Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian maslahah

oleh: Sejathi    
ª
 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan maslahah dengan "Sesuatu yang mendatangkan kebaikan (kemaslahatan, dsb.) faidah atau guna". Jadi kemaslahatan adalah kegunaan, kebaikan, manfaat, dan kepentingan.
Kata maslahah dialihkan dari bahasa arab "al-maslahah" yang berawal dari kata dasar صاح-يصلح yang bisa berarti kebalikan fasada (kerusakan), wafaqa (sesuai, relevan), تحسن menjadi lebih baik atau nafa`ulama (bermanfaat). Al-maslahah juga bisa berarti "kedamaian". Allah berfirman,
...وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا... {البقرة: ‌٢٢٨}
Artinya: "...Dan suami-suami mereka lebih berhak untuk kembali (rujuk) pada mereka, kalau suami-suami tersebut menghendaki rekonsiliasi, kedamaian..."
Dengan demikian, kata maslahah menunjuk pada arti mafaat hendak diwujudkan, guna meraih kebajikan atau suatu hal yang lebih baik dalamkehidupan umat manusia. Setiap hal yang mengandung manfaat adalah maslahah, baik dalam upaya mewujudkannya melalui usaha meraihnya (jalbu al-mashalih) atau menghindarkan hal yang menyebabkan kerusakan (dar`untuk al-mafasid).
Dalam terminologi Ushul Fiqh, para ushuliyyun mengemukakan definisi beragam, namun memiliki dan substansi yang sama. Al-Ghazali (w. 505 H) menyatakan ungkapan sebagai berikut,
الْمَصْلَحَةُ فَهِيَ عِبَارَةٌ فِي الْأَصْلِ عَنْ جَلْبِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ ، وَلَسْنَا نَعْنِي بِهِ ذَلِكَ ، فَإِنَّ جَلْبَ الْمَنْفَعَةِ وَدَفْعَ الْمَضَرَّةِ مَقَاصِدُ الْخَلْقِ وَصَلَاحُ الْخَلْقِ فِي تَحْصِيلِ مَقَاصِدِهِمْ ، لَكِنَّا نَعْنِي بِالْمَصْلَحَةِ الْمُحَافَظَةَ عَلَى مَقْصُودِ الشَّرْعِ وَمَقْصُودُ الشَّرْعِ مِنْ الْخَلْقِ خَمْسَةٌ : وَهُوَ أَنْ يَحْفَظَ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ وَنَفْسَهُمْ وَعَقْلَهُمْ وَنَسْلَهُمْ وَمَالَهُمْ ، فَكُلُّ مَا يَتَضَمَّنُ حِفْظَ هَذِهِ الْأُصُولِ الْخَمْسَةِ فَهُوَ مَصْلَحَةٌ ، وَكُلُّ مَا يُفَوِّتُ هَذِهِ الْأُصُولَ فَهُوَ مَفْسَدَةٌ وَدَفْعُهَا مَصْلَحَةٌ.
Dalam penggalan ungkapannya, al-Gazali dengan tegas menyatakan bahwa kemaslahatan yang dimaksud adalah melindungi apa yang dikehendaki (maksud) syari` (Allah dan Rasul-Nya). Sedangkan tujuan syari` tidak lain adalah melindungi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta makhluk-Nya. Maslahah yang dimaksu al-Gazali bukan kemaslahatan yang dipersepsikan akal manusia. Sebab maslahah model ini semata-mata berorientasi pada meraih tujuan-tujuan sesaat manusia, tidak berorientasi pada pencapaian kemaslahatan abadi, kemaslahatan akhirat di kemudian hari. al-Gazali ingin memadukan antara keduanya, walaupun kadang bobot perhatiannya terhadap kemaslahatan ukhrawi lebih menonjol.
Senada dengan al-Gazali, Imam al-Syathibi. Dalam ungkapannya al-Syathibi menyatakan,
فقد اتفقت الأمة بل سائر الملل على أن الشريعة وضعت للمحافظة على الضروريات الخمس وهي الدين والنفس والنسل والمال والعقل.
Selanjutnya al-Syathibi menegaskan,
لا يقال يلزم على هذا اعتبار كل مصلحة موافقة لمقصد الشارع أو مخالفة وهو باطل لأنا نقول لا بد من اعتبار الموافقة لقصد الشارع لأن المصالح إنما اعتبرت مصالح من حيث وضعها الشارع.
Tampak jelas dalam ungkapan al-Syathibi, bahwa tidak semua maslahah dapat dijadikan penetapan hukum. Maslahah yang dapat dijadikan pijakan adalah kemaslahatan yang telah ditetapkan syari` atau sejalan dengan tujuan-tujuannya; bukan kemaslahatan yang nyata-nyata berlawanan dengan kehendak syari`.
Al-Thufi memberikan definisi maslahah kedalam dua kategori; maslahah dalam pandangan `urf dan maslahah dalam pandangan syar`i. Ia mengatakan,
وأما حدها بحسب العرف فهي السبب المؤدي الى الصلاح والنفع كالتجارة المؤدية الى الربح وبحسب الشرع هي السبب المؤدي الى مقصود الشارع عبادة اوعادة ثم هي تنقسم الى ما يقصده الشارع لحقه كالعبادات والى ما يقصده لنفع المخلوقين وانتظام احوالهم كالعادات.
Artinya: "Maslahah dalam pandangan `urf (tradisi masyarakat) adalah sarana yang mengantarkan pada kedamaian dan manfaat, seperti perdagangan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan, dan dalam pandangan syari` adalah sarana (sebab) yang mengantarkan pada tujuan syari`, baik sarana itu berupa ibadah, maupun tradisi masyarakat. Selanjutnya maslahah terbagi menjadi dua, yaitu maslahah yang dikehendaki syari` untuk kepentingannya, seperti ibadah. Dan maslahah yang dimaksudkan syari` untuk memberikan manfaat pada penduduk bumi dan ketentuan perjalanan hidup mereka."
Al-Thufi tidak menjelaskan lebih lanjut kemaslahatan kategori mana yang dapat dijadikan sumber hukum. Namun demikian, dari konsep kemaslahatan yang ia ajukan, dapat dibaca dengan jelas bahwa dua kategori yang ia maksudkan dapat dijadikan sumber hukum yang sah walaupun dalam dua kategori syari`ah yang berbeda, syari`ah dunyawiyah dan syari`ah ukhrawiyah (ta`abbudiyah).
Al-Khawarismiy (492-568 H) mendefinisikan maslahah dengan definisi cukup singkat,
المصلحة هي المحافظة على المقصود الشرع بدفع المفسدة عن الخلق.
Artinya: "Maslahah adalah melindungi tujuan syar`iy dengan cara menghindarkan terjadinya kerusakan dari kehidupan manusia."
Diterbitkan di: 09 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kalo kemaslahatan dalam agama, jiwa, akal, keturunan, harta dan kehormatan. Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.