/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
line-heigh t:115%;
font-size:11.0pt;
font-family:" Calibri","sans-serif";
mso-bidi-font-family:"TimesNew Roman";}
Siapakah yang belum mengenal Abdul Hadi W.M., Arief Budiman,
Marga T, atau Mira W.? Abdul Hadi W.M, adalah penyair kesohor dengan
puisi-puisi reflektif-religius. Arief Budiman adalah tokoh budayawan yang ikut
membidani lahirnya Manifes Kebudayaan. Marga T adalah novelis produktif hingga
beberapa novelnya pernah difilmkan. Demikian juga dengan Mira W. novelis yang
handal dengan beberapa novel yang juga telah difilmkan. Mereka berempat hanya
sebagian penerus ‘sastrawan-budayawan peranakan Tionghoa’ yang telah mewarnai
sejarah sastra dan budaya Indonesia.
Leo Suryadinata, selaku penyunting buku Sastra Peranakan
Tionghoa Indonesia, mencoba menghadirkan
tokoh-tokoh sastrawan dan karya-karya mereka secara runtut dari tahun 1870
hingga 1966. Buku setebal 392 halaman itu terbagi menjadi dua bagian: kajian
umum dan kajian khusus.
Kajian umum menghadirkan 4 tulisan: 2 tulisan dibuat oleh
Leo Suryadinata dengan judul Dari Sastra Peranakan ke Sastra Indonesia dan
Cerita Silat Tionghoa di Indonesia: Ulasan Ringkas. Satu tulisan disajikan oleh
Jakob Sumardjo dengan judul Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa. Dan, satu
tulisan depersembahkan oleh Claude Salmon dengan menggarap judul Masyarakat
Pribumi Indonesia di Mata Penulis.
Kajian Khusus menghadirkan 4 kajian: 2 kajian dikerjakan
oleh Myra Sidharta, satu tulisan oleh Claude Siman, dan satu tulisan oleh
Monique Zaini Lajoubert. Claude Salmon menghadirkan kajian Asal-Usul Novel
Melayu Modern. Monique Zaini Lajoubert dengan mengupas Syair Cerita Siti
Akbari. Sedangkan Myra Sidharta menghadirkan kajian Kwee Tek Hoay: Pengarang
Serbabisa dan Tan Hong Boen: Pengarang Seribu Wajah.
Karya-karya kreatif Sastrawan Peranakan Tionghoa tidak hanya
beragam dalam bentuk tetapi juga dalam tema.
Mereka bukan hanya menerbitkan dalam bentuk buku tetapi juga dimuat
bersambung dalam majalah sastra yang mereka dirikan seperti “Penghidupan’ dan ‘Cerita
Roman’. Bahkan, sebelum sastra Indonesia lahir, Sastrawan Peranakan Tionghoa
telah menyodorkan novel-novel modern yang mengupas permasalahan kawin campur
antarsuku seperti karya Thio Cin Boen (1885-1940) dengan dua novel yang kesohor
Cerita Oey Se (1903) dan Cerita Nyai Sumirah (1917) yang tidak kalah
bernilainya dengan Azab dan Sengsara atau Sitti Nurbaya.
Karya sastra yang paling spektakuler ditulis oleh Kwee Tek
Hoay yang berjudul ‘Drama di Boeven Digul’ setebal 718 halaman. Sebelum
diterbitkan buku ini dimuat bersambung hingga memakan waktu 3 tahun: dari 1929
hingga 1931.
Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, karya Leo Suryadinata,
layak menjadi referensi pelajar dan mahasiswa hingga membuka cakrawala baru
tentang sejarah sastra dan budaya Indonesia. Sastrawan Peranakan Tionghoa
mempunya andil besar dalam pertumbuhan-perkembangannya.