Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian neo-sufisme

oleh: irzu     Pengarang : arrosikhni
ª
 
Istilah neo-sufisme pertama kali dimunculkan oleh pemikir muslim
kontemporer Fazlur Rahman. Namun menurut Fazlur Rahman, neosufisme
itu sesungguhnya sudah pula di rintis oleh para ulama terdahulu,
seperti Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728 H) dan dilanjutkan oleh muridnya
Ibny al-Qayyim al-Jauzi. Maksud dari neo-sufisme adalah tipe ajaran
tasawuf yang terintegrasi dengan syariah.94
Sebelumnya Imam al-Ghazali juga dipandang sebagai tokoh utama
yang paling berhasil dan berjasa melakukan reformasi sufisme terdahulu.
Al-Ghazali berusaha melokalisasi dan membatasi fana sufisme yang
berlebihan serta mengurangi sifat keilmuwan sufisme. Menurut al-Ghazali,
untuk memperoleh pemahaman dan penghayatan keagamaan yang
mendalam, harus melalui orientasi esoteri terhadap konsep-konsep agama
sesuai dengan rumusan syari’at, hal ini terlihat dari karya monumentalnya
Ihya Ulum al-Din. Namun sepeninggal al-Ghazali, usaha ini terlihat
mengendor seirama munculnya gerakan spritualis massal dalam bentuk
tarikat dan munculnya sufisme falsafi.95
Di Indonesia juga ada gerakan lahirnya neo-sufisme, seperti yang
dilakukan oleh Hamka melalui Tas{awuf Moderen, walaupun di situ tidak
digunakan istilah neo-sufisme. Keseluruhan isi buku ini memperlihatkan
adanya kesejajaran prinsip-prinsipnya dengan tas{awuf al-Ghazali, kecuali
dalam masalah uzlah. Kalau al-Ghazali mensyaratkan uzlah dalam
penjelajahan menuju kualitas hakikat, maka Hamka justru menghendaki
agar seseorang mencari hakikat tetap aktif dalam berbagai aspek
kehidupan masyarakat.
Neo-sufisme atau reformasi sufisme memang dilakukan oleh
beberapa tokoh sufi. Al-Ghazali membatasi kefanaan sufisme yang
berlebihan seperti ditemui di kalangan sebagian sufisme falsafi.
Al-Ghazali lebih mengaitkan dengan shari>’at, di mana dalam berbagai
aktivitas syariat harus selalu diwarnai oleh unsur-unsur tas}awuf, seperti
kewaraan, kebersihan hati, kerendahan hati, menjauhi yang haram dan
syubhat dan lain-lain. Namun al-Ghazali oleh sebagian ahli dipandang
terlalu menonjolkan uzlah, hal inilah yang dikritisi oleh Ibnu Taimiyah.
Menurut Hamka, amatlah berbeda pandangan hidup Ibnu Taimiyah
dengan pandangan hidup Imam al-Ghazali, meskipun keduanya samasama
bertas{awuf. Tas{awuf al-Ghazali seakan-akan menolak hidup, takut
menempuh hidup, lalu menyisihkan diri sehingga kadang-kadang tidak
memperdulikan hal kiri kanan. Di kala al-Ghazali hidup, dunia Islam
sedang ditimpa malapetaka serangan kaum Salib. Beberapa negeri Islam
dibakar musnah dan ribuan penduduknya dibunuh, namun al-Ghazali
tenggelam dalam khalwatnya. Tetapi Ibnu Taimiyah ketika datang seruan
berjihad di jalan Allah langsung tampil ke medan perang, dialah yang
lebih dahulu mengambil pedang dan tombak, mengajar dan melatih orang
supaya bersama-sama mengorbankan jiwa raga mempertahankan agama.
Seorang sufi menurut Ibnu Taimiyah adalah seorang yang keras
menegakkan kebenaran. Tengah malam bangun bertahajud, siang hari
berusaha. Jika negara dalam keadaan bahaya oleh serangan musuh,
bersedia meninggalkan segala yang merintangi masuk ke dalam tentara.
Dapat dipahami bahwa neo-sufisme lahir guna meluruskan sufisme
terdahulu yang terlalu diwarnai unsur-unsur falsafi dan kaum sufinya
tenggelam dalam kegiatan-kegiatan ritual yang seakan melepaskan dirinya
dari syariat dan panggilan hidup duniawi. Di sisi lain, neo-sufisme juga
ingin memberi warna tas}awuf dalam kehidupan yang serba glamour dan
materialistis. Ciri-ciri neo-sufisme ini pada dasarnya masih terkait dengan
sufisme klasik yang muncul terdahulu. Hal ini dapat dilihat dalam rincian
berikut :
a. Kelahiran sufisme klasik dan kebangkitan neo-sufisme di motivasi
oleh faktor-faktor yang sama, yaitu gaya hidup glamour, materialistisk,
konsumeristik sebagai imbas kegarangan rasionalisme dan kekerasan
perebutan hegemoni kekuasaan.
b. Kesucian jiwa rohaniah, bahwa keduanya menekankan urgensi
kebeningan dan kesucian hati dalam segala aspek kehidupan.
c. Pendekatan esoteri, yaitu sama-sama berkeyakinan bahwa pemahaman
keagamaan harus dihayati melalui pendekatan esoteris, pengalaman
metafisis dan al-kasyf.
d. Dhikrullah dan muraqabah sama-sama penting untuk mencapai
keridhaan Ilahi.
e. Sikap uzlah, menurut neo-sufisme diperlukan sewaktu diperlukan saja
sekedar menyegarkan wawasan melalui muhasabah. Dalam sufisme
klasik dilakukan uzlah total.
f. Zuhd, menurut neo-sufisme kehidupan dunia tetap harus
diperjuangkan, tapi disesuaikan dengan kepentingan ukhrawi. Dalam
sufisme klasik dunia harus dibenci karena menghalangi pencapaian
tujuan hidup yang sempurna.
Jadi neo-sufisme berusaha membatasi hal-hal yang sifatnya uzlah
dan zuhd, supaya kehidupan dunia tetap diperjuangkan, namun harus
sejalan dengan kepentingan akhirat dan tuntutan syari'at.
Diterbitkan di: 15 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.