Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Hadits RIWAYAH DAN DIRAYAH

oleh: Bajangsasak    
ª
 
HADITS RIWAYAH DAN DIRAYAH
A. Pengertian Hadits
Hadits Menurut bahasa Arab berarti baru yakni Lawan kata dari al-qadim yang berarti lama. Sedangkan al-hadits menurut istilah, para ulama berbeda pandangan yang disebabkan perbedaan tujuan dari masing-masing ulama tergantung objek garapannyanya.
Menurut ulama hadits, sunnah adalah setiap sesuatu yang timbul dari nabibaik berupa perkataan, perbautan, ketetapan, sifat-sifat nabi atau perjalanan nabi baik sebelum kerasulan ataupun setelahmenjadi rasul.
Sedangkan al-sunnah menurut istilah ahli ushul adalah setiap sesuatu yang timbul dari nabi -yang selain al-qur’an dan alhadis¬¬- baik berupa perbuatan, perkataan, ketetapan yang layak dijadikan dalil untuk menggali hokum syar’i.
B. Macam-Macam Ilmu Hadits
Ilmu hadits terdapat dua macam tema pokok yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.
1. Hadits Riwayah
Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas tentang penukilan sesuatu yang disandarkan pada nabi yang meliputi perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat-sifat Nabi dengan melalui periwayahan yang benar serta analisa yang mendalam.
Dengan demikian, objek dari pembahasan ilmu hadis riwayah adalah perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat-sifat nabi SAW, Dilihat dari segi periwayahannya yang mendalam.
2. Hadits Dirayah
Ulama hadits berbeda dalam memberikan definisi ilmu hadsit dirayah, meskipun dari berbagai definisi itu ada kemiripan batasab-batasan definisi. Ilmu hadits dirayah adalah pembahasan masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan yang diriwayahkan, apakah bisa diterima atau ditolak.
Ibn Akfani berpendapat, ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang dapat mengetahui hakikat riwayah, syarat-syarat, macam-macam dan hokum-hukumnya, ilmu yang dapat mengetahui keadaan para rawi, syarat-syarat rawi dan yang diriwayahkannya serta semua yang berkaitan dengan periwayahannya.
Ulama lain berpendapat, ilmu hadits dirayah adalah ilmu undang-undang yang dapat mengetahui keadaan sanad dan matan. Definisi ini lebih pendek dari definisi di atas. Sedangkan definisi lain sebagaimana di sebutkan ibnu hajar, definisi paling baik dari berbagai definisi ilmu hadits dirayah adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dapat memperkenalkan keadaan-keadaan rawi dan yang diriwayahkan.
Berbagai definisi di atas banyak kemiripan, pada dasarnya semua definisi itu sama yakni pengetahuan tentang rawi dan yang diriwayahkan atau sanad dan matannya baik juga berkaitan dengan pengetahuan tentang syarat-syarat periwayahan, macam-macamnya atau hukum-hukumnya.
Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits terhadap ilmu hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. Pada mulanya pembahasan yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Kemudian muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan semuanya terangkum dalam satu nama, yakni ilmu hadits. Munculnya berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda. Berikut di antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu dirayah;
a. Ilmu Jarah Wa Al-Ta’dil
Ilmu ini membahas para rawi, sekiranya masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafad-lafad tertentu. Ini adalah buah ilmu tersebut dan merupakan bagian terbesarnya.
b. Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits
Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah para rawi layak menjadi perawi atau tidak. Orang yang pertama di bidang ini adalah al-bukhari (256 H). dalam bukunya thabaqat, ibn sa’ad (230 H) banyak menjelaskannya.
c. Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits
Iamam Nawawi berkata dalam kitab al-Taqrib, “ini adalah salah satu disiplin ilmu dirayah yang terpentinng.” Ilmu ini membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah bertentangan, namun ada kemumkinan dapat diterima dengan syarat. Jelasnya, umpamanya ada dua hadits yang yang makna lahirnya bertentangan, kemudian dapat diambil jalan tengah, atau salah satunya ada yang di utamakan.
