Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Ayat-Ayat Tentang Pendidikan

Ayat-Ayat Tentang Pendidikan

oleh: AlghafuryIrul    
ª
 
Ayat-Ayat Tentang Pendidikan
Oleh: Amirul Mukminin
Pendidikan dalam al-Qur'an dikenal dengan sebutan Ta'liim, Tarbiyah, dan Ta'diib yang mempunyai arti yang sama, yaitu pendidikan. Ta'liim dari akar kata Allama yang mempunyai arti mendidik atau mengajar. Dalam al-Qur'an Allah SWT, berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 31-32. Ayat ini menginformasikan bahwa manusia dianugrahi Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin, dan sebagainya. Dia juga dianugrahi potensi berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, Ini Mama, itu mata, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya: Dia mengajar Adam nama-nama benda seluruhnya.
Sedangkan kata Tarbiyah (تربية ) diambil dari kata Rabbaa (ربّى) yang sama dengan kata rabb (ربّ) . Dalam surat al-'Alaq Allah berfirman: 1;
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Kata (ربّ) seakar dengan kata (تربية ) tarbiyah/ pendidikan. Kata ini memiliki arti yang berbeda-beda namun pada akhirnya arti-arti itu mengacu kepada pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan serta perbaikan. Kata rabb maupun tarbiyah berasal dari kata (ربا- يربو) rabaa yarbuu yang dari segi pengertian kebahasaan adalah "kelebihan". Dataran tinggi dinamai (ربوة) rabwah, sejenis roti yang dicampur dengan air sehingga membengkak dan membesar disebut (الرّبو) ar-rabw.
Al-Qur'an sungguh telah memberikan contoh kepada kita untuk selalu membaca dan membaca. Ayat yang pertama turun adalah (إقرأ). Ayat ini menyatakan: Bacalah wahyu-wahyu Ilahi yang sebentar lagi akan banyak engkau terima, dan baca juga alam dan masyarakatmu. Bacalah agar engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Bacalah semua itu tetapi dengan syarat hal tersebut engkau lakukan dengan atau demi nama Tuhan Yang selalu memelihara dan membimbingmu dan Yang mencipta semua makhluk kapan dan di manapun.
Ayat ini mendidik manusia agar selalu membaca semua apa yang Allah ciptakan. Pendidikan tidak harus di sekolah, madrasah, dan kampus. Tetapi pendidikan tidak mengenal ruang dan waktu dengan tidak melupakan menyebut nama Tuhan yang Maha Pencipta.
Kata (إقرأ) iqra' diambil dari kata kerja (قرأ) qara'a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila Anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka Anda telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya, yang semuanya bermuara pada arti menghimpun.
Pendidikan Allah terhadap manusia ada dua dimensi; satu pendidikan khalqiyah (sifatnya penciptaan), yaitu pendidikan yang bermuara pada perkembangan badan (jisim) mereka sehingga badan tersebut sampai pada tataran kuat (dewasa) dan perkembangan potensi kejiwaan dan akal. Kedua pendidikan keagamaan yang bersifat melatih diri. Pendidikan ini bermuara pada wahyu Tuhan kepada semua individu manusia agar menyampaikan pada sesamanya tentang sesuatu yang dapat menyempurnakan akal dan membersihkan jiwa mereka.
Pendidikan yang harus ditanamkan pertama kali kepada anak didik adalah pendidikan tauhid yaitu tidak menyekutukan Allah sebagaimana cara mendidiknya Nabi Luqman kepada putranya. Hal ini tertuang dalam firman-Nya dalam S. Luqman : 13.
Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi ayat ini memiliki lathiifah (kelembutan /kehalusan) yaitu Allah menyebut Luqman dan mengaparesiasi usahanya beliau ketika mendidik putranya agar diketahui keutamaan seorang nabi yang telah mengajak orang lain lain dan kerabat dekatnya. Karena mengajak / mendidik anak merupakan persoalan yang biasa.
Orang yang berpendidikan atau orang yang mempunyai ilmu sangatlah tinggi derajatnya (kedudukannya) di sisi Allah. Ia berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang mempunyai ilmu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surah al-Mujadalah :11.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (المجادلة, 11)

Dalam ayat ini tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi menegaskan bahwa mereka yang berilmu memiliki derajat-derajat yakni yang lebih tinggi dari yang sekadar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu, sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperanan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akkibat dari faktor di luar ilmu itu.
Tentu saja yang dimaksud dengan (أوتواالعلم) yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekadar beriman dan beramal sleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi tinggi, bukakn saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak yang lain baik secara lisan, atau tulisan maupun keteladanan.
Ilmu yang dimaksud oleh ayat di atas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam surat Fathir [35]: 27-28 Allah menguraikan sekian banyak makhluk ilahi, dan fenomena alam, lalu ayat tersebut ditutup dengan menyatakan bahwa: Yang takut dan kagum kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Ini menunjukkan bahwa ilmu dalam pandangan al-Qur'an bukan hanya ilmu agama. Di sisi lain itu juga menunjukkan bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah (خشية) yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalka ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk.

Diterbitkan di: 03 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    beri contoh ayat al quran tentang pendidikan Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ayat al-quran tentang pendidikan Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.