Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Pentingnya Menjaga Hubungan Baik Dengan Tetangga

Pentingnya Menjaga Hubungan Baik Dengan Tetangga

oleh: ArminUnaaha     Pengarang : Zamid al Zihar
ª
 
Kalau ada pertanyaan, siapakah yang paling dahulu memperhatikan bahkan disibukkan manakala kita tertimpa kesulitan atau musibah? Maka bisa dipastikan jawabannya adalah tetangga. Ada sebuah ungkapan bahwa tetangga adalah saudara terdekat.

Memang seperti itulah adanya, sebab secara umum dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa dipungkiri adanya suatu hubungan ketergantungan di mana antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Bisa dikatakan bahwa kehidupan yang harmonis dalam masyarakat bisa tercipta oleh adanya perilaku satu sama lainnya saling menjunjung tinggi terhadap rasa persaudaraan.

Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan agar manusia saling berbuat baik terhadap sesama yang mana dalam spesifikasinya meskipun telah disebutkan secara terperinci, namun dengan tegas disebutkan pula hubungannya dengan tetangga. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa, QS 4 : 36).

Tentang tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh tersebut dalam sebuah tafsir ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim. Bisa diartikan lebih jauh lagi bahwa menjalin hubungan baik terhadap sesama yang dalam hal ini tetangga tidaklah terkendala baik oleh jauh dekatnya tempat ataupun perbedaan golongan.

Dalam kenyataannya saat ini kebanyakan orang melupakan pentingnya berkorelasi dengan tetangga. Masing-masing saling mementingkan diri sendiri tanpa perduli kepada keadaan lingkungan, melupakan hak-hak tetangga, tidak terbiasa saling mengunjungi dan saling berbuat baik, bahkan tidak jarang yang sudah sekian lama tinggal berdampingan namun tidak tahu nama tetangganya.

Kedengarannya memang sesuatu yang keterlaluan, namun seperti itulah adanya hidup bermasyarakat yang tanpa dilandasi rasa persaudaraan dan tentunya hal ini bisa disebabkan karena tidak ditegakkannya ajaran Rasulullah SAW yakni silaturrahmi. Sesungguhnya berbuat baik terhadap tetangga adalah sesuatu yang akan menggiring kita kepada keberuntungan bukan saja kelak di akhir kehidupan, akan tetapi juga dalam kehidupan di dunia sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Aisyah bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Menjalin hubungan silaturrahmi, berakhlak mulia, dan berbuat baik kepada tetangga dapat membuat nyaman tempat tinggal serta menambah umur.”

Seperti itulah perilaku yang dutunjukkan oleh orang-orang yang beriman sebagaimana dalam hadis lainnya Rasulullah SAW bersabda :

“Tidak beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang pada malam hari merasa kenyang sedangkan tetangganya merasa lapar, pada malam hari merasa lega sedangkan tetangganya merasa kehausan.”

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya”. (HR. Muslim).

Dalam hal pentingnya memelihara hubungan baik dengan tetangga ditunjukkan oleh wasiat Allah SWT yang disampaikan melalui malaikat jibril kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW.:

“Malaikat jibril selalu berpesan kepadaku untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu ikut mendapat bagian warisan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dikatakan oleh Ibnul Jauzy dalam bukunya “Bustaanul Waa’idzin Wa Riyaadhus Saami’iin” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wawan Djunaedi Soffandi, S.Ag. bahwasannya ada sebagaian ulama yang berpendapat bahwa ada tetangga yang bisa memberikan syafa’at.

Karena setiap orang yang menjaga hubungan baik dengan tetangganya berarti telah taat kepada Dzat Yang Maha Pengasih, membuat setan menjadi gusar dan telah mengamalkan sunnah nabi dan al-Qur’an. Diriwayatkan juga bahwa lelaki shalih dan wanita shalihah dapat memberikan syafa’at kepada tujuh puluh tetangganya pada hari kiamat nanti. Bahkan kedua orang itu juga bisa meloloskan mereka untuk melewati shirath.

“Wahai hamba-hamba Allah, barang siapa memelihara hubungan baik dengan tetangga maka dia selamat dari neraka. Dia juga akan berhasil melalui shirath untuk menuju tempat tinggal abadi yang nyaman. Barang siapa menjaga hubungan baik dengan tetangga bearti dia telah mengamalkan sunnah nabi dan al-Qur’an serta taat kepada Dzat Yang Maha Raja lagi Maha Memberi.

Selain itu dia juga berhasil membuat setan terlaknat dan pendosa menjadi murka. Tidak ada seorang tetanggapun yang bertemu dengan tetangga muslimnya kemudian mengucapkan salam kepadanya, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosa tetangganya sekalipun dia memiliki seribu orang tetangga.”

Berbuat baik terhadap tetangga bisa diaplikasikan dengan saling berkunjung, saling perduli dan menolong ketika ada yang tertimpa musibah, saling memperhatikan hak serta saling menasihati hal-hal yang baik dan lain sebagainya. Banyak cara untuk menciptakan kelanggengan bersilaturrahmi, di antaranya yang paling mulia adalah shalat berjamaah di mesjid-mesjid yang tersedia.

Dalam hal ini tidak sedikit orang yang tidak menyadari bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah salah satu kunci pembuka jalan menuju surga. Simak kisah Aisyah dalam hadits riwayat al-Bukhari ketika mendengarkan penjelasan Rasulullah SAW tentang agungnya memperhatikan hak tetangga dan tentang keinginannya untuk menjadi orang yang memuliakan tetangga.

Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, maka siapakah yang harus aku dahulukan?” Beliau menjawab : “Tetangga yang lebih dekat pintunya. “ (HR.Bukhari).

Bisa jadi karena jarangnya melakukan jalinan persaudaraan melalui silaturrahmi yang merupakan sunnah nabi, sehingga kita tidak mengetahui berapa banyak tetangga yang tengah berhadapan dengan kesulitan dan menunggu uluran tangan.

Atau mungkin juga karena ketertutupan hati untuk mau perduli terhadap tetangga yang tengah dilanda oleh kesulitan, maka bukalah meskipun hanya sedikit saja, sehingga dapat menyejukan keberadaan dan perasaan yang dialami tetangga.

Silaturrahmi merupakan sarana untuk membuka keperdulian kita kepada sesama. Abu Ayyub ra. berkata bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah : “Ceritakanlah kepada saya tentang amal perbuatan yang bisa memasukan saya ke sorga?” Beliau bersabda : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dirikanlah Shalat, tunaikan zakat dan bersilaturrahmilah dengan sesama kerabat.”

Karena sedekah bukan saja berupa harta, jikalau tidak mampu maka petuahpun akan sangat bermanfaat. Hidup berhiasakan akhlak terpuji akan menghadirkan segalanya bisa menjadi indah. Mudah-mudahkan kita akan selalu ada di dalamnya. Amin.
Diterbitkan di: 28 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.