Misalnya sabda rasulullah SAW, “tiada penyakit menular ” dan sabdanya dalam hadits lain berbunyi, “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari singa”. Kedua hadits tersebut sama-sama shahih. Lalu diterapkanlah jalan tengah bahwa sesungguhnya penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya. Akan tetapi allah SWT menjadikan pergaulan orang yang sakit dengan yang sehat sebagai sebab penularan penyakit.
Di antara ulama yang menulis tentang ilmu mukhtalaf al-hadits adalah imam syafi’I (204 H), Ibn Qutaibah (276 H), Abu Yahya Zakariya Bin Yahya al-Saji (307 H) dan Ibnu al-Jauzi (598 H).
d. Ilmu Ilal Al-Hadits
Ilmu ini membahas tetentang sebab-sebab tersembunyinya yang dapat merusak keabsahan suatu hadits. Misalnya memuttasilkan hadits yang mungkati’, memarfu’kan hadits yang maukuf dan sebagainya. Dengan demikian menjadi nyata betapa pentingnya ilmu ini posisinya dalam disiplin ilmu hadits.
e. Ilmu Gharib Al-Hadits
ilmu ini membahas tentang kesamaran makna lafad hadits. Karena telah berbaur dengan bahasa arab pasar. Ulama yang terdahulu menyusun kitab tentang ilmu ini adalah abu hasan al-nadru ibn syamil al-mazini, wafat pada tahun 203 H.
f. ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits
ilmu nasakh wa al-mansukh al-hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang hukumnya tidak dapat dikompromikan antara yang satu dengan yang lain.yang dating dahulu disebut mansukh (hadits yang dihapus) dan yang datang kemudian disebut nasikh (hadits yang menghapus).
Pengetahuan ilmu tentang nasikh mansukh ini merupakan ilmu yang sangat penting untuk dan wajib dikuasai oleh seorang yang akan mengkaji hokum syariat. Sebab tidak mungkin bagi seseorang yang akan membahas tentang hokum syar’I sementara ia tidak mengenal dan menguasai ilmu tentang nasikh mansukh.
Al-hazimi berkata: disiplin ilmu ini (nasikh mansukh) termasul kesempurnaan ijtihad. Karena, rukun yang paling penting dalam beriitihad adalah pengetahuan tentang penulilan hadits, dan sedangkan faidah dari pengetahuan tentang penikilan adalah pengetahuan tentang nasikh dan mansukh.
Nasikh adalah yang menghapus atau membatalkan. Kadang-kadang nasikh ini di lakukan oleh nabi sendiri, seperti, sabdanya, “Aku pernah melarang ziarah kubur, lalu sekarang berziarahlah, karena itu akan mengingattkanmu pada akhirat.”

Diterbitkan di: 04 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pngarang ilmu hadist diroyah Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mau bertanya : apa dalil perintah untuk mempelajari hadits..? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Baca QS al-Hasyar ayat 7. Di sana kita diperintahkan menerima (mengikuti) apa2 yg disampaikan Rasul, tentunya termasuk hadis ini. Selain itu hadis adalah dasar kedua setelah al-Qur'an dalam memahami Islam 27 Agustus 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah pengertian jarah dan tadil menurut bahasa dan istilah? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    siapa maha guru ulumul hadis ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Imam syafi'i 21 Nopember 2011
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa hadits dhoif itu jarang di buat pegangan sama ulama hadits?? padahal kan sama-sama datang dari rosull ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Hadis dikatakan dhaif karena diriwayatkan oleh orang yang kurang dhabit (lemah ingatannya), kurang adil (biasa berbuat dosa kecil) dikhawatirkan hadis tsb mengalami perubahan atau rawinya salah memahami dari apa yang disabdakan Rasul. Krn hadis mulai muncul sampai masa ditulis melalui masa yg sangat panjang. Jadi itulah bentuk kehati2an ulama' 27 Agustus 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pengertian hadis riwayah dan hadis diroyah Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.