Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Manusia Yang Berintegritas

oleh: wentjes     Pengarang : Timotius Arifin Tedjasukmana
ª
 
Berapa nilai sebuah janji? Berapa harganya? Tergantung siapa yang berjanji! Yang berjanji kepada kita adalah Allah yang tidak dapat berdusta. Dalam membangun masyakat mesianik ini kita juga menekankan integritas. Apa sebenarnya integritas itu? Gampangnya saja, integritas itu sama dengan “aslinya orang”.

Ada orang yang berjanji kepada saya dan ternyata meleset. Saya sadar bahwa saya memilih orang yang salah. Memang kalau orang mau jualan lidahnya licin seperti mentega. Banyak mengobral janji. Tetapi hasilnya kosong.
Marilah kita melihat Matius 1:1 dan Matius 1:18-25. Ada 3 pria yang disebutkan di sana:
Pertama adalah Abraham. Dia disebut “the friend of God” (teman Allah) sekitar 4000 tahun yang lalu. Namun dalam sebuah peristiwa dia tidak mau mengakui Sarai sebagai istrinya di hadapan Firaun (Kej. 12:10-20). Hal ini diulangi lagi saat berhadapan dengan Abimelekh, di mana dia melakukan hal yang sama: tidak mengakui Sarai sebagai istrinya melainkan saudaranya (Kej. 20).
Kedua adalah Daud. Dia disebut “a man after God’s own heart” (orang yang berkenan di hati Allah). Namun dalam suatu peristiwa, dia melakukan siasat licik dan jahat, di mana saat itu ia mengingini Batsyeba, dan membunuh suaminya.
Ketiga adalah Yusuf. Dia adalah “A man of integrity.” (orang yang berintegritas). Dalam Mat. 1:19 dikatakan, “Karena Yusuf suaminya, SEORANG YANG TULUS HATI [BEING A JUST MAN] dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Mat. 1:19).
Kita sering berpikir tentang “doing” (melakukan), namun Kerajaan Allah sebenarnya mengenai “being” (menjadi). Maksudnya adalah menjadi orang yang tulus hati.
Kata asli dari just (tulus hati) adalah “dikaios”. Inilah terjemahan dari “a man of integrity”. Orang seperti ini tidak mempermalukan istrinya di depan umum. Tugas suami itu ada 3 P: pertama, to Provide (menyediakan); kedua, to Protect (melindungi); ketiga, to Promote (mempromosikan). Dalam diri Yusuf kita melihat 3 P ini digenapi. Saat dihadapkan pada kenyataan bahwa tunangannya, Maria, hamil karena Roh Kudus, ia tidak pernah mencemooh, menyebarkan berita buruk, apalagi menceraikan tunangannya itu, sebab ia tahu bahwa ini dari Tuhan datangnya. Yusuf menyimpan perkara ini di dalam hatinya. Dia mendukung Maria sepenuhnya dan mencintainya dengan segenap hatinya.
Mengapa Yusuf dan Maria juga bisa menjadi orang benar? Karena ia mendapatkan anugerah Tuhan.
Ada seseorang yang datang kepada saya dan selalu menceritakan keburukan istrinya. Setiap kali bertemu saya, dia selalu melakukan hal yang sama. Akhirnya saya tidak tahan dan berkata “Stop! Jangan berbicara lagi mengenai keburukan istrimu!” Mengapa saya berteriak seperti itu? Sebab seorang pria sejati akan melakukan 3 P seperti di atas.
Hari ini kita menjadi Yusuf sebagai contoh untuk hidup kita. Lalu apa kriteria Yusuf?
Pertama, dia adalah orang berpusat pada Kristus (Christ centered man). Hamba Tuhan seharusnya mempunyai titel CCM ini. Inilah kehidupan yang benar. Kristus harus menjadi perhatin utama kita. Apapun yang kita lakukan haruslah Kristus yang diutamakan dan dimuliakan. Yusuf memikirkan kepentingan Allah, karena ketika diberitahu mengenai rencana Allah terhadap kehamilan Maria, ia taat dan tetap melaksanakan niatnya untuk menikahi Maria, dan tidak memutuskannya.
Kedua, dia adalah orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Orang seperti ini tidak memikirkan diri sendiri saja, melainkan orang lain juga. Yusuf juga tidak mementingkan dirinya sendiri. Saat ia mendapatkan berita mengenai kehamilan tunangannya tersebut, bisa saja ia memutuskan secara diam-diam karena ini akan mempermalukan bukan hanya Maria, tetapi juga dirinya sendiri. Namun itu tidak dilakukannya.
Ketiga, dia orang yang memegang janji. Banyak orang yang suka mengobral janji namun juga mengingkarinya. Kita begitu mudah mengucapkan kata-kata, namun tidak memegangnya. Pagi ini saya sebenarnya saya mengalami gangguan pencernaan dan harus bolak-balik buang air besar, namun saya akhirnya berdiri di sini dan menyampaikan firman Tuhan karena saya mau menjadi orang yang memegang janji. Kita juga mau menjadi orang yang berintegritas. Jadilah seperti Yusuf. Jadilah orang yang berintegritas.
Diterbitkan di: 27 Agustus, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.