Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Hukum-HUKUM TALAK

oleh: Sejathi    
ª
 
HUKUM-HUKUM TALAK
Para Ulama’ sepakat bahwa hukum asal talak adalah dilarang (al-hadr) kecuali karena hajat (kebutuhan). Sementara bila tidak ada hajat mereka sepakat tidak membolehkannya, karena talak merupakan salah satu bentuk kufur pada nikmat Allah dimana perkawinan adalah nikmat diantara nikmat-nikmatnya. Diantara dharurat yang membolehkan talak adalah suami meragukan baiknya perangai istri, atau dia sudah tidak mencintainya lagi dan hajat lainnya yang dipandang layak dijadikan alasan untuk menjatuhkan talak.
Ditilik dari kemaslatan atau kemudharatannya, hukum talak ada empat :
1. Wajib
yaitu talak yang terjadi disebabkan Syiqaq (peselisihan, pertengkaran, percekcokan) antara suami istri sehingga memerlukan dua orang hakam (pendamai) jika kedua hakam tersebut memandang bahwa perceraian jalan yang terbaik bagi mereka, maka wajiblah talak, dan begitu pula talak orang yang bersumpah ila’ setelah berlalu masa menungu selama empat bulan.
2. Haram
yaitu talak yang dilakukan tanpa tuntutan. Bahwa talak tersebut haram dilakukan karena dapat menimbulkan mudharat pada istri dan juga pada dirinya sendiri, dan meniadakan manfaat yang terjagi pada keduanya. Talak Semacam ini haram hukumnya sama dengan tindakan merusak harta. Hal ini didasarkan pada sabda Rosul yang diriwayatka Ibnu Abbas.
لاضررولاضرار
“ Tidak boleh memudharatkan pada diri sendiri dan tidak boleh membalas kemudharatan dengan kemudharatan lain”.
3. Mubah
yaitu talak dilakukan karena ada kebutuhan, misalnya : karena buruknya akhlaq istri, atau jelek pergaulannya atau mendatangkan mudharat pada dirinya dan menjauhkan dari tujuan perkawinan.
4. Sunnah
yaitu talak yang dilakukan karena istri mengabaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya, seperti : shalat, puasa dan kewajiban lainnya, sedangkan suami tidak sanggup lagi untuk memaksanya, atau istrinya sudah tidak menjaga kehormatan dan kesucian dirinya (qairu ‘afifah).
Dan bisa jadi talak dalam kondisi seperti ini dihukumi wajib. Hal itu sebagimana dalam hadist dari Ibnu Abbas, ia bercerita “ Ada seorang laki-laki yang datang pada Nabi dan mengatakan : Sesungguhnya istriku tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya. Maka beliau bersabda : ceraikanlah ia, lalu orang itu berkata : aku masih mencintainya, kemudian beliau bersabda : bersenang-senanglah dengannya
Diterbitkan di: 29 Januari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana talak itu di ajukan oleh ibu mertuanya ..apa hukum talak tersebut jika yang menceraikan perkawinan adalah ibu mertuanya...???? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pengertian hukum alam Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bila d jatuhkan talak 1 tpi msh brhubungan lalu istri meminta mencabut talak 1 nah,,,ge mn penjelasan nah,,,, Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana kalau talak dilakukan berdasarkan perasaan tidak suka lagi terhadap pasangan hidupnya Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.