Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>A. Orang-Orang Yang Diperbolehkan Berbuka Puasa Atau Tidak Berpuasa.

A. Orang-Orang Yang Diperbolehkan Berbuka Puasa Atau Tidak Berpuasa.

oleh: AlghafuryIrul    
ª
 

A. Orang-Orang Yang Diperbolehkan Berbuka Puasa Atau Tidak Berpuasa.

Walaupun puasa itu wajib bagi setiap muslim,tetapi Allah memberikan keringanan atau idzin khusus kepada orang-orang tertentu dikarenakan sebab tertentu yang memperbolehkan mereka tidak melakukan puasa pada bulan Ramadhan.Dan orang-orang yang diperbolehkan berbuku atau tidak puasa adalah sebagai berikut:

1) Musafir (orang yang sedang bepergian).Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT yang terdapat dalam surat al Baqarah ayat 184 yang berbunyi;

فمن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر.

Bepergian yang mmeperbolehkan seseorang berbuka puasa ialah musafir yang memperbolehkan mengqashar shalat,dengan syarat musafir tersebut meninggalkan rumahnya sebelum terbit fajar.

Kalangan Madzhab Hanbali membolehkan berbuka bagi musafir walaupun dia bepergian dari kampungnya pada siang hari,sesudah tergelincir matahari.Sedangkan Madzhab Syafi'i menambahkan satu syarat,bahwa kebolehan berbuka itu berlaku bagi orang yang tidak terus-menerus melakukan perjalanan.Bila terus-menerus,maka haram baginya untuk berbuka.Kalangan Hanafiyah menambahkan bahwa perjalanan yang dilakukannya itu dibolehkan oleh ajaran agama dan tidak berniat untuk bermukim selama empat hari.Sedangkan dari Madzhab Maliki menambahkan satu syarat berniat berbuka dalam perjalanan pada malam hari sebelum terbit fajar.

Meskipun sejak pagi sudah melakukan puasa,seorang musafir dapat berbuka puasa jika keadaan menghendakinya.Namun demikian,sebagian ulama (seperti Madzhab Hanafi dan Maliki)berpendapat bahwa berpuasa lebih baik daripada tidak,sepanjang tidak memberi mudharat (kerugian) bagi dirinya.Sedangkan menurut ulama Hanabilah,berbuka dihukukmkan sunnah dan berpuasa hukumnya makuh.

2) Orang sakit.Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 184 yang tersebut di atas.

Orang sakit diperbolehkan berbuka apabila puasa yang dilakukannya akan menimbulkan kesulitan besar dan mudharat bagi dirinya atau akan mengakibatkan penyakitnya bertambah parah.

Sebagian ulama menentukan kategori orang sakit yang diperbolehkan dan tidak boleh berbuka puasa,yaitu;

· Tidak mampu berpuasa dan jika berpuasa dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah,baginya boleh berbuka.

· Mampu berpuasa,tetapi akan menyulitkan bagi dirinya,baginya boleh berbuka,dan

· Sakit yang tidak menyulitkan dirinya dan tidak akan menambah penyakitnya (sakit yang ringan),baginya tidak boleh berbuka.

Baik orang sakit atau[un musafir,apabila di pagi hari dia berniat puasa dan udzur yang memperbolehkan berbuka sudah hilang,maka tidak dibolehkan berbuka.Dan jika di pagi hari ia berniat berbuka tetapi kemudian udzurnya hilang,maka dibolehkan berbuka pada sisa hari yang masih tinggal.

3) Orang hamil dan menyusui.Mereka dibenarka berbuka puasa apabila dikhawatirkan akan timbul bahaya,baik pada dirinya sendiri maupun bagi anaknya (baik anak itu anaknya sendiri atau anak susuan).Menurut kalangan Madzhab Hanafi,mereka wajib mengqada' tanpa membayar fidyah.Sedangkan menurut Madzhab Syafi'i dan Hanbali,mereka waib mengqada' dan membayar fidyah apabila mereka khawatir akan anaknya.Adapun menurut Malikiyah,mereka wajib mengqada' dan membayar fidyah hanya bafi wanita yang menyusui saja,sedangkan orang hamil tidak.

4) Orang yang lanjut usia.Mereka diperbolehkan berbuka karena tidak mampu lagi berpuasa.Mereka tidak diwajibkan mengqada',tetapi wajib membayar fidyah memberi makan fakir miskin.

5) Orang yang sangat haus dan lapar.Mereka boleh berbuka puasa,dengan syarat apabila dia berpuasa dikhawatirkan dapat menimbulkan kehancuran bagi dirinya,menyebabkan kurang waras,lemahnya onggota badan disertai ketidakmampuan untuk melaksanakan puasa.Dalam hal ini ia wajib mengqada' puasanya.Hal ini berdasar firman Allah SWT surat Al Baqarah ayat 195,yang berbunyi;

ولا تلقوا بأيديكم إلي التهلكة.

6) Orang yang dipaksa berbuka.Mereka wajib mengqada' puasanya

Orang-orang yang membatalkan puasanya atau tidak dapat melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan diwajibkan untuk mengqada',membayar kaffarat,dan membayar fidyah.Mengqada' adalah mengganti puasa Ramadhan yang telah ditinggalkannya pada hari-hari lain sesudah bulan Ramadhan.Jumlah hari yang diqada'nya harus disesuaikan dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkannya.Adapun kaffarat ialah hukuman (tebusan) yang diberikan kepada seseorang yang telah membatalakn puasanya karena dengan sengaja bersetubuh dengan isterinya di siang hari bulan Ramadhan.Kaffarat itu ditunaikan dengan:

1. Memerdekakan seorang hamba,

2. Berpuasa dua bulan berturut-turut,atau

3. memeberi makan enam puluh orang miskin.

Sedangkan fidyah lebih ringan dari kaffarat.Fidyah adalah tebusan yang harus ditunaikan seseorang yang tidak mampu melaksanakan puasa Ramadhan,seperti oranng hamil,orang lanjut usia,dan ibu yang menyusui.

Diterbitkan di: 06 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Apakah orang yang sedang menyusui wajib mengqadha dan bayar fidyah juga???trs kalo bayar fidyah seharinya berapa??,,, Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah orang yg sedamg menyusui wajib mengqada dan bayar fidyah juga Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.