Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Adab-Adab Seorang Murid

oleh: verarl     Pengarang : Abu Hafsa al-Nisaburi
ª
 
Adab-adab Seorang Murid

Abu Hafsa al-Nisaburi mengatakan: "Sufism terdiri dari adab (kelakuan baik). Untuk setiap keadaan dan tingkat terdapat adab yang sesuai (dengan tingkat dan keadaan itu). Untuk setiap waktu terdapat kelakuan yang sesuai. Barangsiapa mempertahankan adab akan mencapat Maqam Insan Kamil, dan barangsiapa meninggalkan adab akan dijauhkan dari keterterimaan ke dalam Hadhirat Allah."
Adab (Kelakuan baik) dari murid sesungguhnya tiada batasnya. Dia hendaknya selalu berusaha keras (jihad) dan membuat kemajuan dengan Gurunya, dengan sesama saudaranya, dengan masyarakatnya, dan dengan Bangsanya, karena Allah selalu memperhatikan dia, Nabi (s.a.w.) selalu memperhatikan dia, Guru selalu memperhatikan dia, dan para Guru-Guru yang telah mendahului mereka selalu memperhatikan mereka. Dengan kemajuan yang tetap, hari demi hari, dia akan mencapai keadaan kesempurnaan dengan petunjuk dan bantuan Gurunya.
Adab dalam tarekat adalah merupakan suatu ajaran yang sangat prinsip, tanpa adab tidak mungkin seorang murid dapat mencapai tujuan suluk-nya. Secara garis besar adab oleh seorang murid ada empat, yaitu adab kepada Allah dan Rasul-Nya, adab kepada Syekh (Mursyid atau gurunya), adab kepada diri sendiri dan adab kepada Ikhwan ( Sudara seiman ).

1. Adab kepada Allah dan Rasul-Nya,
Adalah senantiasa mensyukuri semua pemberian Allah di setiap waktu dan kesempatan, bahkan harus senantiasa menjaga kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya dan selau mengingat Nya serta Rasul Nya. Sebagai pencari tahap awal tentu saja belum dapat melakukan hal ini, untuk itu di perlukan bimbingan mursyid dan jika kelak telah memperolehnya maka wajib baginya mempertahankan adab ini.

2. Adab kepada Syekh (Mursyid atau gurunya ),
Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi menyebutkan bahawa adab-adab yang perlu diperhatikan dan dijaga oleh seorang murid terhadap syeikhnya adalah banyak , namun yang terpenting ialah seorang murid tidak boleh sesekali menentang syeikhnya, sebaliknya ia mempercayai, menghormati, membesarkan, dan mencintai kedudukan syeikhnya itu lahir dan batin. Seterusnya ia tidak boleh memperkecilkan kedudukan syeikh, apalagi mencemoohnya di hadapan atau di belakangnya. Salah satu yang mesti diyakini oleh seorang murid ialah segala maksud dalam suluknya hanya akan tercapai kerana petunjuk dan bimbingan syeikhnya. Oleh sebab itu, jika ia terpengaruh dengan pandangan guru yang lain selain syeikhnya menyebabkan ia akan jauh dari syeikhnya dan akan gagal menerima limpahan cahaya dari syeikhnya. Maka sebagai seorang murid sewajarnya ia memerhatikan dengan bersungguh-sungguh tentang beberapa adab terhadap syeikhnya. Dengan tujuan untuk mendapatkan Keridhaan Allah SWT, bagaimana mungkin Tuhan akan bisa Ridha kalau kita dimurkai oleh kekasih-Nya?
Bahkan seorang murid pun harus siap mematuhi perintah mursyid sekalipun nyawa taruhannya. Seandainya menurut pandangan batin syeikhnya, seorang murid harus dikubur hidup-hidup 24 jam sehari semalam adalah lebih baik untuk perkembangan spiritual atau jiwa murid di dalam mendekat kepada Allah SWT, atau mungkin syeikhnya meminta untuk mengorbankan nyawa demi kebaikan umat Islam se dunia seorang murid harus mati di tiang gantungan. Itulah maksud dari menghormati, membesarkan dan mencintai mursyid lahir dan batin. Seperti Sunan Kalijaga dengan setia menjaga amanah mursyidnya, menjaga tongkat dalam waktu yang lama, dengan itulah beliau menjadi wali dan ketika syekh Bustami naik haji dengan mursyidnya dengan memakai kapal laut. Ketika kapal telah berlayar tiba-tiba mursyidnya teringat tas yang tertinggal di dermaga. Kemudian beliau menyuruh muridnya (Syekh Bustami) untuk mengambil tas itu. Langsung saja Syekh Bustami lompat kedalam laut tanpa pikir panjang. mursyidnya mengiringi dengan azan. Belum selesai mursyinya azan, beliau sudah kembali lagi ke kapal dengan membawa tas yang tertinggal.

Untuk menjaga hubungan baik terhadap mursyidnya sesungguhnya adab terhadap mursyid banyak dan dapat dibaca pada ringkasan “Adab Murid kepada Mursyid” sebagai pedoman murid , karena menurut Abu Hafsa al-Nisaburi “Barangsiapa mempertahankan adab akan mencapai Maqam Insan Kamil, dan barangsiapa meninggalkan adab akan dijauhkan dari keterterimaan ke dalam Hadhirat Allah”.

Karena keterbatasan jumlah kata maka adab ketiga dan keempat untuk diri sendiri dan ikhwan (saudara seiman) bisa anda lihat di ringkasan “Adab Untuk Diri Sendiri dan Saudara Seiman”. Mohon maaf atas keterbatasannya. Anda pun dapat pula membaca "Ciri-Ciri Wali yang Mursyid" yang alhamdulillah telah selesai kami rampungkan.

Diterbitkan di: 08 Agustus, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.