Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Ilmu Agama>Puasa Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual

Puasa Melejitkan Kecerdasan Emosi dan Spiritual

oleh: vistawacana     Pengarang : Cipto Sembodo
ª
 
Setiap bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan untuk ber-puasa. Sebenarnya apa pengertian puasa ditinjau dari perspektif ilmu-ilmu sosial? Sering kita dengar, tujuan puasa adalah taqwa dan puasa itu menyehatkan. Bagaimanakah semua itu dan meletakkan semua atribut keagamaan itu agar relevan secara sosial serta memberikan kontribusi positif dan nyata?

Salah satu upaya itu dapat dijelaskan dengan perspektif integrasi dan interkoneksi ilmu-ilmu sosial dan teks-teks normative keagamaan. Dalam konteks bulan Ramadhan, maka puasa yang secara fiqh disebut ibadah ternyata mampu melejitkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Bagaimanakah hal ini terjadi. Beberapa paragraf di bawah ini berusaha menjelaskan hikmah besar dibalik rukun Islam yang ke-empat itu.

Puasa adalah Ibadah Tanpa Bentuk

Puasa secara Syar'i adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, yaitu makan, minum dan semacamnya dan pemenuhan nafsu dan kebutuhan biologis sex, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. (Al-Baqarah 187). Sedangkan ketentuan hari-harinya selama satu bulan penuh disebutkan pada surat yang sama ayat 185.

Pengertian puasa sebagai menahan diri ini tentu saja seiring dengan pengertian bahsanya. Dalam bahasa Arab, Shiyam atau Shaum berarti menahan diri, mengekang, menjaga. Dalam pengertian longgar mungkin lebih tepat diartikan "mengelola". Bukankah menahan diri untuk tidak berbicara juga disebut "puasa bicara?" Tentang puasa bicara, menahan diri dari tidak berbicara, al-Qur'an juga menyebutnya dengan istilah Shaum. Ini terjadi pada kasus Ibunda Nabi Isa , seperti diceritakan dalam surat Maryam ayat 26.

Jelas dari pengeritan di atas bahwa puasa itu ibadah tanpa bentuk. Maksudnya bukan tidak ada bentuknya, tetapi bentuknya tidak kasat mata, tidak dapat dilihat, diraba, disentuh, dicium dan didengar dengan panca indra. Mengapa ? karena ditilik secara praktis-amalan yang dikerjakannya, puasa bukanlah kata-kata atau do'a. Bukan pula sebentuk gerakan-gerakan tertentu semacam shalat, dzikir. Puasa juga tidak menggunakan materi sebagai medianya seperti zakat atau sodaqoh.

Tetapi disitulah terletak keistimewaan puasa. Karakteristik "non-verbal" dan "tak-kasat mata" dan tak berbentuk inilah yang menjadikan puasa efektif sebagai metode atau terapi Ilahi untuk pendidikan dan character bulding manusia. Sebab, puasa tidak dapat dipamerkan dan dijadikan ajang atau media menampakkan kesalehan religius atau mempertontonkan keberislaman semu di muka publik atau terhadap orang lain sekalipun. Di sinilah maksud hadits Qudsi Nabi SAW. riwayat al-Bukhari bahwa puasa itu bersifat private. "Setiap amal anak adam itu adalah milik ia sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku (Allah swt), dan Aku (Allah swt)-lah yang akan membalasnya.

Taqwa dan Kecerdasan Emosional-Spiritual (Taqwa dan ESQ)

Puasa adalah rukun/pilar Islam yang ke-empat. Keberislaman seseorang tidak akan tegak tanpa puasa. Begitu penting puasa, hingga diwajibkan oleh Allah swt sendiri dalam surat al-Baqarah 183 maupun Rasulullah saw.dalam hadits rukun Islam.

Letak pentingnya puasa sesungguhnya berada pada diri pelakunya sendiri. Dalam Qur'an disebutkan, puasa bertujuan agar kalian menjadi bertaqwa. Menjadikan artinya memproses, mengolah diri dan jiwa yang berpuasa menjadi berkepribadian taqwa. Jadi taqwa adalah "kualitas" kepribadian, atau pribadi yang berkualitas.Makna kualitas ini tampak dalam ciri-ciri orang yang bertaqwa (muttaqin) seperti disebutkan dalam Qur'an, misalnya surat al-Baqarah ayat 1-5 dan Ali-'Imran ayat 133-136.

Pada suarat al-Baqarah ciri-ciri muttaqin yaitu percaya pada hal-hal ghaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rizqi-Nya. Setelah itu adalah orang yang membenarkan kitab-kitab sebelum al-Qur'an serta percaya pada hari akhirat. Senada dengan itu, surat Ali 'Imran menandai orang bertaqwa adalah mereka yang berinfaq/tetap memberi dikala susah, sempit maupun dikala lapang dan senang, mampu manahan amarahnya dan memberi maaf kepada manusia yang berbuat salah kepadanya. Disambung setelah itu dengan ingat kepada Allah swt dan segera bertaubat tidak mengulangi perbuatannya yang keji dan berhenti menganiaya/merugikan diri sendiri.

Kedua suat itu ternyata sama-sama menyebutkan untuk tetap berinfaq atau memberi, menyisihkan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan baik di kala sempit maupun di kala lapang, mampu menahan amarah dan memaafkan. Bagi seorang Muslim, ini haruslah dimaknai untuk tetap dan senantiasa berbagi "materi", tidak kikir kepada kaum papa dan mereka yang tidak berpunya dalam kondiri apapun. Pada saat yang sama tidak gampang marah, lepas kendali karena marah dan pemaaf.

Perintah dan karakter moral religious seperti itu memang mudah diucapkan. Tapi jelas membutuhkan kemampuan dan pembiasaan, latihan lebih untuk melaksanakannya. Pertama membutuhkan daya intelektual untuk memahami dalam jangka panjang dan strategis bahwa mampu manahan amarah artinya mengelola emosi agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Dan berbagi materi artinya adalah berbelas kasihan. Lebih dari itu juga membutuhkan kematangan emosional. Tetapi di atas kedua kecerdasan intelektual dan emosional itu diperlukan kecerdsan spiritual untuk mempertahankan keajekannya, kontinuitasnya. Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memandu dan menemukan makna hakiki kehidupan dan perbuatan kita di dalamnya, sehingga tidak kecewa di saat-saat sulit serta mampu mempertahankan kebiasaan positif dan humanis itu.

Nah, puasa, dengan karakteristiknya yang non-verbal dan kasat mata itulah yang akan mengantarkan pelakunya mempunyai kepribadian berkualitas atau bertaqwa ini. Bukankah dengan puasa kita diajari untuk ikhlas, tidak pamer ibadah apalagi kemegahannya?Bukankah dengan tidak makan-minum secara sosial kita sebenarnya diajari untuk ikut merasakan, berempati terhadap penderitaan orang lain? Puasa mengajari kita untuk konsisten terus menerus berbuat kebajikan. Semuanya tentu sangat efektif karena dibungkus dengan pahala Ramadan. Wallahu a'lam.


Diterbitkan di: 27 Juli, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kenapa kita di wajibkan untuk berpuasa Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. Fakhriza Anfaza

    Smart Fasting

    Puasa Islam adalah puasa smart dan "mencerdaskan".Banyak orang susah-susah lapar dan harus berpuasa, tapi tak bernilai . Niat ikhlas dan ketundukan diri kepada Allah swt yang dinilai.ikhlas harus mengalir pada perilaku sosial pelakunya terhadap lingkungannya.

    0 Nilai 28 Juli 2010
X

5 Teratas

.