Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Ikhlas Dalam Beramal

oleh: AlghafuryIrul    
ª
 
Ikhlas Dalam Beramal
Oleh: Amirul Mukminin
A. Definisi
Ikhlash adalah diam dan bergeraknya hamba hanya karena Allah semata. Diam artinya, seseorang tidak melakukan perbuatan apapun yang tujuannya hanya ingin mendapatkan ridla Allah. Dan demikian juga gerak-geriknya, artinya setiapa hanya diperuntukkan Allah.
Imam Junaid mendefinisikan : ikhlash adalah membersihkan semua perbuatan dari segala kotoran.
Abu 'Utsman memberikan definisi ikhlas dengan "lupa melihat makhluq dengan selalu melihat atau merenung Allah saja.
B. Niat atau Motivasi Beramal
Niat merupakan merupakan salah satu kunci keberhasilan setiap apa yang diinginkan. Karena tanpa adanya niat perbuatan itu sia-sia. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dabn Imam Muslim:
"إنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ”
Keikhlasan dalam beramal memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan diterima atau tidaknya perbuatan tersebut. Sebagaimana yang sering disinggung oleh al-Qur'an bahwa dalam beramal harus dilandasi oleh ikhlash. Dalam surat al-Bayyinah ayat : 5, Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Manshur ad-Daylamy dalam kitab musnadnya :
عن علي كرم الله وجهه قال: قال النبي صلعم لمعاذ بن جبل : أخلص العملَ يجزك منه القليلُ
Ikhlas identik dengan niat yang tulus, keadaan jiwa yang bersih dari tendensi yang justru akan menghapus pahala amal perbuatan. Ikhlas dan niat adalah pekerjaan hati yang tidak dapat diketahui oleh oang lain. Oleh karena ikhlas bersifat abstrak dan sangat privat maka ia dijadikan ukuran bagi amal seseorang.
Yang perlu digaris bawai dalam kandungan hadits ini adalah kedudukan nia. Ulama telah mengkategorikan niat menjadi dua bagian. Pertama, niat yang merupakan suatu keharusan (syarat) dalam melakukan suatu ibadah, seperti yang telah kita lakukan ketikan saat berwudlu’ mengerjakan shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Kedua, niat yang menjadi penyerta dalam setiap perbuatan sehingga dengannya perbuatan itu bernilai ibadah. Untuk lebih mudah memahami niat kategori kedua ini, kita sebut saja dengan tujuan. Misalnya dalam bersedakah, kita tidak diwajibkan niat dan sedekah itu tetap sah. Tetapi yang menjadi persoalan sekarang adalah apa tujuan sedekah tersebut, ingin mencari ridla Allah, ingin memperoleh pengakuan dari orang sekitarnya (riya’) ataukah tujuan-tujuan lainnya? Jika sedekah itu ingin mendapat ridla Allah, atau ingin membantu meringankan beban sesame, kita yakin niscaya sedekah itu akan diterima di sisi Allah dan akan mendapatkan balasan pahala. Sebaliknya, jika dengan bersedekah kita bertujuan agar mendapat pengakuan dari orang lain maka perbuatan itu sia-sia dan tidak akan berdimensi ibadah.
Kategori kedua ini juga bisa masuk ke dalam suatu ibadah. Suatu contoh, ibadah shalat yang sudah menjadi consensus ahli fiqh bahwa ibadah ini disyaratkan adanya niat pelaku yakni ketika Takbiratul Ihram. Sekaranng perlu kita tanyakan, apa tujuan shalat tersebut? Ingin melakukan kewajiban biar diketahui orang lain bahwa ia tekun melaksanakn ibadah, ataukah orientasional lainnya. Maka shalat yang didasari oleh tujuan-tujuan yang tidak bersih, balasan pahala masih menjadi tanda tanya, sekalipun shalat itu sah menurut ukuran fiqh.
Hadits ini dijadikan landasan atau dalil penetapan niat dalam suatu ibadah, meskipun secara khusus hadits ini hanya menyebut hijrah. Dalam suatu kitab diceritakan bahwa yang melatar belakngi timbulnya (asbabul wurud) ialah ketika Rasulullah dan sehabatnya hijrah dari Mekkah ke Madinah, ternyata ada seorang laki-laki yang ikut berhijrah karena tidak ingin lepas dari seorang wanita yang diidam-idamkan. Sehingga hijrahnya tidak murni ingin mencari ridla Allah dan Rasulnya.
C. Menjahui Perbuatan Riya'
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ )رواه مسلم).
Suatu pelajaran yang dapat kita petik dari hadits ini, bahwa kita harus menjahui sifat riya', sifat yang dapat mengahpus pahala amal ibadah kita. Bagaimana banyaknya amal ibadahb seseorang kalau tidak dilandasi oelh ikhlas, tidak aka ada artinya di sisi Allah.
Dalam konteks hadits ini, sifat riya' identik dengan syirik walaupun tingkatannya tidak sama dengan syirik yang nyata-nyata menyekutukan Allah. Mengapa ketiga orang tersebut oleh hadits ini dimasukkan ke dalam neraka, padahal ereka berjihad, belajar, mengajar, tekun membaca al-Qur'an dan dermawan. Amal perbuatan atau ibadah secara khusus, memang seharusnya dikukan karena Allah, sebagaimana banyak ditegaskan baik al-Qur'an maupun sunnah nabi. Maka, jika amal ibadah berorientasi makna baik, pujian maupun pengakuan dari manusia, berarti amal ibadahnya diperuntukkan manusia itu dan hal ini bearati penyekuatuan taerhadap Allah.
D. Macam-Macam Riya'
Riya' ada dua dimensi :
1. Riya' dalam Asal Ibadah
Riya' dalam asal ibadah adalah selalu memperpanjang ruku' dan sujud di hadapan manusia agar dikatan waro' dan zuhud oleh mereka.
2. Riya' Selain Ibadah
Riya' selain ibadah adalah memperlihatkan pakaian yang kusuk, kuning warnanya, merendahkan suara.

Diterbitkan di: 03 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    buatlah sebuah drama mengenai surat al an'am ayat 162-163 Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.