Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Sunan MURIA dan SELAMATAN

oleh: ijay     Pengarang: Asnan Wahyudi; Abu Khalid
ª
 
Masyarakt Jawa meski sudah masuk Islam (Islam KTP) masih kerap mengadakan selamatan bahkan ada yang masih menyediakan sesajen untu arwah kerabatnya yang sudah meninggal meski perlahan mulai berkurang.

Di daerah Malang Selatan hingga kini masih banyak orang yang melakukannya, demikian pula di daerah-daerah Jepara, Kudus, dll.

Selamatan tersebut kini disebut dengan istilah Kenduri atau Kenduren. Ada upacara selamatan yang dilaksanakan menjelang jenazah si mati diberangkatkan ke kuburan. Ada yang dilaksanakan sesudah menguburkan mayat..

Jaman dulu (Hindu-Budha, Animisme dan dinamisme) kalau saja ada orang mati, pihak keluarga di rumah akan menyediakan sesaji di kuburan.

Ada istilah selamatan Ngesur tanah (Kenduren setelah mengubur mayat), Nelung dinani (kenduren setelah mengubur mayat), mitung dinani (tujuh hari setelah menguburkann mayat), matang puluh, nyatus dino, mendhak pisan, mendhak pindho dan istilah nyewu atau seribu harinya si mayat.

Adat istiadat tersebut sangat sukar dihilangkan begitu saja, maka sunan Muria memberinya warna Islam. Dengan demikian tidak terjadi kontradiksi di dalam masyarakat. Warna Islam yang dimaksud adalah upacara yang kini disebut tahlil, yaitu niatnya bersedekah untuk si mati dengan cara membacakan kalimat Tayyibah, serta ayat-ayat Al-Quran. Ini dimaksudkan untuk mengganti doa mantra yang biasa diucapkan para pendeta. Sedang pahalanya diberikan kepada orang yang mati.

Kalau acara selamatan itu langsung dihilangkan atau diberantas, rakyat pasti akan marah karena masih belum mengerti dalam syariat dan aqidah Islam yang sesungguhnya.

Maka selamatan boleh tetap diadakan namun upacara membakar kemenyan dan membuat sesajen dihilangkan. Diganti dengan demikian bacaan zikir dan ayat-ayat Al-Quran serta shalawat Nabi.

Demikian pula adat selamatan bila si ibu mengandung maupun melahirkan bayi. Hal ini diberi warna Islam. Biasanya dengan cara membaca shalawat Nabi.
Diterbitkan di: 22 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.