Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Filsafat>Arti Sekuler, Sekularisme, dan Sekularisasi

Arti Sekuler, Sekularisme, dan Sekularisasi

oleh: 3handoyo     Pengarang : 3handoyo
ª
 
Kita sering mendengan kata sekuler, Islam sekuler , dsbnya tanpa mengetahui makna kata sekuler yang sebenarnya. Kata sekuler (secular) berasal dari bahasa latin: saeculum, yang mengandung makna waktu dan tempat (ruang). Dalam artian waktu ia bermakna ‘sekarang’, sedang dalam artian ruang ia berarti ‘duniawi.’ Dari situ, saeculum bermakna ‘zaman kini’ atau ‘masa kini’.

Pengagungan akan masa kini berikut segala ‘pencapaiannya,’ adalah dipandang sebagai buah dari pembebasan manusia dari kungkungan metafisika (agama). Oleh karena itu, secara ideologis, sekular didefinisikan sebagai “pembebasan manusia pertama dari agama, dan kemudian dari kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya.” (Cornelis Van Paursen). Ia adalah “defatalization of history, yaitu pembebasan manusia dari faham fatalistik yang pernah mendominasi sejarah lampau mereka, dengan mengubah pandangan dan orientasi mereka dari hal-hal yang metafisik menuju dunia dan zaman kekinian.” (Harvey Cox, The Secular City).

Dalam perkembangannya, sekuler dibedakan menjadi sekularisme dan sekularisasi. Dimana sekularisme adalah sebuah faham tertutup yang menganut dan memutlakkan nilai-nilai sekular di atas. Sedang sekularisasi adalah sebuah proses sekular yang berkelanjutan (terbuka), yang terus berlangsung seiring perkembangan zaman (relativisme). Oleh karenanya sekularisasi memusuhi sekularisme, karena menganut faham kemutlakan nilai sebagaimana halnya agama-agama.

Penekanan pada aspek proses ini, adalah pengaruh dan kelanjutan dari ‘filsafat proses’ yang didengungkan antara lain oleh Whitehead, hukum tiga fasenya Comte, dialektikanya Hegel, yang seluruhnya bermuara pada teori evolusi Darwin. Dengan kata lain, filsafat proses adalah identik dengan sekularisasi.

Itu terlihat jelas dari pernyataan Cox: “Hasil akhir dari sekularisasi adalah relativisme kesejarahan. Oleh karena itu sejarah adalah suatu proses sekularisasi” (Harvey Cox, The Secular City)

Adapun pemisahan antara negara dan agama, demokrasi sekuler, toleransi, pluralisme, ia adalah alat atau mekanisme untuk mewujudkan iklim sekular itu.
Diterbitkan di: 03 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    ad hoc Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.