Indikator toleransi adalah tingginya rasa puas masing-masing kelompok yang berbeda dalam satu komunitas untuk mengekspresikan ideologinya masing-masing. Yang berbanding lurus dengan rendahnya tingkat konflik antar kelompok-kelompok tersebut. 20 Oktober 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa nilai toleransi itu penting? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Nilai toleransi adalah sangat penting karena ia adalah satu-satunya alat untuk menjembatani perbedaan, Yang mana perbedaan(pluralitas) itu sendiri adalah sunatullah (hukum alam). 20 Oktober 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.